
Dengan bantuan kicauan burung di pagi hari, rasa nyaman itu memilih mengatakan kenyataan apa adanya.
"Zinta, aku.." dia terkejut saat Zedric menyebut namanya.
"Darimana kau tahu namaku? Padahal aku sendiri tak pernah memberitahu mu," Zinta terlihat mendongakkan wajahnya, dan mulai mengalihkan pandangan.
Mungkin dia tak ingin jika Zedric mengetahui namanya semudah itu.
"Kau selalu mengigau saat tidur ya? Semalam, hampir saja lenganmu mengusikku. Mungkin telat sedikit saja, bisa beda cerita," Ujarnya memberitahu.
"Entahlah aku tak ingat. Tapi aku bisa menerimanya," Zinta menjawab seraya memikirkan sesuatu.
"Menerima karena kau merasa? Begitu kah maksudmu?," Sahutnya mengimbangi.
"Seseorang selalu menanyakan hal serupa, tentu seperti yang kau katakan. Tapi sungguh, aku melakukannya saat tak sadar. Jadi tolong dimaafkan," Jawabnya seraya memandangnya kembali.
"Apa ini menandakan, sudah ada orang lain di hatinya,?" Zedric bergumam dan penasaran.
"Pernah tidak, kau menanyakan hal ini padanya? Mungkin ada solusi lain agar kebiasaan mu bisa berubah," Zedric mengatakan seraya berdiri dan sesekali menoleh ke arahnya.
"Apa,?" Zinta bertanya dengan sungguh.
"Menikah," Senyumnya merekah saat Zinta menanyakan hal itu dengan lugu.
"Kembali ke rumah saja aku tak mau, apalagi menikah dengannya!" Serunya alih-alih berpikir.
"Waktu ku dihabiskan hanya untuk mematuhi perintah. Kau pasti bisa membayangkan itu, seharusnya dia tidak lebih posesif terhadapku," Celotehnya kembali.
"Apa kau berpikir setelah menikah, tak akan ada yang namanya perintah?," Zedric bertanya seakan menegaskan pembicaraan diantara mereka.
__ADS_1
"Tentu saja," Sahutnya dengan singkat.
"Mumpung masih pagi, aku ingin berjalan santai sebentar ke seberang jalan. Kau mau ikut?," Ujar Zedric sambil mengulurkan tangannya.
Zinta menjawab seraya menerima uluran tangannya. Di sepanjang perjalanan, mereka tetap berbincang. Hingga sesuatu mengalihkan perhatiannya.
"Kau pasti menyukainya, benar kan?" Zedric bertanya seraya menoleh.
"Seharusnya dia berada disini," Gumamnya kebingungan.
Berat baginya untuk tidak bisa mencari dia yang baru saja berada di dekatnya. Terlebih lagi, tiba-tiba sebuah tembakan meletus dalam sekejap mata.
BOOM!
"Jalankan tugas sesuai arahan! Kali ini kita jangan lengah, kalian bisa gunakan peralatan tempur yang dimiliki! Salman menegaskan pada para peneliti yang baru saja bermutasi di wilayah tersebut.
"Beruntung sekali dia bisa mendapatkan hatinya ketua. Aku juga ingin, namun sayangnya wajahku tak secantik perempuan itu," Ucap salah satu peneliti lainnya.
"Menemukan siapa?," Tanya Zaskia.
"Tentu aku menemukan orang yang kita cari selama ini," Sahutnya.
"Apakah orang itu adalah Zinta?," Sahut Zaskia yang sesegera mungkin, ingin melihatnya secara langsung.
"Namun sinyal ini terlihat ambigu. Atau bisa jadi, ada sesuatu yang menghalanginya," Ungkap Zweta memberitahu.
"Aku jadi semakin tertarik untuk membahasnya," Ujar Zaskia. Namun layar monitoring itu kemudian dipadamkan olehnya.
Hari itu menjadi jalan panjang, bagi dia yang paling dicari. Berupaya menghindar dari beberapa serangan teknologi yang mengarah padanya. Hingga di suatu titik, Zedric pun membalas balik serangan tersebut.
__ADS_1
BOOM!
"Aku tak habis pikir, mengapa peneliti melakukan tindakan semacam ini! Seharusnya mereka dapat bereksperimen dengan benar! Apa aku harus memberi tahu soal jabatan ku?," Ucap Zedric seraya menggunakan sepatu jetnya.
Satu persatu dari mereka, tak ada habisnya untuk mengejarnya hingga mencapai target utama.
"Bisakah kau cepat mendarat kesini, Profesor! Ada hal yang harus kita bicarakan!" Seseorang mengatakan seraya mendarat terlebih dahulu.
"Darimana dia bisa tahu? Sedangkan kita baru saja bertemu," Zedric bergumam dan berpikir sejenak.
"Tentu saja aku tahu! Kau sendiri kan yang bilang barusan?," Sahutnya.
"Bahkan dia mampu membaca pikiranku saat ini," Gumamnya kembali.
"Ya benar. Cepatlah kemari Profesor!" Sahutnya.
Zedric pun mendarat dengan stabil.
"Ternyata waktu berjalan begitu cepat, jika dibandingkan dengan perasaan manusia!" Fariz berseru, seraya memberikan sambutan yang sedikit berbeda.
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti," Zedric mempertanyakan hal itu.
"Apa kau merasa tersinggung? Bahkan aku tak berniat merendahkan mu. Datanglah ke acara penyambutan ini," Ujar Fariz seraya memberikan kartu undangan padanya.
"Aku mengundangmu sebagai tamu kehormatan, lantaran kau merupakan Profesor kedua yang berani datang di wilayah kekuasaan ku. Selamat datang Profesor Zedric," Ucapnya sambil tertawa.
"Terimakasih. Maaf aku telat memberitahukan ini padamu, Profesor Fariz" Sahut Zedric seraya berjabat tangan dengannya.
Tentu ini sebagai tanda awal pertemuan mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan berusaha mendekatinya lagi, jika kau tak mau ingatannya semakin hancur. Tentu setelah dia tahu, bahwa kau adalah orang yang telah mengecewakannya saat itu," Suara itu terdengar samar dan seketika ingatan buruk kembali dalam pikirannya.
* to be continued..