
"Ohiya lupa. Motor gue kan masih ada di sekolah. Sambil nunggu Zweta bangun, gue pergi dulu ya" ucap Adnan membuka obrolan diantara mereka.
"Kamu mau ikut nggak Zas?" tanya Adnan dengan tersenyum sambil mengulurkan tangan kearah Zaskia.
"Mau ikut dong" jawab Zaskia dengan manja menggemaskan.
Zaskia pun terlihat meraih tangan adnan. Namun genggamannya semakin lama menjadi memudar. Perlahan semakin menjauh saja uluran tangan Adnan. Hingga mencoba berlari dan menjadi susah digapai.
"Ko nggak bisa? Nan tungguin aku mau ikut. Jangan pergi" ucap Zaskia berbicara dengan suara yang memantul.
Berlari dikelilingi dengan kabut putih yang menutupi Pandangannya.
"Adnan..! " teriak Zaskia sambil mengulurkan tangannya ke depan seperti sedang meraih sesuatu.
Ia terbangun di sepertiga malam itu dengan degup jantung yang berdebar kencang. Keringat pun sempat menghinggapi seolah benar ia memang mengalaminya.
"Zaskia lo kenapa?" tanya Zedric yang terbangun dan segera menghampirinya sambil menyalakan lampu dalam ruangan.
Cklek..
"Hah gue..." ucap Zaskia dengan nafas yang tidak beraturan.
"Lo barusan kayaknya mimpi buruk deh" timpal Zedric melihat tatapan Zaskia yang seperti sedang ketakutan dan berlalu begitu saja hanya untuk menghampiri Zinta.
"Ternyata semua ini cuma mimpi?" ucap Zaskia sambil melihat keadaannya yang tertutup oleh selimut di tempat yang tidak terasa dingin.
"Siapa yang mindahin gue disini ya? apa mungkin Zedric?" gumam Zaskia.
Ia melihat kembali Adnan di ruang laboratorium dari luar. Karena kacanya transparan, jadi ia bisa melihat dengan jelas kondisi dalam ruangan. Ia menjadi merinding seketika.
Masih berpusat dalam ruang waktu
Bersifat mengingat apapun dalam pikiran
Seseorang hingga terlarut jauh lebih dalam
Seolah itu benar-benar kenyataan
πΈπΈπΈ
Di pagi hari yang cerah itu seolah menyambut kedatangan mereka berempat untuk mengikuti pelajaran sekolah seperti biasa.
"Zinta hari ini kita udah mulai masuk sekolah loh" ujar Zweta sambil menaruh buku pelajaran ke dalam ranselnya.
"Kalau lo belum pulih banget, nggak usah dipaksakan ya" ucap Zweta sambil bersiap diri untuk berangkat ke sekolah.
"Makasih ya. Tapi lo kesana naik apa? kan motor lo nggak ada" sahut Zinta padanya.
__ADS_1
"Iya sih ketinggalan. Tapi gapapa deh. Gue bisa naik kendaraan umum ko. Nanti gue kabarin kalau mau kesini lagi" sahut Zweta dengan tersenyum.
"Zas lo udah siap belum? gue tunggu di depan" ujar Zweta sambil menunggunya di depan rumah Zinta.
"Iya sebentar" sahut Zaskia yang terlihat terburu-buru.
"Kita mau berangkat sekolah dulu Zinta" ujar Zaskia dengan mata sembap yang menutupi wajah cantiknya.
"Kalau mau apa aja tinggal kabarin. Atau minta tolong sama Zedric juga bisa" ujar Zaskia kembali sambil menyemangati sahabatnya.
"Makasih ya. Eh Zas lo gapapa kan?" tanya Zinta yang sempat memberhentikan langkah Zaskia.
"Gapapa ko. Emang kenapa sih?" sahut Zaskia yang berusaha baik-baik saja.
"Zaskia ayo buruan nanti telat. Ini taksinya udah nungguin" teriak Zweta dari luar rumah.
"Iya. Yaudah nanti lagi ya Zinta" ucap Zaskia sambil meninggalkannya berdua di rumah bersama Zedric.
Mengingat kondisi Zevana yang semakin hari sudah ada peningkatan kemajuan dalam dirinya tersebut. Ia sudah bisa dikatakan sembuh dari suatu peristiwa yang menyebabkan kepalanya terbentur.
Berkat pengawasan dan kasih sayang orangtua itulah ia dapatkan ketika sedang dalam masa pemulihan pasca terbangun dari koma.
Ia sudah bisa mengikuti pelajaran sekolah pada hari ini. Ia pun diantar oleh papinya ke sekolah. Suatu hal yang tidak pernah dilakukannya setiap hari.
