Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Semakin Jelas


__ADS_3

* Flashback on


Adnan menceritakan secara rinci awal mulanya ia mengetahui Zweta dan Zevana menghilang dari pandangannya dalam sekejap. Padahal ia tahu betul bahwa mereka berdua seharusnya menjadi korban kecelakaan lalu lintas dalam peristiwa tersebut.


Adnan mengikutinya hanya untuk memberi tahu pulpen Zweta yang terjatuh di minimarket. Kebetulan ia ada disana kemarin sore tanpa sepengetahuan Zweta.


Pada akhirnya ia belum mengetahui apa arti dari tulisan pulpen yang di bawanya sekarang. Menurutnya semua itu hanyalah sebuah nama kiasan belaka. Namun semua itu berbanding terbalik dengan semua pemikiran Adnan.


Pertama kalinya ia menggunakan pulpen itu pada saat menghitung perkalian matematika di hari ini. Ada rahasia tersembunyi dibalik tinta pulpen bernama Zedfour. Dari sinilah badai angin pasir gurun bermunculan keluar dari bulatan angka nol yang ditulis Adnan dalam buku tulisnya, hingga Adnan pun terjebak di dalamnya.


Beruntungnya ia tidak sendirian di ruang kelasnya, melainkan ditemani oleh Zaskia yang kebetulan masih berada di tempat itu.


"Kemungkinan besar pulpen Zedfour itu milik Zinta, bukanlah milik Zweta" Kata Zaskia sambil berpikir logis.


Mereka berdua berbicara dengan tatapan seolah masih ada harapan diantaranya untuk kembali memperbaiki hubungan yang telah usai.


"Zinta?" Tanya Adnan yang kini punya segudang pertanyaan muncul di benaknya.


Suara badai angin semakin jelas terdengar oleh seluruh penjuru sekolah SMAN 1 Mars.


"Hanya Zinta yang tahu jalan keluarnya. Karena pada dasarnya dia seorang Profesor" Jawab Zaskia menambahkan informasinya.


"Berarti time travel yang dimaksud itu punya Zinta?" Tanya Adnan kembali yang lambat laun mengerti rotasi penelitian Zinta.


"Iya tepat sekali" Jawab Zaskia dengan jujur.


Badai angin pasir sepertinya sudah tidak kuat lagi menahan beban berat diantara mereka. Pintu utama ruang kelas Adnan terbuka lebar mengikuti arah angin kemana perginya.


"Anginnya terlalu kuat Zas" Ucap Adnan yang seakan sudah tidak kuat lagi bertahan.


Adnan berteriak histeris karena kekuatan tangannya sudah mulai goyah. Cengkraman yang ia tumpu pada meja guru pun patah dan lepas. Adnan merelakan dirinya untuk terbawa badai angin dan melepaskan Zaskia dalam dekapannya agar ia tetap aman disana.


"Adnan!" Teriak Zaskia sambil menangis ia sempat berpikir mungkinkah ini hari terakhir kita bersama?" Jerit tangis Zaskia berbicara didalam hatinya.

__ADS_1


Badai angin pasir telah berhasil membawa Adnan ke dalam pusaran tersebut. Karena hari juga sudah terlihat semakin gelap, pertanda sekolah sudah mulai sunyi. Namun suara gemuruh angin tidak bisa diabaikan begitu saja dan akan tetap mengundang seseorang yang tertarik dengannya.


...****...


Di kediaman rumah Zinta pada malam hari,


ia sedang mengerjakan penelitian yang biasa dikerjakan di ruang laboratorium.


"Duh gerah banget" Kata Zinta sambil membuka jendela ruang laboratorium.


"Wah tumben anginnya lebih kencang dari biasanya" Ucap Zinta sambil menghirup angin malam itu, ia pun segera menutup kembali jendelanya.


"Ah ko hidung gue perih banget ya? Padahal tadi baik-baik aja" ucapnya sendirian.


Zinta memeriksakan lubang hidungnya dan bercermin dekat dengan wastafel. Membuka keran air serta membasuh ke area yang terasa perih tersebut.


"Hah apa nih?" Gumam Zinta sambil memegang sesuatu yang keluar dari lubang hidungnya.


Seperti sesuatu yang tidak asing dalam pikirannya, ia segera bergegas menuju ruang lab mencari daftar buku penelitian yang sangat tebal berada disana.


