Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine
Rintik hujan


__ADS_3

"Perlu gue ceritain semuanya? Supaya nggak ada yang ditutupi?" Gumamnya seraya terisak tangis.


Pikirannya sedikit tersamarkan dengan berbagai macam prasangka yang mungkin saja benar.


Adnan mengedarkan pandangannya seraya bermonolog, "Pertanyaan aku sekarang, dimana kamu Zas?".


Di tengah pembicaraannya yang semakin memuncak, Zweta sudah memberi jeda kapan seharusnya ia menanggapi dengan tepat. Namun terkadang ada beberapa kasus yang terjadi diluar rencana.


"Nggak usah nunggu jawaban pun, pasti lo udah paham maksudnya" Zweta mengundang pertanyaan baru baginya.


"Buang-buang waktu" Zedric menjawabnya sambil bersikap acuh.


Zedric malah menerka bahwa pengalihan sikap menjadi keputusan yang harus dilakukan.


"Apa pengalihan termasuk kebiasaan? Udah berapa banyak orang yang udah lo acuhkan? Setidaknya mau dengar sebentar, walau adanya perbedaan. Jika lo pergi buat Zinta, gue harap jangan dekati Zev lagi. Begitupun sebaliknya" Sergahnya penuh kecewa.


Zedric berpikir sejenak, lalu menoleh kearahnya, "Jadi begitu kah, jawaban yang lo maksud barusan?".


"Perlukah gue jawab iya? Supaya jawabannya jadi semakin akurat?" Sahut Zweta yakin.


Bukannya segera menanggapi, Zedric malah terdiam untuk menjauhinya.


"Semoga lo mau nerima keputusan ini. Gue udah muak sama sikap yang nggak bisa ngambil keputusan dengan tegas!" Zweta berbicara seraya memperhatikan gerak-geriknya.


Langkah kakinya pun berhenti, Zedric membalikkan badan seraya meluapkan segala emosinya yang sejak tadi masih bisa dikondisikan.


"Sudah cukup! Hentikan semua tuduhan itu!" Pekiknya dengan lantang.


Zweta terperangah sesaat setelah melihat sikapnya yang berubah drastis.


"Haruskah semua masalah gue yang nanggung? Adnan lah yang membuat semua kekacauan itu!" Sahutnya seraya menatap lekat perempuan itu.


"Adnan?" Gumam Zweta mempertanyakan.


"Kenapa gue banyak menghindar? Gue harap lo ngerti! Apa setelah ini, lo masih menganggap gue sesuai pikiran yang pertama?" Timpal Zedric mendengus kesal.


Zedric segera bergegas meninggalkan ruangan itu, dengan alasan menyusul Zevana dan memberikan penjelasan yang sebenarnya.


Zedric meneriakinya, "Gue bisa jelasin semuanya! Jangan dengerin semua omong kosong itu!" Suaranya yang mampu menyaingi gemuruh badai.


Di bawah terik sinar matahari, ia berhenti berlari dan menatap segelintir orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Hingga keadaan pun tak kunjung berbalas.


"Ada benarnya juga, mungkin dia mau keseriusan. Tapi gimana soal keadaan yang bahas akan ada yang tersakiti?" Zedric tampak ragu untuk menjawab, hingga ia kembali mempertanyakan hal itu.


"Langitnya gelap, apa sebentar lagi mau turun hujan?" Ucap Zedric bermonolog.

__ADS_1


Baru saja ia mengucap, hujan pun turun membasahinya, seolah tak henti-hentinya ia berdiskusi dengan pikirannya yang menolak untuk beristirahat sejenak.


"Coba lihat hujannya indah, setelah terakhir kita cari tahu soal penemuan itu. Bukankah setiap perjuangan itu, pasti ada rintangan? Bener kan Zin?" Gumamnya seraya tersenyum.


Dwarr


"Udah biasa denger suara petir, anggap saja begitu" Ucapnya.


πŸ“² Kring... Suara panggilan dari ponsel pintarnya yang berdering.


"Tumben jam segini ada yang nelpon" Ucap Zweta.


Zweta langsung mengangkat ponsel pintarnya dengan kalimat pembuka.


πŸ“² "Maaf ini siapa ya?" Zweta bertanya dan menganggap jika pantulan dering itu dapat membantunya.


πŸ“² "Gue masih punya cara alternatif yang bisa jadi pilihan utama. Meneguk ramuan mimpi misalnya, jika itu terjadi, mungkin gue nggak akan bisa kembali. Nyatanya tiap orang yang bermimpi pun, kita nggak bakalan bisa nebak kan?" Tanya perempuan itu.


