Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Sebuah Penyesalan


__ADS_3

Zaskia bergerak cepat terbang melintasi bukit dan pohon yang menghalangi pandangannya.


Sepertinya Zed mengetahui pergerakan Zaskia yang tinggal beberapa jarak lagi datang menghampirinya.


"Wah semakin seru saja. Ternyata kalian setia kawan ya?" Ujar Zed sambil tersenyum licik.


Namun salahnya Zaskia disini adalah ia berbicara disaat ingin memukul wajah Zed. Pergerakan tangannya terhenti secara mendadak.


"Apa? Kenapa dia bisa tahu gue disini?" Ucap Zaskia yang menatap Zed yang terlihat menyimpan amarah.


"Zaskia kamu cantik. Tapi sayangnya kamu bodoh" Ujar Zed sambil melempar kembali Zaskia menggunakan satu tangan dengan mudahnya.


"Kamu tidak bisa kembali kemari lagi" ujar Zed mengucap serapah pada Zaskia.


Zaskia terlempar jauh dan sangat tinggi dari permukaan. Setara dengan keberadaan puncak gunung. Kali ini ia terlempar untuk kedua kalinya. Melesat seperti bintang jatuh membawa harapan bagi setiap orang yang melihatnya.


Di tengah perjalanan Zevana melihat seperti ada Bintang jatuh yang melesat dengan cepat.


Cling..!


"Eh lihat tuh ada bintang jatuh" Ucap Zevana sambil memejamkan matanya serta mengucap harapan didalam hatinya.


"Ohiya bener" Sahut Zweta sambil bersikap seperti hal yang sama dilakukan oleh sahabatnya.


"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Zevana dengan merasakan luka di kakinya terlihat sudah ringan untuk diajak beraktivitas.


"Serem banget, kayaknya bentar lagi mau turun hujan deh" Kata Zevana memberi tahu informasi.


"Ko bisa tahu?" Tanya Zweta sambil mengendarai sepeda motornya.


"Emangnya lo nggak lihat? Itu kan kilat" Jawab Zevana sambil menunjuk kearah langit yang ia maksud.


Sepintas Zweta melihat yang ditunjuk oleh sahabatnya, karena ia sadar sedang fokus memperhatikan jalanan yang dipijaknya.


"Oh itu kilat ya? Malah gue pikir itu petir. Soalnya setahu gue kilat masa ada suaranya?" Sahut Zweta yang dirasa penasaran dengan tempat keberadaan petir tersebut.


Dwarr


Terdengar suara petir yang menggelegar seolah menyambut kedatangan mereka berdua ke tempat itu.


"Mereka kira-kira mau pergi kemana ya?" Tanya Adnan turut menumpang duduk di jok motor depan, dekat dengan keberadaan Zweta.


"Duh dingin banget sih anginnya" Gumam Zweta didalam hatinya.

__ADS_1


Zweta merasakan ada udara dingin kemungkinan karena ada Adnan didekatnya.


Di sela-sela obrolannya, mereka mendengar suara keras yang menghantam tanah diantara pohon rindang dan semak belukar.


BRUKK


"Lo denger sesuatu nggak barusan?" Tanya Zweta yang hendak ingin mencari tahu suara itu berasal.


"Denger sih, tapi gue nggak mau kesana ah. Kalau kesasar gimana? Ini aja kita nggak tahu jalan pulang" Jawab Zevana.


Menepis pemikirannya agar tidak bergegas ke tempat itu. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan kembali tanpa menghiraukan suara keras yang sempat membuatnya terperangah.


Namun Adnan berpikiran lain, karena ia melihat dengan jelas saat bintang itu benar terjatuh seperti sebutan namanya. Dengan rasa penasaran itulah ia meninggalkan kedua temannya untuk mencari tahu. Suara langkah kaki Adnan tengah menyusuri pohon dan semak belukar. Ia mendapati seseorang memakai baju seperti astronot dihadapannya.


"Hah gue kira tadi bintang jatuh" Ucap Adnan sambil berbalik badan kembali untuk meninggalkannya.


Namun langkah kakinya berhenti karena ia mendengar suara perempuan yang terbangun setelah terjatuh.


"Ah..aduh" Rintih Zaskia yang merasa seluruh tubuhnya ringsek akibat terlempar jauh.


Seolah tak asing dengan suara yang didengarnya. Akhirnya Adnan pun menoleh ke belakang kembali.


"Zaskia?" Tanya Adnan dengan ekspresi terharu bahagia sambil terisak menangisi suatu keadaan yang mengharuskan mereka bertemu kembali.


