
Letak permukaan yang berbeda menjadikan keduanya terjerembab tak berdaya, dan mengingatkan kembali pada seseorang di zona waktu yang terpisah tanpa kawan.
Setelah tidur beberapa lama, Zinta melihat langitnya gelap dan entahlah hanya ada rasa dingin ekstrem yang melindunginya. Ia juga masih bisa mendengar bunyi udara yang saling berhembus memperhatikan di suatu wilayah antah berantah ini.
Tiba-tiba ia mendengar langkah berjalan setapak demi setapak mendekati, kepalanya masih terasa sakit dan ingin berseru meminta bantuan, namun yang keluar dari ucapannya hanyalah sekumpulan awan putih saja.
"Dingin!!" Seseorang berteriak sembari bersikap acuh demi menahan tebalnya suhu dingin yang menderu.
"Lihatlah ekspresinya lucu sekali kan? Dia pasti sangat kedinginan. Ciri khas suaranya yang lantang, menambahkan pesona baru dalam dirinya. Banyak juga gadis yang menaruh hati padanya, namun hingga saat ini tak kunjung datang seorang pendamping yang menemani" Ucap seorang perempuan blasteran dengan usia tak tertebak memandangnya dari kejauhan.
"Dia kan masih sekolah, kenapa sudah mengkhawatirkan soal pendamping hidup?" Gumam seorang lelaki disampingnya.
Perempuan blasteran itu hanya bisa menyimak sambil sesekali tersenyum setiap lelaki yang kedinginan itu bertingkah tanpa ia tahu ada yang memperhatikannya.
Tak lama, datanglah lelaki disampingnya sambil membawa beberapa lembaran kertas ujian dan menghampiri kawannya. Dia yang menjadi pusat perhatian perempuan blasteran bernama Sheila.
"Far! Ada kabar baik, coba lihat kemari sebentar. Akhirnya gue dapat tanda kelulusan penelitian" Ujar Salman memberitahu hari kebahagiaannya.
"Wah yang benar? Lo lagi nggak bercanda kan? Sebentar lagi gue juga mau nyusul nih. Tunggu ya, mungkin setelah penelitian ini selesai dan mendapatkan hasil yang maksimal" Sahutnya.
"Maksimal? Menurut gue sih lebih tepatnya kearah kurang kerjaan, udahlah akhiri aja penelitian macam ini" Salman menjawab pertanyaan Fariz, yang sedari tadi melihat keadaannya langsung disergap aura kepanikan.
Salman melihat perlengkapan yang dikenakan Fariz sudah mulai ditanggalkannya satu persatu, termasuk sepasang sepatu serta perlengkapan lainnya.
"Jangan bilang kalau, lo lagi buat penelitian cara bertahan hidup menyulitkan diri sendiri" Ejek Salman.
"Terserah apa sebutannya, yang pasti gue nggak asal menulis laporan. Bukankah hasil maksimal itu didapatkan dari usaha? Nilai tambahnya adalah mendapatkan kejutan yang tak terduga" Timpal Fariz.
"Coba ikutin ya, minimal lepas sepatunya deh. Daripada cuma bisa menyaksikan tanpa dukungan" Pinta Fariz pada kawannya.
Salman melirik perempuan blasteran itu yang tertawa saat menyadari keraguannya.
"Oke. Siapa takut" Salman menjawab seraya mengikuti tantangan yang ditujukan kepadanya.
Hanya butuh tidak kurang dari semenit, Salman sudah mulai menyerah dan kembali menggunakan sepasang sepatunya.
"Argh dingin!" Pekiknya.
__ADS_1
"Ha haha. Benar kan dugaan gue, lo nggak bisa menyamaratakan kemampuan seseorang sesuai keinginan" Fariz tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
Pada saat itu, Sheila menghampiri mereka yang tengah sibuk berdebat. Tak lupa namanya diucapkan satu persatu, agar mudah disampaikan dengan tepat. Suaranya memang sangat lembut dan tidak terdengar jelas walaupun dalam jarak dekat sekalipun. Entahlah mungkin dia pemalu, dan anggap saja lelaki yang ditaksir berada didekatnya.
"Fariz, Salman cepat kembali ke dalam ruangan. Sebentar lagi kita akan melanjutkan perjalanan" Ucap Sheila.
"Salman, lo denger dia ngomong barus..?" Tanya Fariz yang seketika pembicaraannya terputus, akibat desakan kawannya.
