Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Ruang UKS


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir telah selesai, pertanda saatnya bel pulang sekolah berbunyi.


Teng...!!


"Yaudah gue mau jenguk Zevana dulu ya" Ucap Zweta dan segera bergegas pergi ke ruang UKS.


Zweta berjalan cepat seperti sedang ditagih hutang, batinnya saat ini berpusat pada kalimat.


"Duh gawat...kenapa jadi makin rumit gini sih keadaannya" Gumam Zweta di dalam hatinya, mengucap hingga beberapa kali.


Hatinya semakin risau terlebih ia sempat menoleh ke arah sebelah kiri dari pandangannya, ia melihat Bu Lolita sedang berjalan sendirian sambil membawa buku paket pelajaran yang berlapis tebal.


Sepertinya Bu Lolita juga akan ke tempat tujuan yang sama dengan Zweta. Dengan kekuatan sinyal, feeling-nya semakin kuat. Ketika ia mendengar pembicaraan Bu Lolita dengan salah satu guru lainnya yang mengajar pelajaran matematika disana.


"Mau pergi kemana Bu?" Tanya pak Rakesh guru matematika datang menghampiri Bu Lolita saat hendak ke ruang UKS.


"Eh iya Pak, ini saya mau ke ruang UKS" Jawab Bu Lolita yang sempat terhenti langkah kakinya, karena ia disapa oleh rekannya.


Sontak saja, Zweta menjadi terkejut mendengar perihal tersebut.


"Hah ruang UKS? Waduh.. gue harus cepat-cepat kesana nih, jangan sampai keduluan Bu Lolita" Kata Zweta dengan perasaan yang semakin panik.


Sesekali ia juga tetap melirik kearah persinggahan Bu Lolita berada, hanya untuk melihat situasinya.


"Oh yang tadi pagi ada wacana baru tentang Zevana dengan orang yang tidak dikenal, ya Bu?" Tanya pak Rakesh kembali.


"Iya bener Pak, aduh kepala saya sampai pusing ini Pak mikirin kaya beginian" Sahut Bu Lolita kembali.


Sembari berjalan dengan raut wajah yang terlihat menampakkan emosi meledak-ledak. Beliau segera meninggalkan rekan kerjanya di tempat tersebut.


Kini Zweta berlari dengan tergesa-gesa. Saking cepatnya berlari, ia hampir saja menabrak siswa-siswi yang sedang berlalu lalang di hadapannya.


"Minggir! Awas gue mau lewat!" Seru Zweta dengan nafas yang tersengal-sengal.


Keadaan jadi semakin tegang, seperti sedang melakukan perlombaan balap lari, siapa cepat dia yang dapat.


Di dalam dekapan hangat Adnan, Zaskia terbangun dari tangisannya. Ia kemudian mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat wajah kekasihnya dari dekat, dan percaya bahwa ini suatu kenyataan.


Suara pintu ruangan dibukanya secara perlahan oleh seseorang dari arah luar, membuat keadaan semakin bertanya-tanya, siapakah dia?


Zaskia dan Adnan dengan serentak melihat kearah pintu yang secara tiba-tiba terbuka tersebut. Secara perlahan dan diiringi cahaya silau matahari dihadapannya.

__ADS_1


"Hah siapa yang datang Nan?" Tanya Zaskia.


Sambil berjaga-jaga ia melepas dekapannya, mencoba menghindar dan bersembunyi di bawah tempat tidur pasien yang disinggahi Zevana berada.


"Entahlah" Jawab Adnan sambil menyipitkan matanya dan tetap disana tidak berpindah, seperti hal yang dilakukan Zaskia barusan.


Cklek


"Zevana" Kata seseorang dari balik pintu arah luar.


Ternyata seseorang dari balik pintu itu adalah Zweta yang datang sambil membawa makanan bekal untuk sahabatnya yaitu Zevana.


Dengan nafas yang tersengal, ia segera menutup pintu dan jendela, tak lupa ia juga mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam agar terlihat aman.


"Adnan? Lo ngapain disini?" Tanya Zweta dengan menatap curiga padanya.


Ia bertanya seperti itu, karena dalam pandangannya hanya melihat Adnan dan Zevana berada di ruangan tersebut.


