
...Situasi sudah terlihat akur...
...Seketika berubah menjadi keruh...
...Rasanya ingin lari dan kabur...
...Melihat seseorang ternyata musuh...
...Berkunjung tanpa beban...
...Berbicara seolah teman...
...***Padahal dirinya tawanan...
...Yang harus dilawan***...
πΈπΈπΈ
"Semakin lo mendekat. Gue akan bertindak sesuai yang lo rencanakan" ucap Zaskia dengan berjalan mundur , yang sesekali melirik ke belakangnya karena terdapat sebuah anak tangga yang mengawasinya.
"Tenang. Aku nggak mau nyari ribut disini" sahut Zedric yang tetap menatapnya karena sesuatu hal yang mengganjal ingin memberitahu bahwa Zaskia panik terlihat seperti kehilangan arah.
Zaskia mengambil sesuatu disamping dekat dengan meja untuk melindunginya terhindar dari ancaman datang menghampiri. Rupanya yang ia ambil sebuah sapu yang selesai digunakan untuk membersihkan ruangan tersebut.
Keadaan semakin kacau serta saling mengawasi gerak-gerik satu sama lain, saling melindungi diri mengingat bahwa persoalan diantara mereka belum bisa dikatakan damai.
Merasa terlalu lama menunggu Zaskia, Zweta memutuskan untuk kembali ke lantai atas serta meminta izin pada supir taksi agar mau menunggunya sebentar lagi.
"Maaf pak tunggu sebentar lagi ya. Saya mau manggil teman saya didalam rumah biar cepat keluar" bujuk Zweta dengan nada yang pelan.
Untungnya sopir taksi tersebut mempunyai kesabaran yang tinggi untuk mau menunggu. Mungkin karena hari juga semakin larut dan jarang ada penumpang yang mau singgah di kendaraannya.
"Yasudah tapi jangan lama-lama ya" ujar sopir taksi.
"Makasih pak" jawab Zweta sambil bergegas pergi dengan langkah yang terburu-buru tidak tahu ada hal yang menimpanya.
Benar saja yang dipikirkan oleh Zedric. Akibat terlalu mundur pijakan kakinya Zaskia membuatnya terjungkal ke arah anak tangga yang berada tepat di belakangnya. Namun itu semua terselamatkan lantaran gerakan Zedric yang gesit segera menariknya kembali.
__ADS_1
Sebuah hari apes untuk Zedric yang berhasil menyelamatkan Zaskia. Namun dirinya malah terjungkal dari anak tangga yang tidak sengaja bertemu Zweta saat hendak ke lantai atas.
Aahhhh..!!
"Hah? awas" ucap Zedric sambil meletakkan satu tangannya ke pundak belakang Zweta agar kepalanya tidak terbentur sebuah tembok dan satu tangan kanannya menahan pada tembok tersebut.
Melihat sesuatu yang datang menghadang secara tiba-tiba, Zweta tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mau berlari menjauh pun tidak terkejar, akhirnya ia ikut terpental bersama Zedric.
BRUKK..!!
Saat itulah kedua mata diantara mereka saling bertemu untuk yang pertama kalinya. Membuka kedua matanya pun secara bersamaan, jarak sangat dekat untuk sebuah pertemuan tidak terduga. Kacamata milik Zweta berlapis tebal itu dijadikan tumpuan Zedric setelah terjungkal. Hingga mereka tersadar dari lamunannya karena sesuatu hal membuat Zedric terkejut.
"Hei cepat keluar dari sini" teriak Zaskia sambil melemparkan bantal kearah Zedric berada.
"Hah maaf nggak sengaja" ucap Zedric segera berpindah tempat menjauhi mereka berdua.
Zweta yang menjadi canggung dengan apa yang sudah ia alami barusan. Tetap berjalan lurus mengajak Zaskia serta membawa Zevana ikut ke dalam taksi.
"Kalian mau pergi ke rumah sakit ya? sudahlah paling sebentar lagi Zevana bakalan sadar ko" tanya Zedric yang mencoba membujuk agar mereka tidak jadi kesana.
Ucapan Zedric tidak digubris sama sekali oleh mereka berdua. Membiarkan diri sendiri yang mengatur tujuan perjalanan.
Zedric segera membopong Zevana dan Zinta masuk ke dalam taksi secara bergantian. Namun pak sopir berkata bahwa tempat duduk penumpang sudah penuh. Tidak bisa menerima penumpang lagi.