Dengan lihai dan gesit jemari Zinta terpaku pada halaman 400 bertuliskan...


Badai angin pasir gurun telah ia buat menjadi sedikit berbeda dari penelitian sebelumnya. Karena ia membuatnya dalam keadaan penuh amarah dan emosi yang terpendam, dengan alasan setiap orang yang ia temui pada saat itu tidak menginginkannya berada di suatu lingkungan yang sama.


Diberi nama Zedfour karena Zed awal nama depannya serta four artinya empat. Ini penelitian Zinta yang ke empat yang ia rancang khusus untuk menggali informasi ZANN yang sempat tertunda beberapa tahun yang lalu, sebab ia belum sempat menyelesaikan tugasnya dengan alasan sesuatu hal yang membuatnya untuk berhenti melanjutkan penelitian.


"Pulpen Zedfour ada disini? Berarti Zweta dan Zevana juga ada disini?" Tanya Zinta semakin penasaran.


Kemudian ia pergi ke lantai bawah untuk membuka pintu rumahnya, tadinya ia ingin berlari saja. Namun sepertinya itu terlalu lama untuk berada disana. Akhirnya ia membawa serta sepeda canggih miliknya yang ia beri nama Zedtwo.


Ia terus menggowes sepedanya, karena keadaan semakin panik dan sangat genting. Sunyi tidak ada orang yang berlalu lalang, ia memberanikan dirinya untuk menekan tombol yang berada di tengah antara stang sepeda.


πŸ›« Zinta juga menekan tombol gambar pesawat terbang pada sepedanya 🚲.

__ADS_1


Klik


Sepeda Zinta terdapat wing pesawat terbang di kedua sisi kanan dan kiri sepeda. Ia terbang menggunakan sepeda Zedtwo. Sudah lama sekali ia tidak menggunakan sepeda ini, sempat berpikir jika sepeda ini seperti barang rongsokan yang tidak terpakai lama. Ia melihat arah angin semakin membesar berada di titik sekolahnya.


"Jadi pusaran angin itu ada di sekolah?" Tanya Zinta yang ingin mendekati pusaran tersebut.


Namun ia tidak bisa mendekatinya, sebab adanya pasir yang jika terkena mata dan hidung akan terasa perih sekali.


"Benar ini Zedfour, tapi dimana Zweta?" Gumam Zinta.


Sebagai perlindungan, ia kembali menekan tombol yang lain pada sepedanya. 🚁 Menekan tombol gambar helikopter yang menjadikan sepedanya mempunyai atap berlindung selayaknya sebuah helikopter dengan baling anti badai.


Suara tiupan angin kian bergemuruh terdengar sayup-sayup oleh pendengaran Zinta. Ia membaca titik peta di layarnya, dan melihat seseorang di tengah pusaran badai angin pasir, hingga mengira bahwa orang tersebut adalah Zweta. Karena masih mengingat bahwa pulpennya dipinjam oleh Zweta untuk pengerjaan laporan penelitian.


Tenaganya terlalu kuat untuk didekati, Zinta belum melihat dengan jelas siapa orang tersebut.


Pegangan Zaskia pun ikut lepas, ia juga terbawa keluar dari ruang kelas. Beruntungnya adalah dia mendarat pada sesuatu yang keras.


BRUKK


Zinta ikut tercengang lantaran seseorang terlempar keluar dan mendarat di kaca luar sepedanya.


"Zaskia, lo ngapain disana?" Tanya Zinta yang semakin gelagapan tidak tahu dengan cara apa untuk membawa Zaskia masuk ke dalam kendaraannya.


Penglihatan matanya Zaskia sudah terlihat merah akibat terkena angin pasir ini, suatu hal yang sama seperti Zinta saat menghirupnya.


"Zas tunggu sebentar ya jangan bergerak" Ucap Zinta yang berbicara pada spiker yang sudah pasti terdengar dari arah luar.


Tapi tidak terdengar oleh Adnan karena kabarnya suara spiker tidak bisa menembus pusaran angin yang sangat jelas kuat tenaganya.


Apakah Zinta akan berhasil menyelamatkan Zaskia beserta Adnan dari tempat itu?


* to be continued...

__ADS_1


__ADS_2