"Makasih ya papi" ucap Zevana berpamitan pada Fahri.
"Iya Zeva. Semangat. Kabarin kalau udah pulang sekolah ya?" ujar Fahri papinya Zevana.
Ia berjalan seorang diri sambil menghirup udara pagi untuk menyambut kedatangannya kembali ke sekolah.
Sampai di sekolah, Zweta merasa sangat kelelahan saat berjalan kaki. Ia sempat terbatuk namun yang keluar dari mulutnya adalah sebuah partikel kecil seperti magnet.
"Apa nih?" gumam Zweta sambil melihat pada telapak tangannya.
Zweta berusaha menutupinya. Rasanya ingin cepat bertemu Zinta kembali hanya untuk menanyakan benda apa yang baru saja keluar dari mulutnya ketika terbatuk barusan.
"Lo mau kemana?" tanya Zaskia dengan penasaran.
"Zweta lo gapapa kan?" tanya Zaskia sambil mendekatinya.
"Gapapa ko. Tadi sempat gatal tenggorokan gue nih" sahut Zweta.
"Oh yaudah. Kirain ada apa gitu. Gimana keadaannya Zevana sekarang? pengen jenguk dia" tanya Zaskia padanya.
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil dari arah belakang mereka berdua.
"Halo Bestie" teriak Zevana dengan senyuman bahagia yang tersirat di wajahnya.
__ADS_1
Mereka yang merasa terpanggil dengan suaranya pun ikut menoleh ke belakang.
"Zevana?" ucap Zaskia dan Zweta secara bersamaan.
"Ya ampun gue kangen banget sama lo. Ternyata doa gue selama ini dikabulkan" ucap Zweta dengan berlinangan air mata yang membasahi pipinya.
Akhirnya mereka bertiga bertemu kembali di sekolah. Hanya tersisa Zinta saja yang tidak bergabung diantara mereka.
Zevana menjadi termenung melihat kedua sahabatnya yang sangat peduli dengan keadaannya saat ia berada dalam masa kritis beberapa waktu yang lalu. Serta tetap ingin mencari tahu kondisinya hingga saat ini.
"Makasih ya" jawab Zevana sambil tersenyum serta merangkulnya.
...****...
Zedric yang masih setia menemaninya di ruangan laboratorium sejak tadi pagi. Sudah terlihat jenuh dan ingin menarik diri hanya untuk mencari udara segar hari ini.
"Gue tinggal dulu ya Zinta. Masih ada kerjaan yang belum tuntas nih" ujar Zedric yang seperti biasa berlalu begitu saja setelah meminta izin.
"Ohiya gapapa tinggalin aja. Biar gue sendirian disini" jawab Zinta dengan menganggukkan kepalanya.
Akhirnya ia pun pergi meninggalkannya sendirian di kamar tidurnya. Kebetulan Zinta juga ingin mengetik sesuatu yang ia rahasiakan pada semua orang.
"Inilah yang dinamakan ilmu pengetahuan sains. Apa yang dikatakan mustahil bisa terwujud di masa depan" ucap Zinta ketika berada di ruang laboratorium sambil mengetik Laporan penelitian baru.
Tap..
Terdengar langkah kaki seseorang mendekatinya. Zinta segera menyembunyikan sesuatu yang baru saja ia ketik di komputer.
Rupanya suara itu berasal dari langkah kaki Zedric yang kembali datang menemuinya.
"Lagi ngapain Zinta?" tanya Zedric dengan penasaran.
Ia bertanya ketika Zinta sedang berpindah posisi menghadap tembok.
"Zinta gue mau ngomong serius sama lo" ucap Zedric sambil duduk di kursi dekat tempat Zinta berbaring.
"Eh lo tadi habis dari mana?" sahut Zinta sambil menggerakkan kepalanya kembali secara perlahan hanya untuk menatap lawan bicara.
Sebenarnya Zedric sudah tidak sabar ingin berbicara dengannya. Ia hanya berpura-pura agar Zweta dan Zaskia segera pergi dari ruang laboratorium. Karena ada sesuatu hal yang mengganjal menurutnya yaitu bagaimana cara menyelamatkan Adnan kembali.
"Nggak usah bahas Adnan terus. Bosan dengarnya. Carilah bahan obrolan lain yang bermanfaat" jawab Zinta yang seakan sedang menutupi keadaannya pada Zedric.
"Nggak ada yang lo sembunyikan dari gue kan?" tanya Zedric dengan pasti.
Zinta hanya terdiam membisu dan hanya mendengarkan ucapan dari Zedric semata.
* to be continued..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar ya setelah membaca.. ππ
Happy reading ya..