πŸ“² "Zaskia?" Sahut Zweta.


Suaranya tak asing baginya, dan benar saja


pembicaraan pun berlangsung dengan seperlunya.


πŸ“² "Iya bener, gue udah kabur dari rumah itu. Sebenarnya gue nggak tega ninggalin Maminya Zeva sendirian disana, tapi demi kebaikan juga kan" Ungkapnya.


πŸ“² "Sebentar lagi gue kesana" Ucap Zaskia seraya mematikan ponselnya.


Zaskia melihat Zweta sedang berdiri di depan meja penelitian. Segeralah ia membantu mempersiapkan mesin Z1, agar bisa digunakan saat ini juga.


"Tapi Zweta, kita berdua aja nggak ada yang tahu dimana posisinya" Ujar Zaskia.


"Berusaha dan berdoa itulah jawabannya" Jawab Zweta berbicara serius.


"Iya gue paham, semuanya penting. Kayaknya kita butuh satu orang lagi, sebagai penunjuk jalan" Ucap Zaskia bernada seraya menaikkan satu alisnya.


"Penunjuk jalan? Kita bisa pakai kompas, nggak usah mengharapkan bantuan orang lain, padahal kita juga bisa" Sahut Zweta.


"Mungkin dia sudah malas berdebat" ucapnya bermonolog.


Walaupun Zaskia ingin secepatnya mesin itu segera bergerak maju dengan cepat, namun tiba-tiba secara mengejutkan seseorang hadir tak diundang.


"Apakah masih butuh tambahan anggota lagi?" Tanya Zedric penuh harap.


"Boleh aja, asalkan tetap mengikuti peraturan yang berlaku" Jawab Zaskia.

__ADS_1


Zedric hanya menatap sekilas perempuan itu.


"Cepat naik, kita udah kehabisan banyak waktu" Titah Zaskia.


Sebelum mereka meninggalkan rumah sahabatnya, Zedric segera memeriksa apapun di setiap sudut ruangan.


Bising mesin Z1 sudah bergemuruh dan bersaing dengan terpaan angin yang saling memperhatikan setiap langkahnya.


...****...


Perjalanan ini bukan hanya sebatas mencari keberadaan sahabat, namun ada hal banyak yang harus diselidiki. Seperti teori baru dan menemukan makna cinta di kehidupan yang akan datang atau sebaliknya.


"Zas lo tunggu di kemudi mesin dulu ya, gue mau istirahat sebentar nih" Ujar Zedric sambil menguap kantuk.


"Oh iya gapapa, tinggalin aja" Jawabnya.


Setelah berganti pakaian yang basah karena hujan, Zedric menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Katanya masih susah bedain perasaan? Padahal secara nggak langsung, lo udah mulai sayang sama Zevana" Ucapan dari seorang perempuan bernada lembut.


"Kenapa bisa buat kesimpulan kaya gitu?" Sahut Zedric terperangah setelah melihatnya.


"Coba deh perhatikan dan resapi lagi" Ajaknya menasihatinya pelan.


Perempuan itu menyambutnya dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya.


Tiba-tiba terdengar sesuatu yang terjatuh dari dahan pohon mengenainya. Rupanya gumpalan salju dingin mengganggu kedekatan mereka, serta menutup sebagian wajah cantik perempuan itu. Segera ia pisahkan dari helai rambutnya dengan perlahan.


"Zinta syukurlah lo selamat dari kecelakaan itu" Ujarnya sambil meneteskan kembali buliran beningnya.


"Ada orang baik yang membantu. Entah apa yang terjadi, jika mereka telat datang" Zinta menjawab dengan menahan tangis.


"Kalau nangis jangan ditahan kali" Candanya.


Kemudian tangisnya pun pecah, Zedric mencondongkan kepalanya dan mengatakan sesuatu. Zinta mengangkat pandangannya dan melihatnya dari dekat.


"Senyuman itu merindukan" Ucapnya dalam hati.


Hingga membuat detak jantungnya berdegup lebih cepat. Dilihat tangisannya makin membuyar, kemudian Zedric meletakkan kedua tangannya pada pinggul Zinta dan menariknya untuk jatuh dalam dekapannya.


"Nggak usah khawatir ya. Semuanya akan baik-baik aja" Zedric berbicara lembut sambil mengusap rambutnya pelan.


"Sebentar lagi, kita semua akan pulang ke rumah. Jangan nangis lagi, sebab gue ada disini temenin lo" Ucapnya lembut.


"Makasih ya udah datang" Jawab Zinta kembali seraya tersenyum.

__ADS_1


* to be continued...


__ADS_2