"Maaf udah nggak muat lagi tempat duduknya" ucap pak sopir ketika melihat Zedric sedang membopong Zinta.
"Yah terus Zinta gimana?" tanya Zaskia pada sahabatnya.
"Lo duluan yang kesana ya Zas. Nanti gue nyusul sama Zinta nyari taksi yang lain" jawab Zweta bersikap tegas.
Akhirnya Zaskia menuruti ucapan sahabatnya, ia melaju ke rumah sakit tanpa ditemani kawan selain sopir taksi tersebut.
...****...
Terlihat Zweta sedang berdiri di pinggir jalan berniat untuk mencari taksi yang lewat kembali.
"Nggak usah nyari taksi lagi. Zinta biar aku yang tangani sendiri" ujar Zedric berjalan masuk ke dalam rumah sambil membopong Zinta.
__ADS_1
"Apa? tangani sendiri? merasa jadi dokter dadakan ya?" sahut Zweta yang tidak terima dengan ucapan Zedric.
"Aku akan tanggung jawab" ucap Zedric dengan santai.
Karena pandangan Zweta hanya berpusat pada sahabatnya, jadi ia mengurungkan niatnya untuk tidak melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Hingga ia lupa untuk menanyakan kabar selanjutnya dari pihak dokter yang menangani Zevana. Berjalan masuk ke ruang laboratorium serta menunggu kepastian dari ucapan Zedric yang sudah meyakinkan dirinya.
...Ingin berkata jenuh...
...Namun tidak ingin mengeluh...
...Sulit untuk menjauh...
...Padahal kenyataannya rapuh...
πΈπΈπΈ
Setelah membaringkan Zinta ke posisi tempat tidurnya dengan keadaan semula. Zedric melanjutkan kegiatan yaitu meracik obat seperti yang dilakukan oleh sahabatnya sebelum ia tidak sadarkan diri. Sepertinya ia benar-benar ingin menebus kesalahan yang telah lalu.
Menelaah kembali teori fisika untuk melakukan penelitian serta penanganan yang tepat terhadap seorang teman dekat di masa lalu bernama Zinta. Dengan bantuan alat medis yang tersedia ia bisa tahu apakah denyut jantung Zinta masih berdetak atau sebaliknya.
Dag..!!
Suara pertanda masih ada hembusan nafas yang terselamatkan. Namun suatu kondisi yang membuatnya belum sadarkan diri, kemungkinan ia sedang mengalami diantara pingsan sementara waktu atau yang lebih parahnya mengalami koma. Menjadi pasrah ketika melihat sesuatu yang dipikirkan menjadi sedikit membaik. Zweta mengambil air wudhu segera menunaikan ibadah shalat wajib empat rakaat adalah shalat isya. Tak lupa ia pun berdoa sesuai yang ia rasakan sesuai isi hatinya.
Tak menunggu lama, Ia mendapatkan kabar telepon dari Zaskia.
Kring..!!
π"Halo Zweta. Lo dimana sekarang? Zevana barusan masuk ke ruang IGD. Kabarnya Menurut dokter yang menangani, keadaan benturan di kepalanya bisa menyebabkan koma" ucap Zaskia dengan nada suara yang terdengar panik.
π"Astaghfirullah. Secepatnya gue akan kesana" jawab Zweta merapikan kembali barang bawaannya.
π"Ya ampun ternyata lo masih dirumah? ngapain aja?" tanya Zaskia dengan memberikan alamat rumah sakit yang merawat Zevana sambil menutup teleponnya.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, ia menyapa Zinta dengan nada suara yang lembut dengan menitikkan air mata tanpa disadari jatuh begitu saja.
"Zinta yang kuat ya. Kita semua dengan sabar nungguin lo disini. Emang lo nggak kangen sama gue? ini udah terlalu lama lo terbaring di tempat tidur. Di hari yang sama gue mau jenguk Zevana sekarang ke rumah sakit. Gue nggak mau kehilangan sahabat yang baik seperti lo Zinta" ucap Zweta dengan berlinangan air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
Zedric mengetahui suara tangisan yang berada didekatnya. Ia merasa sedih juga kecewa pada dirinya mengenai emosi yang tidak dapat ia cegah dalam pikirannya saat itu.
* to be continued...