
Adnan telah mendengar semua pembicaraan diantara Zweta dan Zevana tanpa terlewat sedikit pun, yang sangat mengganjal dalam benaknya kini ialah jika Zevana bisa merasakan keberadaannya, lantas mengapa ia tidak bisa melihat seseorang yang menangisinya?
Adnan berinisiatif untuk mengikuti mereka berdua kemanapun arah yang ditujunya.
Zinta serta Zaskia telah memasuki mesin Z1 untuk yang kedua kalinya. Perjalanan waktu menuju ke tempat yang belum pernah Zaskia singgahi. Kenapa begitu? Ya karena sebelumnya Zinta sudah pernah ke tempat itu dengan keperluan penelitian.
Suara angin telah mengantarkan mesin Z1 serta para penumpangnya. Zinta sudah terlihat berdiri di depan kemudi layar monitor dengan sangat elegan.
"Apakah masih lama perjalanan kita?" Tanya Zaskia sambil melihat layar monitor yang sedang dipandangi oleh sahabatnya tersebut.
"Tunggu sekitar satu jam lagi kita akan sampai tujuan" Jawab Zinta seraya memastikan bahwa perhitungannya sudah sesuai rumus yang dikerjakan sebelum keberangkatan.
Wing.. Wing.. Wing..
Zaskia seperti mendengar suara sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Tanpa ragu ia segera memberi tahu sahabatnya.
"Zin lo denger sesuatu nggak?" Tanya Zaskia seraya menirukan suara yang ia dengar barusan.
"Hah benarkah?" Sahut Zinta dengan tanggapan yang terkejut.
Mencari tahu letak sesuatu yang dimaksud oleh Zaskia.
"Zas kita harus siap-siap" Ujar Zinta sambil membuka tempat peralatan canggih miliknya.
"Bersiap gimana maksudnya? Katanya sekitar satu jam lagi kita sampai?" Tanya Zaskia kembali sambil menoleh kearahnya berada.
Zaskia melihat sahabatnya memakai baju perlindungan serta menambahkan aksesoris lensa kacamata bernama Eye Camera.
Masih ingatkah dengan nama penemuan Zinta tersebut? Ya tentu saja bagi yang sudah mengikuti cerita ini dari awal bab, mungkin paham. Singkatnya Eye Camera merupakan penemuan tugas kelompok kimia mereka yang seharusnya berhasil dibuktikan oleh Bu Lolita. Selain itu juga, Zinta memberitahu perihal sesuatu yang mesti di lakukan, yakni sebuah baju perlindungan untuk diberikan pada Zaskia.
"Pakai baju ini Zas" Ujar Zinta sambil berjalan dengan gesit.
Tanpa banyak pertanyaan, Zaskia pun langsung mengikuti arahan dari sahabatnya.
Suara bising seperti sirine semakin kuat terdengar di seluruh ruangan mesin Z1.
"Sebenarnya suara itu pertanda apa?" Tanya Zaskia yang menjadi panik karena Zinta tidak meresponnya.
Dengan rasa penasarannya Zaskia melihat ke arah layar monitor tersebut.
Aahhhh
Zaskia berteriak histeris lantaran mesin Z1 melaju terkatung-katung dengan tingginya kecepatan. Ia juga melihat sesuatu yang dimaksud oleh sahabatnya. Terlihat jelas sebuah bongkahan batu besar persis berada di hadapan luar mesin Z1.
"Zinta bagaimana ini?" Tanya Zaskia sambil berpegangan pada sesuatu yang terlihat kokoh.
Ucapan Zaskia seolah mendukung suasana menjadi sangat tegang. Ia melihat dari layar monitor. Zinta mengambil langkah cepat untuk rem dadakan ketika sesuatu yang sangat jelas terlihat hampir semakin mendekatinya.
Terdengar jelas mesin Z1 berhenti secara mendadak, kurang dari sepuluh sentimeter lagi terkena bongkahan batu tersebut. Ia melakukannya agar terhindar dari hantaman yang menggangu perjalanannya.
__ADS_1
Nafas yang terengah-engah diiringi dengan suara degup jantung yang berdebar hinggap diantara mereka berdua menyesuaikan diri pada situasi yang menegangkan.
"Alhamdulillah kita selamat Zinta" Ucap Zaskia yang bergerak untuk menghampiri sahabatnya.
"Jangan bergerak" Ucap Zinta memberi tahu informasi.
Langkah kakinya pun terhenti ditengah ruangan setelah mendengar instruksi dari Zinta.
...Terlihat ingin menghindar...
...Pada sesuatu dalam pandangan...
...Dirasa tindakannya sudah benar...
...Padahal kejutan yang tidak diinginkan...
...****...
Suara mesin Z1 secara nyata benar-benar menghantam bongkahan batu besar dari luar.
Keadaan dalam ruangan bergeser menjadi miring ke sebelah kiri.
