Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Triple Z


__ADS_3

"Senang bisa bertemu lagi" Ujar Zed sambil tersenyum.


"Rasa khawatir ini akan selalu ada, jika gue nggak cepat mencari tahu keberadaan lo" Zed berkata dengan mata berbinar-binar.


Sudah lama, sejak keduanya terakhir kali bertemu. Beberapa pertanyaan berkelebatan di dalam kepalanya yang selama ini dipendam sebelum Zev dinyatakan tersesat dan menghilang.


"Apa dia merindukan gue selama ini?" Gumam Zevana.


"Apa gue mengalami halusinasi? Atau, itu ingatan tentang sebuah kisah klasik yang masih misteri? Kenapa gue masih ragu saat bertemu dengannya?" Tanya Zevana dalam hati.


"Lo masih meragukan kedatangan gue? Jujur ini bukanlah halusinasi, bukan pula ingatan semacamnya. Gue sengaja datang kesini buat nemuin lo Zev" Jawab Zedric.


"Jadi lo bisa dengar semuanya? Oh benar, gue baru ingat. Mungkin kita bicara masih dalam satu rangkaian cerita mimpi kan?" Sahut Zevana terisak tangis dan penuh harap.


"Ya lo lagi tersesat dalam mimpi sendiri, kita kesini buat jemput lo balik Zev. Sekilas terdengar lucu sih, tapi ini kenyataannya" Jawab Zedric.


"Entahlah, gue masih belum paham maksudnya" Sahut Zevana.


"Ah gini aja deh, lo pernah dengar kalimat mimpi yang jadi kenyataan?" Tanya Zedric.


"Ya pernah" Jawab Zevana sambil menganggukkan kepalanya.


"Begitulah kiranya" sahut Zedric tersenyum.


"Lihatlah apa yang gue bawakan buat lo. Ternyata udara dingin pun tak mampu menyembunyikan wajah cantik yang terlihat pucat" Ujarnya.


"Cantik?" Tanya Zevana tersenyum bahagia dengan pipi yang merah merona.

__ADS_1


"Perlukah gue mengulang kalimatnya? Biar lo makin yakin ucapan yang didengar" Sahut Zedric meyakinkan.


"Untuk merayakan kepulangan lo, gue udah siapkan beberapa kejutan yang berbeda pastinya" Ujar Zedric.


"Zed ini pertama kalinya gue diperlakukan istimewa" Ujar Zevana.


Zedric menatapnya penuh kehangatan, seketika segala keraguannya pun sirna, sebab ini sangat menyenangkan baginya. Bahkan Zed merengkuh tubuh Zevana, lalu didekapnya.


"Sadarkah jika ucapan Adnan itu benar? Zed menyayangi dengan ketulusan, sesuai harapan gue selama ini" Batin Zevana.


"Jangan bersikap nekat lagi Zev" Ujarnya sambil membelai rambut Zevana.


"Iya" Jawab Zevana singkat.


Dalam keadaan mata terpejam, kehadiran Zevana hanyut bersama deru angin di tempat itu dan tubuh Zedric mengingatnya. Ia masih disini untuk pada akhirnya mengalami sesuatu yang nyata.


"Zinta lo ada disini juga?" Tanya Zedric yang seketika tersadar ucapannya sendiri.


Ia menangkap bayangan Zinta dan terperangah beberapa saat, lalu terisak tangis tak terbendung.


"Maaf Zin, gue nggak bisa menepati ucapan sendiri. Ini bukan salah gue, semua ini salahnya Adnan! dia nggak bisa mengendarai mesin itu. Kenapa semua masalah harus gue yang nanggung? Kenapa?! Apa gue terlalu naif menjalankan peran ini? Tolong jangan menghantui rasa bersalah terlalu larut!! Jika masih ada waktu yang bisa dikejar, secepatnya gue akan mencari lo Zinta!" Teriak Zedric.


Selama tiga belas tahun, Zed yang sangat merindukan peran Zinta sejak lama. Lantaran hanya dengannya lah, ia bisa mengenang masa kecilnya yang sudah terjalin sangat dekat. Lalu kebenaran pun terungkap, ia memilih menjauh sebab ada alasan lain yang sangat membencinya.


"Kenapa gue mengulangi kesalahan yang sama?! Menyebalkan!" Gerutunya.


Kini Adnan menoleh kearahnya dari kejauhan, ingin rasanya tenggelam ke lautan dan membeku saat ini juga.

__ADS_1


"Sungguh dramatis" Ucap Adnan seraya menggeleng ngeri.


Tut


"Suara itu kan?" Tanya Adnan sendirian.


Untuk memastikan pendengaran, ia bergegas menuju sesuatu yang membunyikan asalnya suara.


"Dalam setiap detak, impuls atau gelombang elektrik bergerak melalui jantung. Syukurlah Zev selamat" Ucap Adnan dengan raut wajah bahagia.


Tak berlangsung lama, Zedric sudah terlihat berbalik arah dan menapaki jalan yang berselimutkan hamparan dingin berwarna putih tersebut.


Adnan yang sudah terlalu lama menunggunya, segera memberi tahu perihal Zevana yang sudah siuman.


"Benarkah? Oh syukurlah, gue kira akan memakan waktu yang lama" Ujar Zedric.


Rasa lega dan bersyukur membuat lehernya terasa sesak, dan ia tak bisa berkata apa-apa.


"Kita akan pulang secepatnya, biar nanti gue aja yang kemudikan mesin" Ujar Zedric.


Terdapat suara bising yang didengar dari jarak pandang beberapa kilometer saja. Adnan mengamati mesin itu dan melintas di ketinggian setara dengan mesin yang ditumpanginya saat ini. Namun tentunya mesin tersebut jauh lebih canggih jika disandingkan dengan mesin Z1.


"Wah luar biasa" Ucap Adnan menatap dari dalam jendela mesin.


"Apa gue salah lihat? Mesin itu sepertinya milik para peneliti, apakah mereka sedang mencari data penelitian? Tapi ini kan mimpinya Zeva? Ah lupakan saja, semua ini nggak penting buat gue" Gumam Zedric.


Semua ini terasa tak nyata dan mereka hanya ingin terbangun dan kembali di kehidupan yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2