"Zaskia benarkah itu kamu?" Tanya Adnan sekali lagi seraya berjalan mendekatinya secara perlahan.


Menekuk lututnya serta bersimpuh didekatnya sambil mengusap air matanya Zaskia. Ia tercengang melihat kondisi tubuhnya yang tidak bisa meraih apa yang dilakukannya. Sentuhan tangan Adnan yang dingin itulah tengah dirasakan oleh Zaskia saat ini.


"Adnan?" Ucap Zaskia sambil menitikkan air mata.


"Mungkinkah ini jawaban yang dimaksud selama ini? Seorang perempuan yang menangis saat aku terbangun adalah Zaskia? Sekarang aku sangat menyesalinya. Kenapa aku dengan tega mengabaikan seorang perempuan yang tulus hatinya? Paling menyakitkannya, aku sudah tidak bisa menggapainya lagi. Mungkinkah ini masih disebut mimpi? Namun kenapa semuanya terlihat nyata?" Gumam Adnan didalam hatinya dengan beribu pertanyaan.


Tin!!


Terdengar suara klakson pada sepeda motor milik Zweta yang mengalihkan pandangan Zaskia dari lamunannya.


"Hah itu kan suara klakson? Mungkinkah itu Zweta dan Zevana?" Tanya Zaskia yang berusaha bangkit serta ingin segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Ia mencoba berdiri namun tumpuan kakinya tidak kokoh. Akhirnya ia berjalan dengan cara merangkak dan menembus tubuh Adnan tanpa diketahuinya.


"Zweta!" Teriak Zaskia memanggil dan seketika menoleh kembali ke belakang tempat itu.


"Dingin banget, tapi gue nggak lihat ada seseorang pun disini" Gumam Zaskia dengan berlari untuk mengejar Zweta.

__ADS_1


Kini tatapan mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Adnan tidak mau mengucap kata yang mungkin saja menandakan ia telah tiada.


Sepertinya dengan cara itu sepertinya tidak mungkin terkejar. Jadi ia memutuskan untuk menggunakan fungsi tombol PLANE pada baju perlindungan yang ia kenakan untuk mencari titik temu keberadaan kedua sahabatnya yang menghilang saat itu. Suara hempasan angin yang membawa Zaskia terbang menambah kecepatan.


...****...


"Kau akan lenyap seketika Zinta" Kata Zed dengan ucapan yang menyakitkan.


"Apa tujuan lo melenyapkan gue? Apa masih ada dendam di masa lalu? Itukah sebabnya lo tetap berada di tempat ini? Atau hanya mengincar sebuah pulpen?" Ungkap Zinta dengan beberapa pertanyaan padanya.


Lambat laun akhirnya Zed mau membuka buku kenangan yang sudah ia tutup rapat-rapat. Sebuah cerita masa lalu mengapa ia sangat membenci Zinta.


...Perihal di masa lalu yang kelam...


...Menetap pada dirinya sendiri...


...Kekecewaan yang mendalam...


...Tidak bisa ia pungkiri...


...Sebuah penelitian...


...Membuat Zed haus akan pujian...


...Tentang kejeniusan dan kehebatan...


🌸🌸🌸🌸


"Zinta kamu mau buat penelitian apa?" Tanya Zed padanya.


"Yang pastinya ini akan menjadi penelitian yang sukses dan sangat membanggakan" Jawab Zinta sambil tertawa bahagia dalam angannya.


Zed yang malang ingin sekali mengetahui apa nama yang akan diberikan oleh Zinta dalam penelitiannya. Sebenarnya tingkat kecerdasan Zed masih dibawahnya Zinta. Karena Zed sudah merasa dekat dengan Zinta, terbesit dalam benaknya untuk mengelabuhi.


Dengan rasa keingintahuannya yang tinggi, ia pun ikut menirukan apa yang telah Zinta buat dalam penelitiannya tanpa ada yang dicurigai oleh Zinta.


"Aku pasti bisa mengalahkan kamu Zinta. Lihat saja nanti" Gumam Zed berbicara didalam hatinya.


"Ohiya Zed, lo harus tetap semangat ya. Jangan mudah menyerah" Ujar Zinta memberikan semangat padanya dengan senyuman.


"Masih merasa polos. Padahal sudah jelas kita sedang bersaing dalam pertandingan olimpiade ini" Gumam Zed dengan ekspresi yang tidak sedap dipandang.


* to be continued...

__ADS_1


__ADS_2