Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Final Attack


__ADS_3

Zevana masih dikendalikan oleh pengaruh jahat yang memaksanya untuk bekerja sama melenyapkan Zinta.


Hampir setiap ruangan sudah ia periksa, namun belum juga menemukan seseorang yang dicari. Tiba-tiba langkahnya pun berhenti ketika mendengar suara pintu yang tidak terkunci bergerak dan hanya menyisakan sedikit pencahayaan pada suatu ruangan.


"Aku curiga pada tempat ini" ucap Zevana sambil berjalan perlahan membuka pintunya.


cklek


"Zinta lo ternyata ada disini ya?" tanya Zevana dengan tersenyum.


"Zeva lo udah balik?" jawab Zinta yang menyambut dengan perasaan yang bahagia.


"Iya udah dari tadi kali. Lo lagi ngapain disini sendirian?" tanya Zevana sambil berbicara semakin dekat padanya.


...Akses terhubung...


Terdengar suara sinyal terdeteksi hingga berbicara berkali-kali. Zinta menganggap bahwa suara tersebut berasal dari kehadiran Adnan. Namun rupanya bukan, ia melihat ada kejanggalan yang tersembunyi dari Zevana.


"Zev lo ngapain sih kaya begitu? nggak kaya biasanya deh" ujar Zinta yang merasa risih dengan sikap yang ditunjukkan oleh Zevana.


Zinta dengan refleks mendorong Zevana hingga lengannya terkena sudut meja penelitian.


BRUKK


"Maaf gue nggak sengaja dorong lo barusan" ujar Zinta dengan tetap berjaga diri, agar tidak ada sesuatu hal yang dapat menimpanya.


Lambat laun pusaran angin tersebut muncul dengan sendirinya yang berdiam diri diantara bagian sisi dan belakang Zevana.


"Zev.. lo?" ujar Zinta sambil melihat kearahnya Zevana dengan terkejut.


Zinta mulai berjalan mundur yang sesekali melihat ke sekitarnya dengan alasan agar suatu benda tidak menyusahkan dirinya saat hendak melarikan diri.


"Sekarang waktunya sudah tepat" geram Zevana dengan penuh amarah.


"Ini balasan buat yang udah berani dorong gue !" teriak Zevana memaksimalkan nada suaranya ketika berbicara.


Ia mengerahkan seluruh tenaganya hanya dengan tujuan membalaskan dorongan yang ia terima barusan, ini merupakan ancaman yang setimpal untuknya hingga membuatnya tersungkur kearah pintu ruangan.


Brukk


"Ah sakit" rintih Zinta yang merasakan sakit pada seluruh anggota badannya setelah didorong oleh Zevana.


"Suara apa barusan?" tanya Zweta seorang diri.


Zweta rupanya mengetahui suara yang terdengar seperti orang yang sedang berkelahi.


Untuk memastikannya, ia segera menghampiri suara yang dimaksud dan meninggalkan aktivitasnya untuk beberapa saat.


"Hentikan semuanya. Lo nggak akan bisa terus-terusan mengendalikan emosi Zevana" ungkap Zinta menegaskan ucapannya.

__ADS_1


Zinta berusaha bangkit dan segera terbangun duduk, berjalan mundur dengan bantuan sebuah lantai keramik menjadi tumpuannya.


"Seenggaknya lo harus usir dia Zevana. Lo bukan robot" ucap Zinta yang berusaha menyadarkan sahabatnya dari pengaruh jahat.


Zevana tidak menggubris celotehan Zinta yang terdengar jelas di telinganya. Karena masih dalam keadaan yang belum sadar sepenuhnya, akhirnya Zevana mencoba mendorong Zinta kembali dengan cara membuka pintu mesin Z1 dan membawanya keluar.


Wussh


"Tolong! " teriak Zinta mencari pertolongan untuknya.


"Zevana hentikan! " teriak Zweta yang berlari mendekatinya.


Zweta mencoba memberhentikan niat yang hendak dilakukan oleh sahabatnya dengan cara melayangkan sebuah tamparan keras pada Zevana agar cepat sadar.


Plak


Zevana yang tidak terima atas perlakuan dari sahabatnya pun segera membalasnya dengan cara yang sama, namun yang membedakan adalah dorongan angin. Membuat Zweta terhempas dan tersungkur ke posisi kemudi mesin.


BRUKK


Kemudian pergerakan mesin tersebut menjadi bergeser ke arah kiri, akibat dari Zweta yang didorong oleh Zevana tidak sengaja mengubah arah kemudi mesin.


...****...


Zedric yang masih berpegangan pada besi, mencoba memegang kendali awak mesin dari arah kiri untuk menyeimbangkan ke posisi semula. Namun karena beban berat yang menjadi alasan utamanya, ia tidak bisa menopangnya terlalu lama. Hingga ia inesiatif mengetuk kaca jendela untuk meminta bantuan.


"Zweta tolong buka jendelanya" ujar Zedric sambil mengudara melintasi awan yang menemani perjalanan.


Zaskia yang masih di tempat yang sama, mendengar suara ketukan yang berasal dari luar kaca jendela.


"Zedric?" ucap Zaskia sambil berjalan merambat pada tiap meja sebagai tumpuannya bergerak menghampirinya.


