
Tentu perjalanan kali ini menjadi pembeda dari suasana sebelumnya. Zinta berusaha terlihat tetap tegar setelah mengetahui pengakuan Zedric yang mengabaikan kehadirannya secara cepat.
"Tenang, semuanya pasti segera berlalu" batin Zinta sambil menatap punggung Zedric dari kejauhan.
"Jangan segan minta bantuan gue ya" ucap Adnan memberitahu.
"Iya Nan" jawab Zinta menoleh pada seseorang yang diajaknya bicara.
"Oh iya, ini pertama kalinya lo ikut kan? Meja penelitian kayaknya bagus, buat posisi lo sekarang ini" Ujar Zinta padanya.
"Sebenarnya gue lebih tertarik di bagian monitor sih, tapi ya sudahlah ngga masalah" jawab Adnan dengan pasrah.
"Iya gue paham alasannya, pasti karena Zed ada di tempat itu kan?" Sahut Zinta.
Adnan bersikap acuh ketika mendengar nama yang disebutkan oleh Zinta barusan, dan segera melakukan kegiatan sesuai perintah.
"Semoga lo dalam keadaan baik saja Zev, gue jadi semakin khawatir dengan perasaan ini" gumam Zedric didalam hati.
Zedric menatap keluar jendela dan melihat hujan salju semakin lebat, menandakan mereka sudah sampai di titik terang Zevana berada.
"Dia pasti ingin segera bertemu Zevana" gumam Zinta, ia berbicara sambil menitikkan air mata.
Tiba-tiba Zinta diserang rasa pusing yang mengerikan dan keseimbangannya pun goyah.
"Lo kenapa Zin? Gue bantu jalan ya" ucap Adnan seraya menghampirinya.
Mengangguk pelan sambil mencari tempat duduk yang terletak di ruang kerjanya Zinta.
"Makasih ya Nan" Ucap Zinta.
"Jaga kesehatan terutama minum air putih yang cukup, ini pesan dari Zaskia" sahut Adnan.
"Iya Nan, gue udah mengabaikan hal yang ngga bisa dianggap sepele buat tubuh" jawab Zinta tersenyum.
"Semua makanan dan minuman udah gue siapin diatas meja, tinggal lo atur kapan ngambilnya. Zin jangan banyak pikiran ya, tugas lo cuma sekedar menyelamatkan Zevana aja nggak lebih" Ujar Adnan.
"Lo benar Nan, gue nggak mau pikiran ini menyita waktu yang lama" Gumam Zinta.
"Gue tinggal keluar dulu ya, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan" Ucap Adnan seraya menutup pintu secara pelan.
__ADS_1
"Makasih banyak ya Nan. Eh nggak usah ditutup pintunya, gue nggak mau dengar suara mengetuk dari luar hanya karena dia penasaran" Ujar Zinta.
"Hem baiklah" Jawab Adnan.
"Alasan penelitian ini dibuat, supaya Zed mau bergabung kembali. Setidaknya cita-cita udah bisa digapai, walaupun hanya sementara waktu aja" Gumam Zinta sambil tersenyum sendu.
Momen bahagia telah membawanya pada pikiran fokus dalam menganalisis data, agar mengetahui hasil yang orisinil dan bermanfaat.
"Ramuan masih tersisa empat lagi, tapi nggak masalah, sebab semua bisa diatasi dengan baik" Ucap Zinta mematahkan pikiran buruknya.
Tak bisa dipungkiri, rasa kantuk kian menemani. Ia tertidur diatas meja diantara banyaknya makanan berlimpah, mengantarkan jauh lebih dalam pada emosi yang terbelenggu.
"Lo seharusnya lebih hati-hati dengan harapan itu" ucap seseorang yang terdengar samar dalam ingatannya.
"Dasar keluarga aneh! lihat saja dia, semua penemuan dianggap miliknya. Belum lagi sifat kedua orangtua yang tiba-tiba berubah hilang ingatan. Lo nggak pantas disebut jenius seperti layaknya Profesor, ingat ya dimana lo berada, udah dipastikan lingkungan nggak akan mau berteman sama lo!" Ucap seseorang yang wajahnya terlihat samar.
"Jangan sekarang, tolong hentikan! Gue nggak mau mendengar ucapan ini lagi. Ayah dan Ibu nggak seperti dugaan kalian selama ini!" Pekiknya kembali seraya terisak tangis.
Secara bersamaan, terdengar seorang lelaki datang menghampirinya di tengah keributan menghantui.
"Zin, gue sayang banget sama lo" Ucap Zedric dengan tatapan penuh kehangatan.
