
Reva berlari menuju kelasnya yang ada di lantai dua. Reva berhenti lari saat melihat Rafi dan gengnya itu masih di luar kelas.
"Lihat tu si cupu datang! " Ucap Dimas.
Rafi tersenyum menyeringai, seakan kedua temanya itu tau arti dari senyuman Rafi. Dimas dan Roky menghampiri Reva yang mematung di tempat.
"Lu terlambat ya? " Tanya Dimas, Reva hanya menunduk dan tak menjawab pertanyaan Dimas.
"Lu tau kan murid yang terlambat itu harus dapat hukuman? " Roky mengitari Reva.
"Nih hukuman buat lu yang sudah terlambat! " Dimas menumpahkan semua isi yang ada di tong sampah.
"Cepet bersihin! " Roky mendorong Reva.
"Ta... Tapi... " Ucap Reva terbata.
"Tapi apa? Apa mau lu yang gue masukin tong sampah? " Dimas memotong ucapan Reva.
Reva tak ingin memperpanjang maslah, ia segera berjongkok dan memunguti sampah - sampah yang berserakan.
Rafi end the geng nya tersenyum puas.
"Ada apa ini? " Tanya bu Yuli.
"Itu bu, sudah datang terlambat nendang-nendang tempat sampah pula! " Alibi Dimas.
"Iya bu! Jadi kita suruh dia bersihin lagi! " Sahut Roky.
"Benar begitu Reva? " Bu Yuli menatap Reva dengan tatapan menelisik.
"Emm... Bu.. " Reva melirik sekilas ke arah Rafi dan kawan-kawan nya itu. Reva kembali menunduk saat Rafi memelototkan matanya. "Maaf Bu tadi saya gak sengaja! " Ucap Reva lirih.
"Cepat bersihkan! Saya tunggu kamu di kelas, jika selama lima menit kamu belum masuk! Kamu akan ibu hukum! " Ucap bu Yuli dan segera masuk ke kelas.
"Rasain lu! " Dimas menendang tong sampah itu sehingga isinya kembali tumpah. Reva membersihkan sampah-sampah itu dengan cepat, agar bisa dirinya tidak di hukum oleh bu Yuli. Setelah beres Reva menuju toilet untuk mencuci tangannya. Reva berlari menuju kelasnya, tangannya yang basah itu ia usap-usapkan ke rok seragamnya.
"Permisi bu! " Ucap Reva sambil mengatur nafasnya.
"Lebih dari lima menit! " Ucap bu Yuli sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Cepat masuk! " Perintah bu Yuli, " Sebagai hukumannya , kamu tulis ini di papan tulis! "
"Perhatikan semuanya! Salain tulisan yang Reva tulis di papan! " Ucap bu Yuli.
"Baik bu! " Sahut semua murid.
"Yang mana bu yang di tulis? " Tanya Reva.
"Iya itu semuanya! " Jawab bu Yuli sambil memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
"Semua ini bu? " Reva memastikan kembali.
"Iya semua, semua itu kamu tulis di papan! Sudah jelas bukan! Udah cepat di tulis! Atau mau saya tambah lagi? " Oceh bu Yuli.
"Iya bu! " Reva langsung melakukan tugasnya. Reva menulis di papan hingga jam istirahat tiba.
Tet. Tet. Tet
Bunyi bel tiga kali yang menandakan jam istirahat.
"Kalian istirahat dulu! "
"Reva tolong bawakan buku ini ke kantor! " Perintah bu Yuli.
"Baik bu! " Reva mengangguk dan segera menyusun semua buku-buku yang ada di meja guru.
"Sini Va gue bantu! " Sisil datang dan langsung meraih buku-buku dari tangan Reva.
"Enggak usah Sil, gue bisa sendri! " Tolak Reva.
"Udah gini aja, kita bagi tiga! " Niar membagi tumpukan buku itu menjadi tiga. "Nah, ginikan jadi adil! " Ucap Niar yang tersenyum.
"Udah ayok kita bawa ke kantor! Ajak Sisil, " Nanti bu Yuli keburu berubah jadi singa, kalau kita terlambat membawa buku ini ke kantor! " Canda Sisil.
"Makasih ya kalian sudah bantuin aku! " Ucap Reva.