"Kita kesana bareng ya. Soal dia biarin aja, nanti juga bakalan nyusul belakangan ko" Ucap Salman meninggalkan Fariz sendirian di halaman itu.
"Tapi" Sahutnya.
"Katanya disuruh cepat? Gapapa lah cuma gue doang" Sahut Salman sembari tersenyum.
Hingga suara keduanya pun tidak terdengar lagi, tanda bahwa mereka sudah benar-benar menjauhinya.
"Ternyata dia datang kesini cuma mau nyari perhatian Sheila" Ucap Fariz mendengus kesal.
Fariz melewati banyak jejak kakinya sendiri yang sudah menetap pada hamparan berwarna putih tersebut. Ia juga merasakan hal berbeda dari biasanya, yakni alas permukaannya seperti menginjak sesuatu dan disentuhnya hanya menggunakan jemari kakinya.
Tiba-tiba ia tersentak ketika sesuatu yang sedang dijamak, malah menangkap alas kakinya. Refleks ia segera mengangkat bahunya.
"Argh! Barusan siapa yang pegang kaki gue ya?" Fariz melompat berdiri dan memandang sebuah benda yang ditemukannya.
"Benda ini kan penunjuk arah atau jangan-jangan?" Fariz bertanya-tanya dalam benaknya.
Malam itu mengerikan, lantaran ia menyadari jika hanya tersisa dirinyalah yang sedang melakukan kegiatan. Ia segera menggali tumpukan saljunya, siapa tahu mendapatkan data informasi guna melengkapi penelitiannya.
...Menepis hati yang kalut...
...Keadaannya risau tak terpaut...
...Terkadang pikiran pun tersulut...
...Menjaga lisan dan menutup mulut...
đ¸đ¸đ¸đ¸
__ADS_1
"Siapa yang berani meninggalkan seorang gadis sendirian di tempat ini? Dia harus segera ditangani. Jika tidak, maka nyawanya nggak sempat tertolong. Apa ini termasuk gejala hipotermia?" Gumamnya sambil menerka sejenak.
Fariz bertindak gesit sembari mengenakan kembali sepasang sepatunya yang sempat ditanggalkan. Terkecuali jaketnya yang masih menganggur, ia gunakan untuk melindungi gadis yang baru saja ditemukannya tersebut.
"Semoga dia baik-baik saja" Gumam Fariz didalam hatinya.
Ia membopong Zinta sambil berlarian, walaupun terpaan anginnya yang semakin kencang itu sudah mulai menggigit tubuh Fariz. Ruang medis dijadikan tempat tujuan mereka singgah, tepat berada di ruang mesin miliknya, dan segera memberitahu semua rekan akademisi nya untuk membantu keadaan secepat mungkin.
"Dokter, tolong bantu tangani ya. Kita kedatangan pasien dadakan" Ujar Fariz memberitahunya.
"Siap" Sahut perempuan blasteran itu yang ternyata seorang Dokter sedang menghampiri pasiennya.
"Lo ketemu pasien dimana sih Far? Padahal udah malam juga, bisa-bisanya dapet. Mana perempuan" Tanya Salman sambil mengernyitkan dahinya.
"Soal itu nanti dibahas lagi, yang terpenting gadis itu selamat" Fariz menjawab sambil mengikuti Sheila membawa brankar menuju ruang medis.
"Lo juga ikut penanganan medisnya kan?" Tanya Fariz berbicara serius.
"Tentunya. Saran dari gue sebaiknya lo nggak usah ikut masuk kedalam deh" Pinta Salman seraya menahan Fariz agar tetap diluar ruangan.
"Oke paham. Pasti karena perasaan gue yang semakin panik kan?" Sahut Fariz seraya mengamati.
"Anda benar" Jawab Salman seraya menutup pintu ruang medisnya.
Penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan.
"Bagaimana Dok? Apakah bisa diselamatkan nyawanya?" Salman menanyakan saat sebelum memulai penanganan khusus medisnya.
"Entahlah" Jawab Dokter Sheila menatap lawan bicaranya dengan serius.
Sementara di luar ruangan, Fariz masih saja memikirkan pertanyaan yang selalu bergumul di dalam benaknya. Ketakutan pun mulai menghantui. Maka ia menarik napas panjang, menata kata didalam kepalanya, lalu mulai mengungkapkan perasaannya.
"Kira-kira apa yang menyebabkan gadis itu tertimbun?" Tanya Fariz.
* to be continued..
đ¸đ¸đ¸đ¸
__ADS_1