Suasana hening seketika, disaat Zweta melontarkan beberapa pertanyaan padanya. Adnan berdeham singkat, mengatur nafas dan tersenyum senormal mungkin.


"Gue..." Ucap Adnan sambil memikirkan kalimat jawaban yang mesti ia katakan.


Kemudian pandangan mereka kini berpusat pada Zevana, yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Zevana ya ampun, gimana keadaan lo?" Tanya Zweta sambil memeluk sahabatnya.


"Alhamdulillah udah baikan ko Zweta" Jawab Zevana sambil mengusap kakinya yang terasa sakit.


"Semua ini pasti ulahnya Zaskia kan? Gue dapat kabar dari Zinta, dan beritanya udah terdengar sampai ke satu sekolahan. Lo tahu nggak dimana Zaskia sekarang?" Tanya Zweta sambil ikut duduk di tempat tidur yang disinggahi sahabatnya.


Krekk..!!


Bunyi dari suara besi tempat tidur yang Zweta tumpangi terdengar bising di telinga Zaskia, karena ia berada di bawahnya. Adnan hanya bisa terdiam dan mendengarkan obrolan mereka saja.


"Di bawah" Jawab Zevana dengan singkat.


"Di bawah? Maksudnya?" Tanya Zweta kembali.


"Aw.." Ucap Zaskia bersuara pelan, karena merasa kepalanya terbentur besi tempat tidur.


"Iya dibawah tempat tidur yang kita singgahi sekarang" Jawab Zevana memperjelas ucapannya.

__ADS_1


Zweta pun terkejut mendengar ucapan Zevana, segeralah ia menengok ke bawah, dan tepat sekali ada Zaskia disana sedang bersembunyi.


...Kita hidup sambil berkelana...


...Ditemani dengan ribuan cahaya...


...Mencari seseorang yang sederhana...


...Bisa bertanggung jawab dan dipercaya...


...****...


"Zaskia? Ngapain lo disitu? Oh gue tau.. lo takut kan kalau identitas lo ketahuan sama pihak sekolah? Ha haha" Ujar Zweta sambil tertawa padanya.


"Eh Zweta. Dih siapa yang takut lagi" Jawab Zaskia sambil mengelak.


"Kalau lo nggak merasa takut, tolong dong lo keluar dari persembunyian lo sekarang!" Sahut Zweta yang semakin emosi melihat kelakuan Zaskia.


"Udah deh cepetan keluar dari situ, toh semua orang yang ada di ruangan ini juga udah pada tahu" Sahut Zevana.


"Ih apaan sih" Sahut Zaskia sambil keluar dari tempat persembunyiannya.


Sekarang Zaskia menjadi tak berkutik, ia tidak tahu harus berlari dan bersembunyi kemana lagi atas tindakannya yang brutal tersebut.


"Zweta gue..." Sahut Zaskia dengan lirih.


"Nggak.. gue nggak mau denger alasan apapun dari lo!" Timpal Zweta yang kini menjadi sangat marah melihat wajahnya Zaskia.


"Iya gue tau, gue salah" Sahut Zaskia sambil memegang tangannya mencoba mengalihkan perhatian Adnan agar bisa melindunginya.


"Kalau lo sadar itu tindakan yang salah, kenapa masih dilakukan hah?" Sahut Zweta dengan tegas.


"Ia maaf deh" Jawab Zaskia yang kini mulai menangis mendengar ucapan Zweta.


"Maaf? Segitu gampangnya lo bilang maaf hah? Lo udah gila ya Zas? Cuma gara-gara Adnan deket sama Zevana, lo sampai segitunya? Brutal tau nggak!" Sahut Zweta kembali dengan nada emosi yang stabil.


"Plis maafin gue Zweta, gue ngelakuin itu semua karena gue cemburu sama Zevana! Bukan hanya itu aja, Adnan juga kayaknya udah mulai kesemsem sama dia. Apalagi sekarang dia udah berubah nggak kaya dulu" Ujar Zaskia sambil terisak menangisi kesalahannya.


"Apa? Cuma gara-gara Zevana merubah penampilannya jadi makin cantik, lo merasa risih gitu? Iri? Dan takut tersaingi? Jadi orang, jangan pernah merasa dirinya paling sempurna di dunia ini, karena diatas langit masih ada langit!" Sahut Zweta dengan gemas.


*to be continued...

__ADS_1


__ADS_2