Dengan cara mendekatkan wajahnya pada jendela kaca pun Zedric lakukan, agar terlihat jelas ucapan yang disampaikan. Hingga memperagakan membuka pintu.


"Pintu? hah pintu bukan ya?" tanya Zaskia menerjemahkan yang ia lihat.


Zedric menjawab dengan mengangguk pelan, pertanda jawabannya benar.


"Oke sebentar ya" jawab Zaskia segera bergegas menuju pintu mesin.


Zedric pun mengikutinya dari luar menuju sebuah pintu. Rupanya pintu tersebut sudah terbuka, dengan melihat Zinta yang sedang bersiap untuk segera dijatuhkan oleh Zevana dari ketinggian. Ia segera menaiki awak mesin dengan mudahnya.


"Hentikan Zevana! " teriak Zedric dengan penuh amarah yang ia perlihatkan padanya.


Kedua mata mereka berdua saling berpandangan di tengah keadaan genting seperti ini.


"Lo maunya gimana hah? semua sahabat lo disakitin hatinya. Dan sekarang lo mau buat mereka jadi benci sama lo gitu? atas dasar apa lo bersikap kaya gini?" ungkap Zedric sambil mendorong Zevana dengan pelan.


Zevana terdiam dan mengambil langkah tepat untuk melawannya dengan dukungan pusaran angin membantu yang dapat menyelesaikan masalah diantara mereka. Padahal maksudnya hanya untuk mempengaruhi Zedric agar semakin membenci Zevana.

__ADS_1


"Lo masih belum sadar juga? lo memberikan perhatian kecil ke gue itu untuk apa? yang pasti setelah gue mengikhlaskan Adnan bersama Zaskia, perasaan suka itu datang lagi, tapi pada orang yang berbeda. Hingga akhirnya gue menyimpulkan lo menyimpan perasaan yang sama ke gue Zedric. Tapi semuanya terbongkar gitu aja, setelah gue denger langsung ucapan yang menyakitkan bagi gue adalah, ternyata lo suka sama Zinta kan?" ujar Zevana mengungkapkan perasaanya dengan emosi yang meledak-ledak.


Seketika Amarah yang ditunjukkan oleh Zedric pada Zevana barusan mereda dengan sendirinya. Ia melihat raut wajah Zevana yang berubah dengan menitikkan air mata karena sebuah kesalahannya.


Semua orang di dalam ruangan mesin pun mendengarkan isi hati Zevana yang menyimpan perasaan lebih pada Zedric.


"Jadi Zevana suka sama gue? mungkin dia dengar ucapan gue saat membantu Zinta" gumam Zedric didalam hatinya.


Zedric menatap dalam perempuan yang sedang menangis sesenggukan dihadapannya. Hingga menjadi iba. Zedric pun masih belum menyadari bahwa Zevana sedang dikendalikan oleh pengaruh jahat.


"Maafin gue ya Zev" ucap Zedric mendekatkan dirinya pada Zevana.


Namun semua itu berubah dengan drastis ditunjukkan oleh Zevana.


"Segitu mudahnya hati lo rapuh Zedric" ujar Zevana sambil mencoba mendorong Zedric keluar.


Wussh


...Akses terhubung...


"Zinta biar gue aja yang menyelesaikan semuanya" ucap roh Adnan sambil membawa serbuk lapisan emas masuk ke dalam pusaran angin.


"Adnan?" ucap Zevana yang melihatnya sedang membantu memisahkan pengaruh jahat dari tubuhnya.


"Hei sedang apa kamu disini bodoh?" tanya pusaran angin pada Adnan.


"Kebetulan gue juga masih berbentuk angin yang berhembus seperti lo. Maka dari itu lo harus dimusnahkan secepatnya, agar gue juga bisa kembali ke tubuh gue di kehidupan nyata" ucap Adnan dengan menaburkan apa yang ia bawa ke arah pusaran angin.


"Tidaaaakkk" teriak pusaran angin yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang dengan sendirinya.


Namun ketika angin tersebut benar-benar hilang, posisi Zevana berada di dekat ujung pintu sebuah mesin.


Wussh


"Zevana! " teriak Zinta dengan penuh tangisan penyesalan.


Zevana terjungkal dari ketinggian dengan dorongan angin yang menerpanya. Zedric yang kebetulan terjatuh lebih dahulu, melesat dengan cepat untuk segera menyelamatkan Zevana.


Bersama dengan menghilangnya pusaran angin yang dibuat oleh Zedric, Adnan pun kembali ke tubuhnya. Ia tersadar dan terbangun dari tempat tidurnya.


"Ah kepala gue sedikit pusing" ucap Adnan setelah terbangun cukup lama, akhirnya ia menginjakkan kakinya ke lantai dan beranjak keluar ruangan.


Cklek


Suara pintu telah terbuka, Adnan berjalan terhuyung karena sedang menyeimbangkan tumpuan kakinya. Pandangannya terkejut karena melihat Zaskia yang kebetulan sedang bersandar pada dinding mesin.


"Zaskia?" ucap Adnan.


Zaskia dan kedua sahabatnya pun saling menoleh pada suara Adnan yang mampu mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


__ADS_2