Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Zedfour


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Zas, lo lihat Zweta nggak sih?" Tanya Zinta sambil mencoba menelpon ponsel Zweta, namun tidak bisa dihubungi.


"Nggak lihat. Mungkin udah masuk kelas kali" Jawab Zaskia sambil menghafal bahasa asing yang belum ia kuasai.


"Nggak ada Zas. Tadi gue habis dari sana soalnya" Sahut Zinta yang seolah mempunyai firasat buruk telah dialami sahabatnya.


"Ah nggak tahu, coba tanya Ali aja. Kan dia sepupunya Zweta" Sahut Zaskia yang memberi saran pintas.


"Nggak mau ah, malu gue Zas" Jawab Zinta yang merasa dirinya tidak percaya diri.


"Ya ampun Zinta, emang kenapa sih dia? Oh.. gue tau mungkin lo naksir sama dia ya? Ha haha cie Zinta" Goda Zaskia sambil tertawa geli.


"Ih apaan sih nggak lucu tau" Sahut Zinta yang tiba-tiba menjadi salah tingkah setelah mendengar namanya di telinga.


Namun kenyataannya salah, Ali yang tiba-tiba menghampiri keberadaan Zinta dan Zaskia di halaman sekolah.


"Eh sorry kalian lihat Zweta nggak?" Tanya Ali kepada mereka berdua.


"Loh, baru aja kita mau nanya soal Zweta ke lo" Timpal Zinta yang menjadi bertanya-tanya setelah mendengar ucapannya.


"Jadi Zweta nggak pulang kerumahnya dari kemarin sore" Kata Ali dengan memberi kabar penting.


"Hah serius lo?" Tanya Zinta penasaran.


"Jujur ini serius, makanya gue tanya ke kalian. Biasanya setahu gue Zweta selalu bersama kalian kemanapun berada" Ujar Ali yang mengkhawatirkan keadaan sepupunya.


"Kemarin sore kan Zweta nganterin Zevana ke rumah. Soalnya gue juga terakhir ketemu mereka ya kemarin itu" Sahut Zaskia menambahkan opininya.


"Benarkah?" Tanya Ali yang kini pandangannya beralih menatap Zaskia.


Karena Ali ada keturunan blasteran Inggris dan Pakistan, menjadikan ciri khasnya dengan tatapan mata yang teduh.


"Benarlah, soalnya kemarin emang gue ada disana bersama mereka. Kemungkinan Zweta menginap di rumahnya Zevana. Coba hubungi aja nomernya deh" Jawab Zaskia merespon dengan baik.


"Gue nggak save nomernya Zevana" Jawab Ali dengan santai.


"Gue juga udah hubungin Zevana ko. Jawabannya sama nomer tidak dapat dihubungi" Sahut Zinta dengan jawaban yang tepat.


🏍️BRUM..!!

__ADS_1


Terdengar suara knalpot motor milik Adnan baru singgah di parkiran sekolah. Kemudian ia melihat percakapan antara Zaskia dan Ali dari tempat parkiran sepeda motornya dengan jarak pandang yang jauh.


"Hekh.. baru juga putus kemarin, udah dapat pacar baru aja kamu Zas. Segitu mudahnya ngelupain aku" Ucap Adnan sambil menaruh helm dan berjalan ke ruang kelasnya sendirian.


Padahal penglihatan Adnan salah, Zaskia sedang berbicara dengan Ali juga Zinta. Bukan dua orang yang sesuai dikatakannya barusan.


Teng..!!


Bel tanda masuk kelas berbunyi.


"Gais udah bel, obrolannya dilanjutkan nanti lagi ya. Kita mau masuk kelas dulu" Ujar Zaskia sambil beranjak pergi.


"Lah kan kita emang satu kelas" Jawab Ali sambil tersenyum manis.


Senyumannya mampu mengundang pipi merah merona yang hinggap di wajahnya Zinta.


...****...


Adnan berniat untuk tidak masuk sekolah hari ini. Dikarenakan ada alasan penting, maka ia tetap memaksakan dirinya mengikuti ulangan pelajaran matematika. Jika bukan karena ada ulangan, mungkin ia akan tetap izin tidak masuk ke sekolah.


Saat mengerjakan soal matematika, ia lupa membawa alat tulis pensil yang menjadi pelengkap tambahan ketika sedang berhitung.


"Maaf pak saya lupa nggak bawa pensil" Ujar Adnan memberi tahu pak Rakesh guru matematika.


