Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Jawaban (Revisi)


__ADS_3

Dia mengulurkan tangan seperti mencoba meraih Zinta untuk jatuh dalam dekapannya.


"Ini soal prinsip hidup yang sudah dipegang, mungkin gue belum bisa menegaskan sikap. Lagi-lagi keadaan penyebabnya, tapi semua itu nggak mengubah perasaan gue ke lo, Zin" ucap Zedric.


Buliran air mata terus membasahi pipi, mendengar tiap kalimat yang berbaris masuk kedalam telinga.


"Apakah menyakiti hati seseorang termasuk menyayangi? setiap lisan yang disampaikan, apa yakin bisa ditepati?" tanya Zinta.


"Gue nggak tahu harus bersikap gimana buat meyakinkan lo" jawab Zedric.


"Setidaknya bisa pahami isi hati sendiri, nggak melulu soal keadaan yang seolah membenarkan sikap" timpal Zinta.


"Kekhawatiran lo bisa jadi kesalahan yang lebih besar" ujar Zed mengubah topik pembicaraan.


"Khawatir?" tanya Zinta sambil melemparkan pandangan aneh padanya.


"Gue nggak mau menghabiskan banyak waktu, diskusi nggak jelas kaya gini misalnya. Kalau ini bercanda, gue nggak akan mau datang kesini cuma buat beritahu" sahut Zedric.


"Mungkin ucapannya benar" gumam Zinta.


Mereka mengakhiri perdebatan, hingga baru tersadar pergerakan mesin meluncur semakin cepat.


"Dalam hitungan mundur mesin segera mendarat, selalu perhatikan barang bawaan anda" ucap Adnan terkekeh geli.


Berbekal kepercayaan diri yang mumpuni, Adnan segera melakukan pendaratan pada awak mesin.


"Woahh dahsyat!" teriak Adnan.


Tak disangka semua tersusun sesuai rencana, namun layar monitor tiba-tiba tertutup oleh hamparan salju yang berlimpah.


"A-pakah ini salju?" ucap Adnan.


Wajahnya terlihat semakin panik, lantaran Adnan tidak tahu cara menghentikan mesinnya.


"Lari" ucap Adnan.


Ia segera menghindar dari pemandangan yang menakutkan.


Zedric menghela nafas dan memberikan kacamata yang diambil dari atas rak penelitian.


"Jangan sering membuat orang khawatir lagi ya" bisik Zedric bernada lembut.


Setelah Zinta membalikkan badan kearah jendela, menjadi termenung setelah mendengar perkataannya.


"Zev kita udah sampai buat jemput lo kembali ke dunia nyata" ucap Zedric sambil menghampiri tubuh Zevana yang terbaring di atas ranjang.


Saat Adnan melarikan diri, ia melihat lemari pakaian dengan bobot berat, melesat cepat mengikuti arah lurus dan menghantam apapun yang ada hadapannya.

__ADS_1


"Hah awas!!" teriak Adnan dari arah luar.


"Zinta awas!!" teriak Zedric.


Zed segera menghampiri Zinta, mengingat ia masih berada dalam satu ruangan bersamanya.


BRUKK


"Tidaakkk!!" teriak Zedric sambil menatap kearah jendela yang terbuka.


Terbesit ingin segera menarik waktu, namun tidak bisa ia torehkan kembali. Suatu kenyataan pahit kini berpihak padanya, punggungnya terasa remang, firasat apakah ini?


"Cepat tolongin gue Nan!" ujar Zedric memberitahu.


Adnan segera menghampirinya dan membantu memindahkan lemari itu ke tempat yang aman.


"Thanks ya Nan" ucap Zedric.


"Oke sama-sama. Syukurlah kalian semua selamat" jawab Adnan.


"Ternyata Adnan belum tahu soal Zinta yang terjatuh barusan" batin Zedric.


Terlepas dari itu semua, Adnan melupakan sejenak rasa kesalnya. Untuk saat ini ia lebih mengutamakan kerjasama tim yang kompak, karena mimpi Zevana sudah didepan mata.


"Ayo keluar, jangan membuang waktu untuk hal yang merugikan" ujar Adnan sembari membuka pintu mesin.


"Tapi kalau gini ceritanya, apa nggak masalah membawa tubuh Zevana ke alam luas?" tanya Adnan.


