
Pencapaian hasil penelitian dalam jangka periode yang sama menjadikan bukti nyata bahwa perjalanan ke suatu tempat yang asing bukanlah hal yang mudah untuk mereka lalui bersama.
"Kita sudah sampai" Ucap Zweta sambil mempersiapkan dirinya membawa kedua sahabatnya secara bergantian dengan menggunakan bantuan robot pengantar barang.
Membaringkan tubuh Zevana dan Zinta dengan posisi tempat tidur yang terpisah serta saling bersebelahan letaknya. Suhu laboratorium tidak boleh kurang dari 18 derajat Celsius. Menjadikan area dingin bila seseorang memasuki suatu ruangan yang tidak terbiasa dengan suhu ruangan tersebut.
Zweta terlihat menyibukkan dirinya dengan cara membantu pertolongan pertama untuk mengatasi luka di kepala Zevana. Berpindah tempat hanya untuk mengambil perlengkapan yang dibutuhkan.
Dalam keadaan pasrah menyisakan mata yang sembap akibat menangis seharian. Zaskia mulai menyadari betapa beruntungnya memiliki sahabat dan seseorang yang selalu ada untuk dirinya hingga saat ini. Walaupun keadaan belum jelas apakah mereka benar-benar kembali atau tetap menyisakan luka karena kehilangan.
"Kita harus bawa Zinta dan Zevana ke rumah sakit secepatnya" Ujar Zaskia tiba-tiba membuka obrolan menjadikan suasana panik seketika.
"Nggak semudah itu Zas" Jawab Zweta sambil menoleh berbicara dengan nada yang tenang.
"Nggak semudah itu? Mereka punya keluarga loh. Pastinya orangtua selalu nungguin kabar anaknya ada dimana. Gue nggak mau tahu gimana caranya mereka tetap dibawa ke rumah sakit sekarang juga" Sahut Zaskia.
Seraya menarik brankar yang hendak dibawanya keluar ruangan. Namun semua itu ditepis oleh Zweta dengan cara menahan salah satu lengan Zaskia agar tidak bertindak gegabah dalam keadaan seperti ini.
"Gue tahu lo sedih banget atas kepergian Adnan. Ditambah lagi keadaan Zinta dan Zevana yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Sebenarnya kalau boleh jujur, gue juga sama sedihnya sama yang lo rasakan saat ini. Tapi suatu keadaan yang mengharuskan gue untuk tetap tenang. Yakin dan percaya bahwa semua ada jalannya jika mau bersabar" Sahut Zweta sambil membujuk pelan pada sahabatnya.
"Kepergian Adnan? Lo nggak tahu apapun soal Adnan" Sahut Zaskia.
Kembali menantang dengan gaya arogannya seraya membelalakkan kelopak matanya.
Selangkah maju ke depan serta meraih kerah seragam sekolah Zweta dengan cengkraman yang cukup kuat, ia melakukannya setelah mendengar ucapan Zweta yang tidak wajar menurutnya.
Dua remaja perempuan tersebut saling adu argumen sesuai pendiriannya yang tidak mau mengalah, sehingga membuat suasana hati Zedric menjadi tidak karuan. Ia hanya bisa menyaksikan mereka dari balik pintu bagasi mesin Z1. Menunggu waktu yang tepat untuknya bisa keluar dari tempat persembunyiannya.
"Jika kita tetap bawa mereka ke rumah sakit, Dokter pasti bakalan cari tahu penyebab kenapa mereka bisa nggak sadarkan diri. Kita juga bakalan dijadikan saksi. Pastinya kita tetap berbicara jujur, namun apakah Dokter percaya gitu aja dengan semua cerita kita yang sesungguhnya? Ditambah lagi pelakunya nggak ada disini Zas. Terus kita bilang ke Dokter kalau pelakunya lagi di time travel? Gitukan maksud lo?" Sahut Zweta.
__ADS_1
Zweta segera melepaskan cengkeraman tangan Zaskia yang berada di kerah baju seragamnya.
Dirasa ada benarnya juga semua ucapan yang dilontarkan oleh Zweta. Namun Zaskia tetap memberikan argumen baru, penasaran apakah Zweta masih tetap berpikir dengan pendiriannya atau malah berpindah haluan dengan menyetujui pendapatnya.
