
...Hadirmu semakin nyata...
...Mengerti pada semua cara...
...Hati pun mulai berkata...
...Tentang kita yang mampu berusaha...
...Bahasa yang menenangkan jiwa...
...Jarak bisa saja menjauhkan...
...Seseorang yang dinantikan...
đ¸đ¸đ¸
Adnan menjadi pusat perhatian diantara mereka yang berada di tempat yang sama yaitu di ruangan mesin. Rasa haru itu pun ikut hadir membanjiri setiap kalimat yang diucapkan olehnya.
"Hei jangan nangis dong" ucap Adnan yang melihat kekasihnya hanya bisa menangis melihat kehadirannya.
Kemudian Adnan menghampiri ke arah Zaskia yang bersandar pada dinding mesin.
"Kamu kenapa nangis gitu sih?" tanya Adnan kembali sambil mengusap air matanya Zaskia.
Rasa rindu itu sudah tidak bisa berdiam lagi di hatinya Zaskia. Ia segera mendekati Adnan yang kini sedang berada di hadapannya.
"Kamu kangen ya sama aku?" ucap Adnan sambil tersenyum melihat perlakuan Zaskia yang manja yang kini dalam dekapannya.
Ucapan Adnan membuat air matanya Zaskia semakin deras saja. Kehadirannya menjadikan suasana lebih hidup dari hari biasanya.
"Nan" ucap Zinta yang juga ikut menangis melihat Adnan dari jarak tempat duduknya yang berada disamping pintu mesin.
Adnan pun menoleh setelah seseorang yang menyebut namanya terdengar dalam keadaan menangis sesenggukan.
"Zinta? ternyata lo disini juga?" tanya Adnan yang semakin bingung melihat dua perempuan yang dikenalnya dalam keadaan yang memprihatinkan.
Kemudian Adnan membantu Zaskia berjalan untuk menghampiri Zinta yang sedang duduk sendirian.
"Hati-hati ya" ucap Adnan memberitahu Zaskia saat melangkahkan kakinya.
Zinta yang masih tidak percaya Adnan bisa bergabung kembali dengan mereka, membuktikan bahwa penelitiannya berhasil. Walaupun sempat terdapat banyak kendala yang dihadapi, Zinta percaya dengan kalimat tidak ada usaha yang menghianati hasil.
"Kalian ko bisa nangis barengan sih" ujar Adnan tetap menanyakan sesuatu yang membuatnya berpikir.
"Sebenarnya memang dalam penelitian gue ini berdasarkan teori aja, tapi jika dipikirkan secara ilmiah semua itu bisa terjadi. Pada dasarnya gue selalu mencari tahu apapun dalam pikiran sendiri yang terdengar masuk akal" gumam Zinta didalam hati.
__ADS_1
Adnan sebagai penengah diantara dua orang yang sedang menangis, menjadikan bahunya sebagai tempat untuk bersandar.
"Semoga hati kalian menjadi lebih tenang ya" ucap Adnan sambil melihat keadaan keduanya.
Karena berhubung pintu mesin masih dalam keadaan terbuka, pemandangan awan dan langit pun menjadi saksinya yang tidak bisa menjauh dari aliran angin.
"Apakah sekarang kita lagi didalam pesawat?" tanya Adnan sambil memperhatikan tiap sudut ruangan disekitarnya.
Belum ada satu pun yang berani menjelaskan pada Adnan mengenai keadaan yang sebenarnya.
...****...
Tercatat dari ketinggian langit yang membuat Zedric bertemu kembali dengan Zevana.
"Sekarang keputusan apa yang mesti lo ambil? menjauh pun menjadi tidak berguna. Hai langit berikanlah jawaban yang tepat, siapa seharusnya yang gue pilih?" gumam Zedric didalam hatinya sambil melihat pemandangan langit yang memberikan makna tersendiri.
Zedric merasa beruntung karena langit pun dapat menjawab pertanyaannya. Menghadirkan seseorang yang mungkin saja menjadi pilihannya.
Wussh
Merasa ada sesuatu yang melintas dari ketinggian yang kini dapat berjajar dengannya bersama hembusan angin disekitar mereka.
"Zevana?" ucap Zedric menoleh dengan menarik lengan Zevana dalam dekapannya.
Mereka mengudara melintasi awan pada malam hari. Suasana yang dingin tersebut menambahkan kesan romantis, agar mereka tetap selalu bersama.
Adnan yang sedang menatap langit dari dekat, tiba-tiba terkejut melihat seseorang yang datang dan masuk ke dalam ruangan mesin.
