
"Ucapan lo benar Nan, kayaknya cinta hadir karena terbiasa. Mungkin dia udah milih Zevana sebagai pemenang dihatinya, dan lupain Zin.." Perkataannya terhenti dan mulai berpikir sejenak.
"Ah iya, Zinta nggak kelihatan dari tadi pagi. Kira-kira kemana dia?" Zweta menerka pertanyaan dalam benaknya.
Sementara itu, mereka yang dikira sedang kasmaran sedang bersiap-siap.
"Gue tunggu di lantai bawah rumahnya Zinta ya!" Zedric mengajak Zevana berangkat lebih cepat agar lebih mempercepat waktu.
"Zinta" Zedric mengucap nama perempuan yang tengah sibuk dipikirkannya.
Ternyata ia belum mengetahui jika Zevana sedang menghubungi penghuni rumah terlebih dahulu, hanya sekedar himbauan untuk mempersiapkan kehadiran spesial yang sebentar lagi datang bertamu.
"Barusan kayaknya Zed manggil gue deh, tapi masa mesti sekarang? Jujur, gue belum siap ketemu masalah baru. Duh kenapa jadi kaya gini ceritanya sih! Gue nggak tahu harus bersikap gimana, ditambah lagi sekarang Mami udah tahu persoalannya" Zevana terus menggerutu.
Sembari menunggu, Zedric sempatkan singgah sejenak ke dalam ruangan kembali. Dengan keperluan mengingat apapun yang terjadi sebelum Zinta tergelincir dari pergerakan mesin yang sedang menyala.
"Siapa tahu Zinta masih menyimpannya. Soal penelitian mimpi itu, semoga masih tersedia dan bisa digunakan" Gumam Zedric sembari berlarian menyusuri anak tangga.
"Mencurigakan" Ucap Zweta melihat kearahnya.
Seperti biasa pintu laboratorium selalu menjawab sesuai sistem pengaturan. Dijelajahinya setiap rak penelitian, dan berharap menemukan pengingat walaupun hanya secuil.
"Jika kenangan itu bisa mengubah keadaan, apakah termasuk khayalan? Kira-kira udah berapa banyak lembaran ingatan yang menetap atau bahkan terhempas tak tersisa?" Zedric kembali memperdebatkan tanya.
Zweta mendekat penasaran, ikut memantau dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Sikap gimana lagi yang mesti gue tunjukkan padanya?" Gumamnya seraya menatap ruangan yang biasa Zinta singgahi.
"Bisa menghargai perasaan orang lain itu bagus. Tapi lelah juga, jika terus-menerus membohongi hati sendiri" Ucapnya seraya termenung menghadap keluar jendela.
Air mata yang sudah ditahannya sejak semalam pun mengalir tak terbendung.
"Kalimat itu selalu terngiang, padahal gue yang buat sendiri. Seolah pertanda harus menjaga lisan, supaya nggak ada yang namanya penghianatan. Sekarang semuanya jadi serba salah" Zedric mengutarakan keluhnya dengan penyesalan yang teramat dalam.
"Semoga lo selamat dari kecelakaan mesin itu" Ucapnya penuh harap.
"Jadi Zinta kecelakaan? Tapi kenapa Adnan diam aja? Nggak ada sikap yang patut dicurigai sama sekali. Apa semua ini hanya omong kosongnya? Pasti ada yang disembunyikan diantara mereka" Zweta bertanya-tanya dengan pikirannya saat ini.
Setelah pembicaraan melalui ponsel pintarnya terputus, sikap Zevana menjadi tertunduk lesu. Ia tak percaya jika perkataannya akan menjadi bumerang untuknya sendiri.
"Gue udah malas berdebat sendirian. Apapun pilihannya, itulah jalan yang harus diselesaikan" Ucap Zevana dengan tegas.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti, lantaran ia teringat suatu benda miliknya tertinggal di dalam ruangan laboratorium.
"Oh iya charger ketinggalan" Ucapnya seraya menepuk dahinya.
Sesaat kemudian, Zedric dikejutkan dengan kedatangan Zevana yang tiba-tiba datang menemuinya hanya sebatas beberapa jarak saja. Zevana menatapnya dari luar jendela, dan bergegas pergi tanpa sebab dan menjauhinya.
"Zev? Apa dia udah tahu semuanya?" Gumam Zedric dan ingin bergegas menyusulnya ke luar ruangan.
"Itu kan Zevana, apa dia kesini ngelihat gue ya?" Gumam Zweta yang seketika keadaannya sedikit menegang karena panik.
Kepanikan Zedric menyebabkan lembaran kertas berhamburan, lantaran sikutnya menyentuh rak penelitian yang berada didekatnya.
Brukk
"Duh kertasnya" Ucap Zedric sambil mencoba merapikan kembali lembaran kertas tersebut.
"Nanti biar gue rapikan lagi" Ucapnya kembali.