"Iya, lagian kenapa sih kok lu bisa terlambat? " Tanya Niar.
"Tadi gue urus nenek dulu! Oh... Iya, makasih ya kalian udah bantu bayar biaya administrasi nenek ku! Seharusnya kalian gak usah repot-repot! " Ucap Reva.
Niar dan Sisil saling tatap, " Kita gak ngerasa bayar biaya rumah sakit nenek lu Va! " Ucap Sisil.
"Jangan bohong kalian! Kalau bukan kalian yang bayar siapa lagi! Cuma kalian yang orang terdekat ku selama aku tinggal di kota ini! " Sahut Reva.
"Serius Va kita gak bohong! Kemarin kita langsung pulang kok! " Jelas Niar.
"Lalu siapa dong? " Tanya Reva.
"Lu udah coba tanya sama petugasnya belum? " Tanya Niar.
"Udah, susternya gak tau siapa yang bayar! Kebetulan saat aku mau bayar, udah pada ganti sif. " Jelas Reva.
"Ya udah lu anggap aja orang itu sebagai malaikat! Lu doain aja orang itu semoga panjang umur dan suatu saat lu bisa ketemu sama orangnya secara langsung! " Ucap Niar.
"Nah betul tuh apa yang di katakan Niar! " Sahut Sisil.
"By the way... Lu hari ini jadikan mulai kerja? " Tanya Niar.
"Jadi lah! " Sahut Reva.
__ADS_1
"Oke, kita akan antar lu di hari pertama kerja! Iyakan Sil? " Niar minta persetujuan dari Sisil.
"Aduh... Sorry nih gue udah ada janji! " Ucap Sisil sambil memainkan jari-jarinya. "Pengen sih ikut! Lain kali aja ya! " Lanjut Sisil .
"Lu ada janji sama siapa sih? " Tanya Niar.
"Hemm... Itu sepupu gue! " Sisil mencari alasan
"Sepupu yang mana? setau gue sepupu lu gak ada yang tinggal di sini! lu bohong ya sama kita? " ucap Niar.
"Gue gak bohong! kebetulan sepupu gue baru dateng semalam, iya dia baru datang semalam ! " Sisil mengulang ucapannya agar kedua temannya itu percaya.
"Udah biarin aja! kita ke restoran mu berdua saja! " ucap Reva.
"Awas ya kalau lu sampai bohongin kita! " ucap Niar.
"Iya, gue gak bohong! " sahut Sisil
Jam istirahat pun telah usai, semua murid meninggalkan kantin dan bergegas masuk kelas. Reva, Niar serta Sisil mengikuti pelajaran ke tiga ya itu matematika. Reva yang terbilang murid pandai di kelasnya itu selalu mampu menjawab dan mengerjakan soal yang di berikan oleh bu Mumun. Bahkan bu Mumun memberikan soal yang sulit sekalipun, Reva mampu mengerjakannya. Bu Mumun dan teman-temanya memberi tepuk tangan atas kecerdasan Reva.
"Bagus sekali Reva! " bu Mumun mengacungkan dua jempolnya.
Waktu terus berputar, hingga saatnya jam pulang pun tiba.
"Jangan lupa kerjakan PR nya! " ucap bu Mumun sebelum keluar dari kelas.
"Iya bu Mumun! " jawab semua murid.
"Bener-bener tuh si Mumun pocong, ngasing PR kagak kira-kira! " umpat Niar sambil keluar kelas.
"Gak boleh gitu ah... sama guru sendri! " sahut Reva.
"Iya lu udah paham sama materinya, nah kita ! yang masuk otak aja gak ada separuh! " sahut Sisil.
"Gimana kalau kita belajar bareng! " ucap Reva.
"Boleh tuh! " ucap Niar dan Sisil.
"Tapi, nanti pas gue istirahat kerja! gimana? " ucap Reva.
"Hemmm.... boleh deh! nanti gue tungguin lu di ruang kerja kakak gue! " sahut Niar.
"Gue duluan ya! " pamit Sisil setelah membaca pesan dari ponselnya.
"Lu gak bareng kita sampai depan? " tanya Niar. Sisil hanya melambaikan tangannya, karena posisinya sudah menjauh dari kedua temanya itu.
Jangan lupa like👍
komen✍
__ADS_1
Favorit kan juga ya 💙