"Zed lo udah bilang sayang ke gue kan? Kenapa semuanya seakan menjauh dari kenyataan? Gue ngerti, lo merasa bersalah dengan semua sikap yang menyakiti hatinya. Tapi nggak gini caranya. Ingat ya, gue juga punya hati yang nggak bisa lo permainkan semudah itu!" Pekik Zinta.
"Ada apa Zin? Lo nangis ya? kenapa? Tanya Adnan beberapa kali padanya.
"Maaf udah ganggu waktunya, ini cuma mimpi buruk aja ko. Lo bisa tinggalin gue sendirian disini" Jawab Zinta sambil mengusapkan buliran bening di wajahnya.
"Kendalikan diri lo, Zinta. Terganggu? Malah yang ada gue semakin panik lihat keadaan sekarang. Nih minum air putih dulu biar nggak kehausan" Ucap Adnan dengan khawatir.
Malam itu pekat dengan rasa dingin aneh di udara mulai mengalihkan perhatiannya.
"Mungkin gue salah dengar" Gumam Zinta dan menghiraukannya kembali.
"Sekarang udah jauh lebih baik kan? Kalau gitu gue tinggal lagi ya" Ujar Adnan sambil bergegas pergi ke luar ruangan.
"Iya Nan gapapa" jawab Zinta.
"Oh iya lupa, kenapa tadi nggak sekalian minta tolong Adnan carikan kacamata ya? Ucap Zinta bermonolog.
__ADS_1
Zinta berjalan merambat dengan perlahan dimulai dari memegangi meja hingga ke rak penelitian. Dalam pandangan kabur itulah, ia tidak sengaja menumpahkan ramuan pada tulisan yang sudah dibuat sebelumnya.
...****...
Sementara dari arah luar, Zedric meminta bantuan Adnan untuk berpindah tempat mengantikan posisinya di bagian monitor kemudi mesin.
"Eh-eh-eh mau ngapain disini? Lo nggak bisa menyudahi urusan gitu aja, tempat lo itu di depan. Kalau misalnya kemudi bergeser gimana? Minggir sana" Sergah Adnan.
Adnan bersikap seperti seorang kakak laki-laki bagi Zinta yang siap membela adik kandungnya, padahal kenyataannya usia keduanya seumuran dan hanya sebatas teman di sekolah.
Baru saja Adnan mengucap, kejadian itu menjadi terulang kembali. Kemudi mesin bergeser ke arah kanan, masing-masing diantaranya bertumpu pada dinding dan berpegangan pada sebuah pintu yang terbuka.
Bukankah setiap kehidupan, ada kemungkinan seseorang mendapatkan hal serupa seperti sebelumnya.
"Jadi ini yang disebut strategi? Kebetulan banget, ini kesempatan gue" Gumam Adnan didalam hatinya.
Akhirnya Adnan mau mengalah dan merubah pikiran, ia hanya bisa memicingkan matanya seolah pertanda keadaan diantara mereka belumlah dikatakan damai.
"Oke kalau gitu biar gue aja yang kesana" Ujar Adnan mengalah.
Adnan segera bergegas pergi menuju tempat paling utama di bagian mesin Z1.
"Wah hebat, keren-keren" Ucap Adnan yang mengagumi tampilan pada monitor kemudi mesin.
"Jadi mana yang mesti gue tunjuk ya?" Tanya Adnan dengan kebingungan.
"Barusan gue denger lo berteriak, kenapa Zin? Pasti itu mimpi buruk kan? Jadi gue udah tahu semuanya, tepat disaat Adnan datang lebih dulu. Jadi gue pikir, gantian ke dalam ruangan bisa mengatasi masalah yang ada" Ucap Zedric.
"Zinta lo gapapa kan?" Tanya Zedric khawatir.
"Jangan mendekat" Sahutnya seraya memastikan gerak-gerik Zedric.
Zinta bersikap menjauh dan tidak sengaja membuka jendela mesin, lalu angin bertiup dan menggigit wajahnya. Ia terus memandang bentangan salju di kejauhan dan berharap akan menemukan Zevana secepatnya. Zinta terlihat menggigil kedinginan setelah disambut suasana kedatangan menghampirinya.
"Dingin banget, apa kita udah berada didalam mimpi Zevana?" Tanya Zedric sambil menatap lekat perempuan dihadapannya sekarang ini.
"Nggak ada yang bisa merubah hati, kecuali dirinya sendiri. Mungkin Zevana adalah perempuan pilihannya" Batin Zinta penuh sesak.
"Gue kan udah pernah bilang, kita akan menyelamatkan Zevana lebih cepat " Ucap Zedric memberitahu.
__ADS_1
Mungkin saja sikapnya hanya sebatas menenangkan Zinta yang saat ini sedang kalut.
* to be continued..