Tap
"Siapa?" ucap Adnan sambil melihat keadaan Zevana terbaring pada seseorang yang membopongnya.
"Kita sudah sampai Zevana" ucap Zedric dengan tetap berjalan melewati ketiga orang yang sedang duduk didekat pintu mesin.
Karena efek lelahnya yang menjadi alasan utama Zedric mengabaikan mereka sementara waktu. Tujuannya sekarang adalah mencari tempat tidur untuk membaringkan Zevana yang masih belum sadarkan diri.
"Zedric kalian selamat" ujar Zinta dengan haru bahagia setelah tangisan sempat menghiasi wajahnya.
"Zedric?" gumam Adnan didalam hatinya.
Lengan baju Zinta ditahan oleh Zaskia, dengan maksud agar Zedric menghampirinya sesuai inesiatif sendiri.
"Tunggu sebentar Zin. Biarin aja dia nemuin Zevana dulu" ucap Zaskia memberitahu dengan suara yang pelan.
"Oke" jawab Zinta dengan singkat.
__ADS_1
Setelah memberikan bantal dan selimut untuk Zevana, ia keluar dari ruangan tersebut.
Melepaskan baju perlindungan yang dikenakannya, serta mengambil beberapa air minum untuk diberikan pada sahabatnya.
"Kayaknya mereka butuh minum deh" ucap Zedric sambil beranjak pergi.
Zweta hanya bisa menangis sendirian di tempat kemudi mesin. Ia butuh seseorang untuk tempatnya bersandar.
Ingin menghampiri ketiga sahabatnya pun tidak bisa. Seluruh anggota badannya masih terasa sakit, akibat yang dilakukan oleh Zevana dalam kondisi masih dikendalikan oleh pusaran angin.
Hiks.. Hiks..
"Zweta lo gapapa kan?" tanya Zedric menghampirinya ketika hendak mengambil air minum yang tidak jauh dari tempat Zweta berada.
Dengan perasaan penuh iba, Zedric berinisiatif untuk menaruh kepala Zweta di bahunya, agar tidak ada rasa canggung diantara mereka.
"Semoga dengan bahu ini bisa nenangin diri lo" ujar Zedric sambil memberikan tisu pada Zweta.
"Makasih ya tisunya" jawab Zweta sambil mengangguk pelan.
Kini perasaan Zweta sudah sedikit membaik, karena emosinya sudah dituangkan melalui air mata. Kehadiran Zedric juga menjadi salah satu alasan baginya untuk melupakan.
Waktu terus berjalan, Zedric yang merasa lelah tidak sadar malah tertidur dalam keadaan duduk diatas lantai keramik, dan bersandar pada meja kemudi mesin. Begitupun dengan Zweta yang merasa nyaman dengan bahu Zedric yang seperti bantal untuk menemaninya tidur.
"Setelahnya mungkin gue nggak akan menetap disini. Karena semakin dekat dengan lingkaran mereka, maka akan dalam juga perasaan gue" gumam Zedric didalam hatinya yang mengantarkannya pada sebuah mimpi, ketika ia terlelap tidur.
"Anginnya dingin banget" ucap Zaskia dengan suara menggigil kedinginan.
"Kalo gitu biar aku tutup ya pintunya" sahut Adnan beranjak bangun dan mencari pegangan pintu mesin.
"Baru kali ini gue naik pesawat pintunya kebuka" ucap Adnan melihat pandangannya kebawah langit.
"Wow" ucap Adnan terkejut diiringi suara detak jantung yang berdegup kencang.
"Hati-hati" ujar Zinta memberitahu pada Adnan.
"Iya makasih" jawab Adnan menutup sebuah pintu seorang diri.
Kemudian Adnan membaca sebuah tulisan di sebuah pintu mesin yang dibaca seperti ini.
"Mesin Z1 time travel?" tanya Adnan pada Zinta yang ingin segera mengetahui maksud dari tulisan tersebut.
"Lo emang nggak bisa ingat semuanya Nan. Tapi yang pasti kehadiran lo berguna banget buat kita semua" gumam Zinta didalam hatinya sambil menatap wajah Adnan yang terlihat jelas sedang menerka sesuatu.
"Jika semuanya dapat menimbulkan masalah baru, mendingan gue mundur aja" ucap Zweta yang berbicara didalam mimpinya.
__ADS_1
Akhirnya Zedric menuruti permintaan Zweta yaitu mengabaikannya. Padahal semua itu hanyalah sebuah mimpi sesaat yang secara tidak langsung memberitahunya.