
Sebelum dia meninggalkan wilayah tersebut, Fariz mengatakan sesuatu padanya.
"Aku senang sekali bisa bertemu denganmu, sepertinya kau butuh teman hidup. Percayalah," Fariz tampak sedang menggodanya dengan candaan.
"Ya, aku tahu itu" Sahutnya tersenyum dan beranjak pergi.
"Kenapa tiba-tiba aku merindukannya, ya? Jadi ingin cepat bertemu," Gumam Fariz setelah masuk ke dalam pintu pertama.
Di luar tampak cerah, namun suhu dingin tetap ingin mengikuti di setiap langkahnya berada.
"Dia bahkan mengingatnya dengan baik," Gumam Zedric seraya menyusuri sepanjang jalanan menggunakan sepatu jetnya.
Setelah sekitar beberapa meter menembus sebuah bukit, tibalah ia di kediamannya.
"Aku pulang," Ucap Zedric sambil menyalakan lampu suatu ruangan.
"Kejutan!" Seseorang berseru kegirangan, setelah Zedric datang menghampirinya.
"Kau bukannya..." Ujarnya terkejut.
__ADS_1
"Maaf ikut campur urusan kalian. Aku hanya ingin memberitahu, kalau dia sudah menunggumu lama sekali disini," Ujar wanita paruh baya sambil tertawa.
"Benarkah?," Tanya Zedric dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
"Tidak," Ucapnya seraya menggeleng.
"Maksudku tempatmu bukan disini, sebaiknya kau segera pulang. Karena seseorang sedang menunggumu di rumah," Zedric mengatakannya secara langsung.
"Aku semakin tidak mengerti dengan ucapannya," Gumam wanita paruh baya tersebut.
"Kau bilang, kebiasaan buruk ku bisa diubah kan?," Ujar Zinta yang tampak bersedih.
"Tentu saja," Sahutnya.
"Sudahlah jangan kau teruskan perdebatan ini! Seharusnya yang kau marahi itu aku, bukannya dia! Tadi pagi, aku menemukannya saat sedang melihat gaun pengantin di sebuah toko. Bahkan istrimu ingin menikah kedua kalinya denganmu! Dia sudah berhias diri, setidaknya kau bisa sedikit menghargai jerih payahnya. Aku tak tega melihatnya terus bersedih seperti itu," Wanita paruh baya tampak emosi dibuatnya.
"Maafkan aku," Zedric menatapnya dan tampaknya ia segera berlari keluar sekencang-kencangnya.
"Itu yang ku maksud! Kejarlah dia sampai dapat!," Ucap wanita paruh baya sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Demi menghindari hal itu, Zinta terus bergerak. Tak ada pilihan lain, selain melintas dan mengikuti jejak yang tampak di hadapannya kini.
"Aku merasa, kulitku ini tidak akan cocok dengan udara dingin," Ujar Zaskia yang baru saja keluar dari sebuah tempat sauna bersama sahabatnya.
"Setidaknya, kau punya pengalaman baru di tempat antah berantah ini," Jawab Zweta seraya menyeruput mie instan.
"Zinta tunggu!," Seseorang berseru dan terdengar samar dari kejauhan.
"Apa kau mendengar sesuatu?," Tanya Zaskia sambil memberhentikan langkahnya.
"Tidak ada. Aku mendapat laporan bahwa hari ini, akan ada badai salju. Berjalanlah lebih cepat lagi, agar kita bisa kembali ke dalam ruangan mesin Z1 tepat waktu," Ujar Zweta memberitahu.
"Kita sudah membawa perbekalan, dan kemudian kembali lagi? Apa kau sudah gila! Aku tak mau ikut denganmu, tentu untuk kali ini saja," Jawab Zaskia tak terima.
"Terserah kau saja. Bila ada sesuatu yang menyerang, jangan cari aku!" Sahut Zweta dan tetap pergi dengan tujuannya.
"Apa benar begitu ya? Zweta tunggu! Aku hanya bercanda barusan, jangan tinggalkan aku disini sendirian!," Zaskia berseru ketakutan dan mengejarnya dari belakang.
Lantaran tak tahu apa yang ingin dilakukan, Zinta tampak menaiki sebuah tangga dan duduk diantara bangku yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Aku tak tahu sekarang berada di mana, yang pasti dia tak bersamaku disini," Gumam Zinta dan seketika mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya.
* to be continued..