Beberapa saat kemudian, ia tersadar jika ada salah satu dari lembaran itu terdapat tulisan yang menurutnya sangat mencurigakan.
"Kenapa cuma selembar kertas aja yang terkena tumpahan air?" Ucapnya sambil memastikan tiap lembaran tersebut.
"Apa mungkin Zinta masih menyembunyikan sesuatu yang ngga gue ketahui? Masalah kali ini emang sulit ditebak" Gumam Zedric dan seketika bergeming.
"Zev tunggu jangan lari!" Zedric memanggilnya dari dalam ruangan.
Zedric melangkahkan kakinya yang beberapa Senti lagi hampir mendekati pintunya. Tiba-tiba seseorang datang menyergapnya dengan amarah yang membuncah, dan menutup pintunya kembali.
"Zweta? Lo ngapain disini?" Tanya Zedric menatapnya heran.
"Barusan lo bilang Zinta kecelakaan kan? Kenapa nggak jujur ke gue? Udah lupa pengorbanan Zinta selama ini hah? Sampai nggak habis pikir, ko bisa-bisanya kalian semua nutupin semua kenyataan yang ada. Cepat jawab!" Pekiknya seraya mendorong pundak Zedric.
Zedric hanya terdiam mendengarkan dan menerima segala amarah kekesalan yang ditujukan kepadanya.
"Gue paham, kalian kesana buat jemput Zevana balik. Udah kerasa kan sekarang? Gimana sakitnya mengacuhkan orang yang selalu peduli. Kalo emang ada rasa sayang, buktikan padanya! Jangan menyelipkan rasa kasihan, dan akhirnya dia pun kecewa" Zweta berceloteh seraya menaikkan satu alisnya.
"Sebenarnya gue nggak mau bahas ini, setelah dipikirkan emang ada benarnya juga" Ujar Zweta menambahkan.
"Mau bahas apa?" Zedric mempertanyakan.
...****...
__ADS_1
Di setiap langkahnya yang terburu-buru, Zevana masih mengingat apa saja yang baru saja dialami. Ia juga tak bisa memastikan kiranya, apakah keadaan bisa cepat membaik. Zevana sedang mengatur pikiran agar sejalan dengan tindakannya.
"Bangun" Ucap Zevana seraya menepuk pipinya agar tersadar kembali.
"Nggak biasanya gue melamun tanpa sebab. Udah berapa kalinya buat Mami nangis Zev? Pasti sekarang Mami lagi mikirin gue" Zevana bertanya didalam hati sambil menahan tangis.
Ia berjalan menuruni anak tangga menuju garasi dan menumpangi kendaraan apapun yang sudah terparkir rapih tepat di depan tempat itu.
"Nan, lo pasti mau jemput Zaskia kan?" Tanya Zevana.
"Iya, eh lo ngapain ngikut segala sih? Mendingan lo kesana nya sama Zedric aja deh" Sahut Adnan.
"Nggak tahu dia dimana. Nanti malah tambah kelamaan, padahal gue mau cepat pulang ke rumah" Sahut Zevana menjadi termenung kembali.
Lalu Adnan menatapnya dan melihat buliran bening itu hampir mengalir membasahi pipinya Zevana.
"Ayo kita berangkat" Ujar Adnan sembari tersenyum.
"Beneran nih? Kuy jalan Nan" Sahutnya dengan tersenyum.
Status kedekatan diantara mereka terbilang sangat baik, walaupun sempat ada rasa suka dan penolakan. Paling tidak, keduanya masih bisa bersama dengan menyandang gelar persahabatan.
"Nan gue senang banget" Ucapnya.
"Cie" Adnan hanya sekedar menghiburnya, agar Zev tidak terlarut dalam masalahnya.
"Gue udah nemuin lelaki yang sayangnya tulus banget, persis sama ucapan lo waktu itu" Ujar Zevana.
"Sebenarnya gue juga nggak mau ngeliat kalian berdua sakit hati, cuma gara-gara rebutan Zedric. Padahal ganteng juga gue" Gumam Adnan sambil terkekeh geli.
"Nggak jelas lo ketawa sendirian" Timpalnya sembari tertawa sambil menepuk pundak Adnan.
"Ternyata dia masih berharap soal ucapan gue" Gumam Adnan sambil memperhatikannya melalui kaca spion motor.
Sesampainya di halaman rumah, Zevana segera menapaki rerumputan hijau yang mengitari jalannya. Tak lupa Adnan mengekornya dari belakang, sambil melihat seseorang berdiri mematung menatapnya tak percaya.
"Zev" Ucap perempuan itu sambil memeluknya erat.
Segala keraguan pun sirna, hanya tersisa kerinduan yang menggebu. Hingga keduanya terisak tangis, menyampaikan melalui bahasa hati. Suatu keadaan yang mewakili semua pertanyaan dalam benaknya.
đ¸đ¸đ¸đ¸
__ADS_1
* to be continued..