Adnan tetap mencari ke seluruh isi dalam ranselnya, namun yang ia temukan hanya pulpen yang ia temukan kemarin sore.


"Gapapa kali ya gue pakai ini. Zweta gue pinjam pulpen lo ya?" Ucap Adnan sendirian sambil tertawa kecil.


Ketika Adnan sedang melanjutkan perhitungan perkalian, ia menulis angka nol dengan serius. Tiba-tiba didalam lingkaran nol terdapat angin pasir yang berhembus keluar mengenai kedua netranya.


"Hah apa tuh? Duh.. mata gue kelilipan" Ucap Adnan sambil menutup kembali lingkaran yang ia buat di buku tulisnya tersebut.


"Adnan kamu kenapa? Kalau udah selesai tolong kumpulkan kertas ulangannya Sekarang" Ujar pak Rakesh dengan tatapan penuh kekesalan.


"Belum selesai Pak" Jawab Adnan sambil mengucek kedua netranya.


Teng..!!


Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi..


"Oke waktu ulangan sudah habis, tolong kumpulkan kertas ulangan kalian ke depan. Ohiya karena yang belum kumpulkan ulangannya hanya Adnan saja. Jadi saya beri tugas baru berupa esai yang ada di buku paket materi matematika" Kata pak Rakesh menegaskan perkataannya pada Adnan.

__ADS_1


Seluruh teman-teman kelasnya Adnan mentertawakan dirinya.


"Tapi Pak?" Sahut Adnan dengan cepat.


"Maaf saya tidak mau mendengar alasan yang tidak masuk akal. Sekian dan terimakasih" Jawab pak Rakesh sambil keluar dari ruang kelasnya.


Satu persatu temannya sudah meninggalkannya sendirian di ruang kelas. Kebetulan kelasnya Adnan berdampingan dengan ruang kelasnya Zinta. Adnan tidak tahu harus bertindak bagaimana, ia pun terpaksa tidak bisa beranjak pergi dari tempat duduknya. Karena kedua tangannya sama-sama sedang melakukan tugas untuk menyeimbangkan dirinya sekarang. Semakin lama kedua mata Adnan semakin perih dirasa karena akibat terkena angin pasir.


Aahhhh..!!


Adnan berteriak hingga meneteskan air mata saking perihnya. Beruntungnya ada yang mendengar teriakan Adnan barusan.


"Loh masih ada orang ya? Kirain cuma gue doang disini" Gumam Zaskia didalam hatinya yang kebetulan masih berada di ruang kelasnya karena ada tugas yang belum selesai tadi siang.


Untuk memastikan pendengarannya, ia berlari mengikuti suara tersebut berasal. Ternyata suara itu terdapat di sebelah ruang kelasnya.


"Adnan?" Ucap Zaskia dan berlari menghampiri Adnan berada.


"Nan mata kamu kenapa?" Tanya Zaskia dengan penasaran, ia membuka paksa telapak tangan Adnan.


Wusshh..!!


Suara angin dikelilingi pasir gurun telah keluar dari lubang yang Adnan buat di buku tulisnya.


"Zaskia plis tolongin aku Zas" Kata Adnan yang hampir saja tubuhnya terhisap ke dalam lubang tersebut.


Kemudian Zaskia mencoba meraih tangan Adnan. Zaskia merasa sangat ketakutan melihat keadaan Adnan dan ruang kelas saat ini penuh dengan badai angin pasir gurun.


"Tolong!! Siapapun tolong gue!" Teriak Zaskia dengan ketakutan.


Akhirnya Zaskia berhasil meraih tangan Adnan, dan tetap disana berpegangan pada meja guru ruang kelasnya.


"Kenapa bisa begini sih Nan?" Tanya Zaskia padanya.


"Entahlah. Seingat gue kayaknya berasal dari pulpen milik Zweta" Jawab Adnan dengan gentle tetap melindungi Zaskia dalam dekapannya agar tetap aman.


"Apa pulpen Zweta? Jadi lo tahu dimana Zweta sekarang?" Tanya Zaskia pada Adnan dengan penasaran.


Secara perlahan mereka menjadi sulit bergerak karena adanya angin yang mengelilinginya.


"Iya gue tahu Zas" jawab Adnan dengan serius menatap wajahnya Zaskia dengan lembut.

__ADS_1


*to be continued..


__ADS_2