
Beberapa hari setelah kepergian Zedric yang secara tiba-tiba, memberikan pertanyaan baru pada keempat sahabat yang merasa kehilangan kehadirannya.
"Siapa pilihan terbaik menurut Zedric? apa ini soal hati yang semakin dalam?" tanya Zinta pada sesuatu yang berdasar menurut logikanya.
"Kenapa dia menjauh padahal kenyataannya ingin selalu dekat?" gumam Zweta yang seolah tahu maksud dari ucapan Zedric yang sebenarnya.
"Apa gue mesti kabarin Zeva ya? bisa aja dia belum tahu soal rasa sukanya yang udah sampai langsung ke telinga Zedric?" gumam Zaskia menjadi menerka sesuatu yang dipikirkannya.
Ketiganya saling memikirkan hal yang serupa pada jam pelajaran terakhir yang ditutup oleh Bu Lolita.
"Cukup sekian materi hari ini saya sampaikan, terima kasih Zinta kamu berhasil mengajukan kembali praktek kelompok penelitian yang baru kepada saya. Sepertinya saya akan promosikan kamu sebagai salah satu kandidat ketua olimpiade sains Internasional dari sekolah kita tercinta" ungkap Bu Lolita menjelaskan dengan bijaksana.
Seluruh murid kelasnya memberikan sambutan tepuk tangan yang meriah atas keberhasilan Zinta menemukan penemuan baru yang tergolong sangat canggih dan berguna pada masa depan.
Terutama dukungan dari ketiga sahabatnya yang selalu ada menemaninya saat berpetualang.
"Selamat untuk kalian juga gais" ucap Zinta dengan tersenyum bahagia sembari berjalan maju ke depan ruang kelasnya untuk menerima undangan resmi yang diberikan oleh Bu Lolita.
Setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi, mereka berniat tidak mampir dahulu, merasa rindu pada kediaman rumahnya masing-masing.
Saat di persimpangan jalan masih dalam satu kawasan dengan sekolah tempat menimba ilmu pengetahuan, Zevana yang sedari tadi tidak mengucap sepatah katapun pada sahabatnya, menjadi sorotan utama mata memandang.
"Zev lo pasti lagi mikirin Zedric kan?" tanya Zaskia padanya.
"Bisa nggak sih jangan sebut nama itu lagi di depan gue? bikin sebel aja" jawab Zevana dengan memasang wajah kecut yang diperlihatkan pada seseorang yang menegurnya.
Zweta hanya bisa terdiam membiarkannya bebas melakukan apa yang ingin dilakukan. Setelah hari itu, ia menjadi orang yang sangat bersalah. Terlebih sikapnya selalu mengingatkan keadaan ketika sedang bersama Zedric.
"Zev gue mau jelasin semuanya soal.." ujar Zweta yang belum selesai melanjutkan pembicaraan, langsung disambar oleh Zevana.
"Soal apa ya? kayaknya kita nggak ada masalah deh. Lo aja kali yang baper" sahut Zevana membalas dengan segala ketegangan dalam dirinya.
"Zev lo kenapa jadi gini sih sama gue? menghindar nggak akan menyelesaikan masalah" ujar Zweta sembari menarik ransel Zevana, hingga ia menoleh kearahnya.
"Terus gue mesti gimana? semua sikap kalian berdua masih ada dalam ingatan gue, nggak mudah melupakan dan bersikap baik-baik aja pada seseorang yang mengaku sahabat" sambar Zevana melanjutkan perdebatan diantara mereka.
__ADS_1
"Gue akuin semua sikap waktu itu salah besar. Seharusnya gue menolak secara halus maupun frontal ke Zedric, biar nggak ada kesalahpahaman kedepannya. Itu kan jawaban yang pengen lo dengar dari mulut gue?" sahut Zweta menegaskan perkataannya.
Zevana tidak menggubrisnya, mencoba memposisikan diri menjadi pendengar yang mungkin saja merubah suasana hatinya.
"Jujur sebenarnya gue malas bahas masalah nggak guna kaya Zedric. Tapi karena menyangkut sahabat yang belakangan ini terus menghindar setiap gue sapa, jadi poin penting buat gue bahas semuanya" jawab Zweta memberitahu sedetail mungkin.
"Maafin ya semua sikap yang gue tunjukkin ke lo. Tapi gue masih ada beberapa pertanyaan lagi, mungkin lo nggak akan bisa jawab" sahut Zevana dengan menitikkan air mata secara perlahan.
"Zev lo nggak bisa dipermainkan emosi sepihak yang kenyataannya belum tentu benar" ucap Zweta menasihati dengan tutur kata yang halus dan kepala dingin..