"Sampai kapan kita mau menutupi persoalan Zinta dan teknologinya?" Sahut Zaskia dengan tersenyum menjengkelkan.
Zweta merasa sudah cukup menahan emosinya sejak tadi ia pendam, ia merasa ekspresi Zaskia semakin lama membuatnya semakin kesal. Hingga suatu ucapan yang diinginkan Zaskia pun terdengar dari mulutnya Zweta.
"Bereskan barang yang kiranya penting untuk dibawa ke rumah sakit. Gue akan turun ke lantai bawah rumah Zinta buat memberhentikan taksi yang lewat, lo jagain mereka berdua ya" Sahut Zweta.
Sembari menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan serta bergegas pergi meninggalkannya tanpa memandang wajahnya sedikit pun.
Tap..!!
Suara langkah kaki Zweta sudah terdengar pertanda ia sudah ke lantai bawah rumah Zinta.
"Yes akhirnya berhasil juga" Ucap Zaskia sambil tersenyum kegirangan.
"Duh mulas banget lagi nih perut gue. Gue tinggal sebentar nggak apa-apa kali ya" Ucap Zaskia segera beranjak pergi ke tempat tujuannya.
Nampaknya suara yang mengganggunya sudah tidak terdengar lagi. Zedric memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamannya. Tidak ada perubahan dari ruang laboratorium yang dilihatnya dari masa lalu hingga saat ini. Ia juga sempat melihat-lihat teknologi canggih yang dibuat oleh Zinta, dan ia pun tetap mengakui kejeniusan Zinta walau hanya sebatas dalam hati saja.
Hingga langkahnya terhenti pada kondisi Zinta dan Zevana yang dilihatnya sedang terbaring di tempat tidur. Dengan berbekal ilmu pengetahuan di bidang akademik, Zedric secara tidak langsung sudah membantu luka di kepala Zevana.
Zedric mencuci kedua tangannya dengan sabun dan air terlebih dahulu. Mengambil sarung tangan steril pelapis seperti kain atau kantung plastik juga memastikan tangannya tidak bersentuhan langsung dengan area luka.
"Zweta lo udah balik ya?" Tanya Zaskia dari dalam kamar mandi setelah mendengar suara seseorang sedang mencuci tangan di wastafel.
Zedric mengetahui suara tersebut, kemudian ia segera bersembunyi kembali ke tempat semula.
__ADS_1
...****...
"Taksi pak. Tunggu sebentar ya pak" Ucapnya.
Zweta memberhentikan taksi yang dipesannya serta kembali ke lantai atas untuk membawa serta kedua sahabatnya menggunakan robot pengantar barang.
"Zas ayo cepat taksinya udah nungguin diluar rumah tuh" Pinta Zweta sambil berjalan menaiki tangga lantai atas.
Setelah kembali ke ruang laboratorium, Zweta melihat kondisi kepala Zevana yang sudah diberikan perban medis, hingga ia berpikir bahwa Zaskia yang telah melakukannya.
"Keren juga lo" Ujar Zweta memberikan pujian pada Zaskia.
"Keren kenapa?" Tanya Zaskia yang terlihat baru keluar dari kamar mandi.
"Lo kan yang udah kasih perban di kepala Zevana?" Sahut Zweta sambil tertawa kecil.
"Perban apa sih?" Sahut Zaskia sambil melihat keadaan yang dimaksud Zweta.
"Ko malah nanya balik sih? Udah ah buruan ke bawah, taksinya udah nungguin kita" Sahut Zweta.
Menemani robot pengantar barang yang membawa Zinta hingga sampai ruang tamu saja.
"Gue nggak merasa kasih perban kepala Zevana. Kalau bukan gue, terus siapa dong?" Batinnya Zaskia bercengkrama dan menanyakan, siapakah orang dibalik penanganan luka Zevana?
"Barusan gue udah memberikan penekanan pada luka di kepala Zevana selama 15 menit. Tungguin aja pasti sebentar lagi juga sadar ko" Ujar Zedric sambil berjalan perlahan mendekati Zaskia berada.
Merasa tidak asing dengan suara yang didengarnya barusan, Zaskia segera menoleh ke arah belakang dengan ekspresi yang mengejutkan.
"Hah..lo?" Ucap Zaskia merasa tidak percaya dengan seseorang yang sudah berdiri dihadapannya.
__ADS_1
* to be continued...