"Malahan itu yang lebih penting, kita gunakan sepeda Zedtwo sebagai kendaraan" jawab Zedric.


"Sepeda?" tanya Adnan.


"Ayo cepat naik sepeda" ucap Zedric.


"Oh ini yang diceritakan Zas? soal sepeda yang udah bantuin gue ketika dalam pusaran angin?" gumam Adnan.


"Tapi Zinta gimana? sebentar ya gue panggil dulu kedalam" sahut Adnan.


"Zinta ayo cepat, gue udah nunggu diluar nih!" teriak Adnan.


"Gue tahu banget di lingkup kerja, nggak ada Zinta disana. Seharusnya dia ada di satu ruangan bersama Zed, karena sebelumnya gue sempat bertengkar dengannya" gumam Adnan didalam hati sambil berpikir.


Untuk mempersingkat waktu, akhirnya Adnan segera meninggalkan tempat itu, serta langsung memasuki sepeda canggih tersebut.


"Untung kamu nggak ikut Zas, ternyata tempat ini sangat berbahaya" ucap Adnan yang seketika merindukan kekasihnya.


Zed menjadi orang paling bersalah selanjutnya karena secara tidak langsung merelakan Zinta pergi dari hadapannya.

__ADS_1


...****...


Mengenai kabar Zaskia hingga saat ini masih melanjutkan penyamaran terhadap Zevana, ia sudah diboyong oleh pihak keluarga ke tempat tinggal sahabatnya. Fahri dan Mita menjadi orangtua baru yang menemani hari-harinya Zaskia belakangan ini.


"Ohiya jendelanya mamih tutup ya Van? kayaknya sebentar lagi hujan deras" ucap Mita.


Dwarr


Mita segera menutup jendela, menyalakan lampu tidur sebagai pencahayaan di suatu ruangan saja.


"Selamat tidur sayang" ucap Mita sambil menarik selimut putrinya.


Zaskia pun menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya, kemudian Mita keluar dari kamar tidur.


"Udah lama banget, gue nggak merasakan perhatian orangtua seperti mereka" kata Zaskia.


Zaskia memejamkan mata, namun yang terlintas di benaknya yakni Adnan.


"Kamu jaga diri ya disana, tapi sampai kapan gue menyamar terus? pastinya sampai Zevana ditemukan kembali. Selamat tidur semuanya, semoga esok jadi hari yang menyenangkan" ucap Zaskia penuh harap.


Lain halnya dengan Zweta yang tengah sibuk menulis laporan penelitian di laboratorium seorang diri.


"Nggak nyangka pemikiran gue kali ini melesat, gue harap kalian nggak berjauhan satu sama lain. Semoga salah paham ini cepat diselesaikan, gue lelah dengan semua sikap yang melampaui batas" ucap Zweta.


"Jam segini Zas udah tidur belum ya? kayaknya nelpon malam gini, bakalan mengundang kecurigaan. Nah kalau gitu gue akan kirim pesan lewat voice note WhatsApp aja deh" ucap Zweta sambil menekan nomer telepon tujuannya.


πŸ“² "Halo Zas lo lagi dimana sekarang? gue lagi di laboratorium nih, dan yang lain udah pergi ke time travel jemput Zevana. Semoga lo segera membacanya, sebab gue beri jeda waktu pesan ini" ucap Zweta sambil menutup ponsel pintarnya.


🍁🍁🍁🍁


"Menurut titik koordinat, Zevana berada di tempat yang memunculkan cahaya" ujar Zedric memberitahu.


"Benarkah? gue merasa gugup banget, lihat tangan ini gemetar kan?" sahut Adnan.


"Gue nggak nyangka, lo bisa gugup kaya gini Nan" sahut Zedric.


"Lo aja yang kesana sendirian, gue nggak kuat udara es ini" ujar Adnan.


"Baiklah jika itu pilihan lo" jawab Zedric.


Melangkahkan kakinya dan menatap Zevana dari kejauhan menggunakan lensa eye camera, menjadi hal yang mudah baginya untuk bertemu langsung dan mengajaknya kembali ke alam nyata.


...Akses terhubung...


"Zevana kan itu?" tanya Zedric sendirian.


Senyuman sumringah terlihat di raut wajahnya, berlari penuh semangat untuk memastikan keadaan bahwa Zevana baik-baik saja.

__ADS_1


"Zed?" ucap Zevana.


__ADS_2