Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Kejeniusan Zinta


__ADS_3

"Hukum kekekalan massa, hukum kedua Newton dan hukum kekekalan energi" Ucap Zinta sambil membaca buku prinsip dasar fisika.


Kemungkinan terjadinya perjalanan melintasi waktu. Berdasarkan yang Zinta pelajari dalam sains.


"Teori Albert Einstein yang mengacu pada konsep ruang dan waktu" Ucap Zinta dengan berpikir cepat.


Angin dalam konsep ilmu fisika bisa diartikan sebagai aliran udara, bisa terbentuk diantara dua zona atau tempat yang memiliki suhu yang berbeda.


"Zin-ta?" Ucap Zaskia merintih kesakitan sambil mencoba bangun dari pendaratannya yang berada di atas kaca kendaraan sahabatnya.


Setelah mendengar instruksi darinya, kemudian ia tetap mengikuti sesuai petunjuk yakni berdiam di tempat awal. Selain itu juga terdapat suatu keadaan dimana disaat membenarkan posisinya, ia malah terpeleset jatuh sambil mengayunkan tangannya keatas dengan kecepatan 120 kilometer per jam. Suara badai angin menemani Zaskia terjatuh dari kecepatan tinggi.


"Zaskia?" Ucap Zinta yang kini menjadi sangat terkejut histeris melihat sahabatnya jatuh.


Suara pintu telah dibuka olehnya. Kemudian Zinta segera keluar dari zona nyamannya tersebut, dan tak lupa mengandalkan ikatan tali pada lingkar pinggangnya yang ia tumpukan pada pegangan jok sepedanya, sambil melompat untuk meraih tangan Zaskia.


"Zaskia!!" Teriak Zinta.


Suaranya mampu menyaingi suara badai angin pasir yang bergemuruh di sekelilingnya.


...Perkiraan sebuah kesedihan...


...Tapi kenyataannya bukan...


...Ini sebuah keajaiban...


...Membawa kabar keselamatan...


Padahal badai diperkirakan sangat kuat dengan pusaran angin dengan kecepatan 120 kilometer per jam atau lebih. Zinta berhasil meraih tangan Zaskia yang hampir saja tidak selamat.


Ia segera membawanya untuk naik kembali keatas sepeda. Melakukannya pun tidak semudah membalikkan telapak tangan, Kekuatan tali sempat terkatung-katung dengan kuatnya badai angin pasir.


Akhirnya Zinta mampu melewatinya, dan menarik Zaskia kedalam sepeda miliknya tersebut.


"Alhamdulillah syukurlah kita selamat" kata Zinta dengan nafas yang memburu.


Keadaan Zaskia terlihat tidak dalam kondisi baik. Kedua netranya berwarna sangat merah, jika ia membukanya walau hanya sekejap, maka itu sudah termasuk lama, jika ia berada di dalam pusaran angin.


"Ad..nan.." Ucap Zaskia yang berbicara terbata-bata dengan suara yang pelan didengar.


"Zas lo ngomong apa?" Tanya Zinta sambil menangis melihat sahabatnya.


Ia inisiatif mendekatkan telinganya pada ucapan Zaskia.

__ADS_1


"Ad..nan.." Ucap Zaskia kembali.


"Adnan? Adnan kenapa Zas?" Tanya Zinta yang menjadi panik.


Kemudian Zinta bergerak cepat mengambilkan obat tetes mata dan air minum untuk sahabatnya. Keadaan sudah sedikit membaik, Zaskia bercerita bahwa Adnan berada di tengah pusaran badai angin tersebut. Pulpen Zedfour berada di saku kantung celananya Adnan, dan buku tulisnya berada di ruang kelasnya.


"Apa? Jadi yang gue baca di titik koordinat itu Adnan? Bukan Zweta?" Sahut Zinta yang segera memutarkan awak kapal sepedanya.


Bergerak dengan kecepatan tinggi, perjalanan terus berlanjut pada tujuan tempat Adnan berada. Ia melihat kondisi Adnan yang terkatung-katung disana.


Kendaraan Zedtwo mampu membawa mendekatkan diri pada persinggahan Adnan, ikut masuk ke dalam pusaran.


Aahhhh..!!


Kemudi telah dibantu oleh Zaskia, seperti hal yang sama dilakukan saat menyelamatkan Zaskia, yakni Zinta memberanikan dirinya keluar melompat dan satu tangannya berpegangan pada tiang kendaraannya, dan satu tangan kanannya memegang pergelangan tangan Adnan dan menariknya sekuat tenaga.