"Gue ngerti ko, pasti jawabannya jangan terlalu baper sama perhatian kecil kan?" sahut Zevana menangis sesenggukan dengan mengatur pernafasannya, semua itu dilakukan karena sudah tidak bisa diabaikan lagi keadaannya.
"Kalian berdua pasangan yang serasi. Keduanya saling mendukung dalam hal akademik. Gue cuma jadi orang ketiga diantara Zaskia, dan sekarang ke lo Zweta. Mungkin kisah asmara gue nggak sebagus ucapan yang dikatakan Adnan dalam mimpi" jawab Zevana
menjadikan alasan utama sikapnya berubah drastis.
"Lo bukan Zevana yang gue kenal. Jangan jadikan mimpi sebagai alasan agar terlihat tetap kuat" sahut Zweta memberikan saran.
Zaskia yang sedari tadi hanya bisa menyimak ditengah perdebatan, kini mulai mengajukan pembelaan pada Zweta.
"Lo nggak ngerti keadaan yang sebenarnya Zas. Lo hanya bisa menyimpulkan pada satu sisi aja, mencoba mengingatkan tapi kenyataannya nggak tepat" sahut Zevana dengan pernyataan pribadinya.
"Sekarang gue mau balik dulu. Nggak akan kelar berdebat sama orang kaya lo Zweta" timpal Zevana sambil berjalan mundur dan meninggalkannya.
Setelah perdebatan diantara mereka telah usai, Zweta memutuskan termenung sejenak dan menghela nafas panjang agar menenangkan hati dan pikirannya saat ini.
...****...
"Pesan apa yang disampaikan oleh Adnan dalam mimpinya?" gumam Zweta dengan satu pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
Ia segera menyalakan mesin pada kendaraan roda duanya serta tetap fokus pada pandangan saat di perjalanan menuju tempat tinggalnya.
Brum
Semua ucapan Zweta masih menghinggapi pikiran Zevana dalam kesehariannya saat beraktivitas. Hingga muncul ide yaitu mencari tempat yang aman agar tidak bisa bertemu dengan Zweta kembali.
__ADS_1
Niat sampai ke rumahnya, ia hentikan sesaat dan berbalik arah menuju ruang laboratorium Zinta. Kebetulan sebelum Zinta mendapat peran penting di sekolahnya, ia memberitahu mengenai ramuan baru yang dikombinasikan dengan penemuan lainnya bernama ZANN.
"Ohiya gue baru inget soal mimpi yang jadi kenyataan. Apa gue gunakan itu ya? buat menghindar dari Zweta serta argumennya? sepertinya akan berhasil" gumam Zevana didalam hatinya.
Melanjutkan perjalanan menggunakan sepatu roda yang setiap hari dipakai untuk aktivitasnya kemanapun ia berada.
Seperti biasa rumah Zinta selalu sepi, tersisa suasana yang terdengar hanya suara robot dan beberapa penelitian ilmiahnya yang cukup menegangkan tiap orang yang melihatnya.
"Nah ketemu" ucap Zevana dengan membawa ramuan yang ditaruh pada telapak tangannya yang digenggam.
Glek
Suara pertanda ramuan tersebut sudah dilakukan Zevana dengan cara menegak minum dan kini cairan itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tepat di malam hari Zevana sudah terbaring tidur di kamar tidurnya dan ramuan itu bereaksi ketika ia sedang bermimpi. Namun setelah pagi hari, ia tidak bisa terbangun dari mimpinya. Itu benar, Zevana terjebak dalam sebuah bunga tidur seperti yang diinginkannya.
"Dingin" Ucap Zevana merasa menggigil kedinginan.
Ia berada dalam suatu tempat dengan cuaca di musim dingin, hanya mengenakan piyama baju tidur yang melindunginya dari kedinginan yang sunyi.
"Gue dimana sekarang? siapapun tolong gue" ucap Zevana menatap pada lingkungan di sekitarnya.
Teriakan Zevana tidak mampu menjinakkan tebalnya salju di musim dingin. Suasana sunyi tidak ada orang yang berlalu lalang menyapa dan berbicara padanya dimulai pada malam ini hingga malam selanjutnya.
Mungkin bisa memakan waktu yang lama hingga beberapa tahun kemudian atau hanya sesaat saja?
Tidak ada yang tahu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Halo readers dan teman author semuanya π
Mohon maaf lahir dan batin ya ππ
Bila ada kesalahan ucapan yang kurang berkenan baik yang disengaja maupun tidak disengaja πβΊοΈ
__ADS_1