Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Siapa Sangka


__ADS_3

Sahabat bilang, bila bersedih berteriak lah!


Agar angin membawanya pergi


Bila masih bersedih, lukis lah kata-kata pada


pasir! Agar ombak menyapunya


"Mungkin akan ada banyak perubahan padanya" Ucap seorang perempuan yang memiliki rambut pendek sebahu tersebut.


Ketika hujan dini hari itu, Zinta dibawa ke sebuah tempat peristirahatan yang tak jauh dari pemukiman setempat. Dengan ruangan hanya berukuran lima kali lima meter itulah, dia tinggal bersama dengan beberapa peralatan penelitian yang berjubel.


"Setelah kau bangun nanti, ambillah roti didekat mu dan gunakan pakaian ganti," rupanya lelaki itu berpesan melalui tulisan pada secarik kertas.


Tak menunggu lama, seseorang datang dari arah luar dan menyapanya. Tentu setelah semua yang diberitahu sudah dilakukan oleh Zinta.


"Oh kau sudah bangun rupanya. Karena keadaan sudah membaik, aku akan mengantarmu kembali ke rumah," Ujarnya seraya beranjak pergi.


Seorang lelaki muda dengan ekspresi tegas di wajahnya, sikap tampak agak dingin dan menyendiri.


"Sayangnya aku tidak mau pulang," jawab Zinta seraya menatap punggung lelaki tersebut.


"Pasti ada alasan kenapa kau menolaknya," Sahutnya.


"Butuh banyak cara bagiku untuk bisa sebebas ini," Zinta menjawab sambil mengenang sesuatu.


"Jadi kau anggap berdiam di rumah artinya dikurung? Dan keluar tandanya hidup bebas? Lucu sekali," Sahutnya sambil tertawa kecil.


"Kau tak tahu, bagaimana hidup yang ku jalani selama lima tahun ini," Jawab Zinta memberitahu.


Rasa penasaran menyergap lelaki itu, dan ia mulai meliriknya lagi dan lagi.


"Selama ini aku diperlakukan baik oleh mereka. Tanpa tahu makna yang sebenarnya. Kau tahu, apa yang dia katakan? Dia berkata tahu banyak tentangku, hingga aku tak perlu repot-repot lagi mencari tahu sendiri," Terangnya.

__ADS_1


Lelaki itu terlihat sedang menyimak, mungkin dia sedang berpikir bagaimana cara mencari celah untuknya bicara.


"Siapa kau sebenarnya?," Sudah dua kali ini, dia menanyakan hal serupa pada Zinta dengan tatapan yang lekat.


Dari balik tirai rumahnya, seseorang melihat mereka tengah berdebat dari luar ruangan.


"Permisi, apa kalian berdua pengantin baru disini? Soalnya suara kalian sangat mengganggu ku. Aku jadi penasaran, apa yang kalian bicarakan. Ha haha" Ucap seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


"Kami bukan.." lelaki itu menoleh dan kemudian pembicaraannya disahut kembali.


"Sudah-sudah lanjutkan saja. Biasanya, lelaki menginginkan lebih dari dua anak. Bukankah begitu Profesor Zedric,?" Sahut wanita paruh baya tersebut.


"Apa itu namanya,?" Gumam Zinta memperhatikan.


"Maaf, aku hanya membaca sesuai tulisan di papan nama mu. Jangan memarahi ku, baiklah aku akan pergi sekarang," Ujarnya seraya tertawa.


"Bukankah itu ide yang bagus," Ujar Zinta padanya.


Namun Zedric tidak menanggapinya, ia kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya.


"Kau tak ingat ucapan nenek tua yang barusan lewat kah? Mungkin warga disini mengira, bahwa kita memang sepasang suami istri," Timpalnya kembali.


"Jadi apa kau ingin kita satu ranjang, tanpa sebuah ikatan? Nama mu saja aku tak tahu, bagaimana bisa kita bersama? Berhentilah mengikuti ku, dan cepatlah tidur" Ujarnya seraya membuka pintu menuju ke arah luar.


"Kenapa dia bisa tahu, aku mengikutinya dari belakang?," Protesnya dalam hati.


Melalui sudut jendela, Zinta melihatnya sedang duduk dalam keadaan kedinginan. Padahal dia sudah mengenakan jaket, namun angin mampu menyelinap masuk ke dalam tubuhnya.


"Aku tak bisa tidur," Ucap Zinta seraya mendekatinya agar terlihat duduk berdampingan.


Kebetulan saat itu, dia sedang menatap ke arah langit. Entah angin apa yang mengantar Zinta hingga ketiduran, dan tak menyadari bahu lelaki yang di sampingnya menjadi pengganti alas tidurnya.


"Dia malah tertidur disini," gumam Zedric seraya menoleh ke arah samping kanannya.

__ADS_1


"Aku tahu kau sedang bergurau," Ucapnya dalam keadaan mata yang terpejam.


"Apa barusan dia sedang mengigau?," Gumam Zedric.


"Namaku Zinta," Ucapnya kembali.


Zedric terperanjat setelah mendengar ucapan darinya.


"Kenapa dia sangat menyebalkan!" Gertaknya seraya menggerakkan telapak tangan ke arah Zedric berada.


Zinta terbangun setelah merasa seseorang menangkis pergelangan tangannya. Malam itu menjadi suatu kenangan, dan semakin sulit untuk dilupakan bagi dia yang merindukannya.


"Aku merindukanmu," Gumam Zedric tak percaya.


Ia berkata hingga suaranya pun bergetar, buliran beningnya telah membuyar.


"Kenapa kau menangis?," Zinta bertanya kebingungan, setelah ia berada dalam dekapan lelaki tersebut.


"Mereka mengingatkan jaman dulu, tentu saat aku masih muda. Cinta yang begitu romantis, senang bisa melihatnya bahagia," Kenang wanita paruh baya tersebut.


...****...


"Kukira dia sudah tiada setelah peristiwa itu terjadi. Segera mutasi para peneliti ke wilayah tersebut! Aku ingin dia menemui ku lebih dulu, sebelum benar dinyatakan nyawanya melayang!," Perintahnya.


"Apa yang dia maksud itu Zinta? Ya ampun aku baru ingat, telah meninggalkannya terlalu lama di sana," Dokter Sheila bergegas pergi setelah mendengar arahan dari ketua.


"Ku harap Fariz tidak melihatnya," Gumam Dokter Salman yang merupakan rekan setimnya saat dahulu.


Setengah jam kemudian Dokter Sheila berhenti tepat di depan pintu. Dari situ ia bisa menyimpulkan bahwa Zinta tidak berada di dalam rumah. Lantaran didapati sebuah pintu terbuka lebar di hadapannya.


"Dia menghilang!," Dokter Sheila berpesan melalui saluran telepon.


"Jangan panik! Aku akan ikut serta dalam mutasi, tentu untuk mencari dan membawanya kembali," Jawab Dokter Salman yang berusaha menenangkannya.

__ADS_1


* To be continued..


__ADS_2