"Zaskia bantu tarik!!" Teriak Zinta.


Zaskia mengikuti instruksi sahabatnya itu dan berhasil menyelamatkan Adnan dari badai angin pasir.


Zinta terjatuh kedalam bersama Adnan dengan dorongan angin.


BRUKK


"Adnan bangun..Nan" Ucap Zaskia menangis sesenggukan.


"Ini dia pulpennya" Kata Zinta yang segera mengambil dari saku celananya Adnan.


Ia menyentuh tulisan Zedfour dan mengambil serbuk lapisan warna emas pada pulpennya, dan menaburkan pada badai angin pasir diluar.


"Zinta lo ngapain?" Tanya Zaskia yang seakan penasaran dengan sikap yang dilakukan sahabatnya.


Dalam beberapa menit seperti hal yang tidak terduga, badai angin pasir sudah terlihat mengecil hingga pada akhirnya menghilang dari pandangan mereka berada.


"Anginnya menghilang?" Tanya Zaskia yang seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.


"Iya, kita semua akan kembali ke time travel menggunakan teori fisika tentang ruang dan waktu seperti yang dikatakan oleh Albert Einstein" Jawab Zinta dengan bijak.


Tetap melajukan sepeda Zedtwo membawa serta sahabatnya menuju ruang laboratorium miliknya tersebut.


Karena ada kemungkinan Zweta dan Zevana berada disana, hal yang mengganjal di benaknya. Secara perlahan semua masalah ini akan terungkap dan terselesaikan.


...****...

__ADS_1


Tiba di rumahnya Zinta, mereka mendaratkan kendaraan sepedanya dengan lancar, membawa masuk Adnan serta ke dalam rumahnya. Kebetulan dirumah tidak ada orang, kedua orangtuanya Zinta sedang melakukan perjalanan jauh ke luar kota.


Menggunakan robot πŸ€– pengantar barang ia gunakan untuk membawa Adnan menuju ruang laboratorium.


"Zas lo punya dua pilihan, mau tetap tinggal disini bersama Adnan atau lo aja sendirian pergi ke time travel?" Tanya Zinta.


Zinta berbicara sembari mempersiapkan mesin Z1 untuk siap meluncur kedua kalinya setelah tugas kimia waktu itu.


Zaskia semakin bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Zinta kepadanya.


"Lo serius mau kesana lagi?" Tanya Zaskia untuk memastikan tujuannya.


"Iya Zas" Jawab Zinta dengan singkat.


Berbicara seperti itu, sebab ia tidak terlalu merespon perkataan Zaskia.


"Tapi ini terlalu cepat" Sahut Zaskia kembali.


Maksudnya disini adalah agar Zinta istirahat sejenak dan tidak bertindak gegabah seperti sekarang.


Setelah mendengar ucapannya, ia pun berhenti dengan aktivitasnya sejenak. Duduk bersandar pada kursi kerjanya serta menoleh pada Zaskia.


"Iya Zas ini terlalu cepat. Tapi kita juga harus kejar waktu, kita masih beruntung masih ada disini. Tapi kedua sahabat kita? Kita juga nggak tahu kan apakah mereka dalam bahaya atau enggak?" Sahut Zinta sambil.


Zinta berpendapat seolah batinnya sedang bergelut, perlahan air matanya pun ikut keluar.


"Iya maafin gue Zin, nggak seharusnya gue menasehati lo. Maksud gue biar lo minum air putih dulu buat menenangkan pikiran" Bujuk Zaskia.


"Iya makasih" Jawab Zinta sambil meneguk air minum yang membuat pikirannya menjadi dingin kembali.


"Info yang gue dapat dari Adnan, mereka berdua menghilang saat di perjalanan. Kemungkinan itu sebuah portal dimensi ke waktu yang berbeda" Ujar Zaskia menjelaskan informasi penting ini pada sahabatnya.


"Menghilang? Gue tahu apa yang mesti dilakukan. Zas lo jagain Adnan disini ya, gue percayakan ruang laboratorium ini sama lo" Ujar Zinta dengan tegas segera beranjak dari tempat duduknya.


"Siap Prof" Jawab Zaskia yang kini tahu apa yang ingin dilakukan oleh Zinta.


"Sekarang gue akan mempersiapkan mesin Z1 untuk kembali menjelajah waktu" Ucap Zinta dengan pasti.


Apakah Zinta berhasil bertemu dengan kedua sahabatnya yang menghilang?


Bagaimana dengan kondisi Adnan?


* to be continued....

__ADS_1


__ADS_2