SRET
Dengan perlahan mereka juga ikut tergelincir ke sebelah kiri ruangan, dan seketika lampu ruangan menjadi padam. Menambahkan kesan horor didalamnya.
Dag..!!
"......." Tidak terdengar sahutan suara Zaskia.
"Zas?" Tanya Zinta kembali sambil menyalakan cahaya lampu yang berada di penutup kepalanya serta menghidupkan Eye Camera yang terhubung pada kacamatanya.
...Akses terhubung...
Terdengar suara pertanda peralatan canggih milik Zinta sudah bisa berfungsi dan bisa digunakan.
"Waduh Zaskia kemana sih?" Gumam Zinta didalam hatinya, sembari berjalan perlahan serta melihat genangan air di dalam ruangan.
Genangan air tersebut berasal dari campuran isi tabung reaksi milik Zinta yang pecah karena tergelincir. Dalam hitungan menit lampu ruangan hidup kembali.
"Alhamdulillah nyala lagi lampunya" Ucap Zinta sambil menoleh ke arah belakangnya.
"Aahhhh!" Teriaknya.
Zinta berteriak histeris, dan sangat terkejut lantaran mendapati seorang pria yang ia ingat menjadi rivalnya dalam sebuah penelitian beberapa tahun yang lalu.
"Halo selamat datang Zinta. Apa kabar? Ha haha" Sapa seorang pria sambil tertawa jahat dihadapannya.
"Zed?" Sahut Zinta yang tidak percaya bahwa mereka akan bertemu kembali.
__ADS_1
"Syukurlah kamu masih ingat denganku. Ha haha" Ucap kembali pria itu yang bernama Zed.
"Zinta...!" Teriak Zaskia dari tempat ia terperangkap yang menyulitkannya bergerak.
Zinta pun menoleh kearah suara Zaskia berasal. Rupanya ia sedang terikat pada senyawa kimia yang mampu mengikat oksigen serta mengangkutnya dari paru-paru menuju ke seluruh sel-sel tubuh.
"Hah Zaskia" Sahut Zinta sambil bergerak cepat keatas untuk menghampiri sahabatnya.
"Baiklah aku akan membebaskan sahabatmu yang bernama Zaskia. Tapi tidak dengan kedua sahabatmu yang lain" Ungkap Zed mengalihkan perhatian Zinta.
Zed memberi tahu informasi melalui genangan air bahwa Zweta dan Zevana masuk ke dalam wilayahnya.
Zinta dengan cepat tersadar mungkin itu benar adanya, tapi bisa jadi sebuah manipulasi sesaat agar Zed bisa mengambil pulpen Zedfour.
"Tidak semudah itu" Sahut Zinta menegaskan perkataannya.
"Ha haha ternyata kamu tidak pernah berubah Zinta. Semakin kamu berpikir cepat, semakin cepatlah aku bergerak untuk menghentikan tujuanmu" Sahut Zed.
Zed menatap tajam wajah Zinta serta beraksi mengayunkan tangannya dengan tujuan melempar Zaskia dengan sekuat tenaganya.
"Hiyaa!!" Teriak Zed.
"Zaskia awas!!" Teriak Zinta dengan suara yang menyerupai suara badai.
Zinta berlari dengan sangat cepat menuju arah Zaskia yang terlempar. Namun ia terlambat lantaran kakinya terikat oleh penemuan Zed yang mengikatnya Zaskia sebelumnya.
Zinta berteriak karena kakinya telah ditarik paksa oleh Zed, kemudian ia lemparkan pada pusaran petir hitam mirip seperti Zedfour milik Zinta.
Dwarr
"Apa? Ini nggak mungkin" Ucap Zinta yang hampir terhisap ke dalam pusaran petir hitam milik Zed.
Zaskia mendarat setelah ia dilemparkan jauh oleh Zed orang yang sama sekali tidak ia kenal dalam kehidupannya. Ia mencoba berdiri secara perlahan juga tidak merasa ada luka ditubuhnya.
"Loh kenapa nggak ada luka? Apa ini berkat baju perlindungan yang diberikan Zinta?" Gumam Zaskia sambil membaca petunjuk penggunaan dari baju tersebut.
"Jump" Ucap Zaskia menekan tombol gambar orang yang sedang melompat. Ia pun dapat melompat seperti yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Plane" ucap Zaskia kembali menekan tombol gambar pesawat terbang. Ia pun dapat terbang sesuai menu tombol yang ia pilih.
Zaskia bergerak cepat terbang melintasi bukit dan pohon yang menghalangi pandangannya.
"Lost" Ucap Zaskia sambil menekan tombol gambar menghilang.
Kini ia bisa mengendalikan menu tombol sesuai fungsinya secara teratur.
"Wih keren, Zinta I coming" Kata Zaskia memantapkan ucapannya.
Apakah Zaskia berhasil menolong Zinta yang sudah jelas terlihat akan terhisap pusaran petir hitam milik Zed?
__ADS_1
* to be continued..