2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps.17


__ADS_3

Di cafe


"Lu sibuk ma siapa sih? Dari tadi lu mantengin HP mulu" Protes Dimas.


"Ini penting cuy, gue lagi Pedekate ma cewek " Sahut Roky yang masih fokus dengan ponselnya.


"Wah, bener-bener lu ya " Dimas menggelengkan kepala, "cewek mana sih yang lu deketin? Jadi penasaran gue! "


"Lu juga tau kok sama itu cewek! " Roky menaruh ponselnya dan menikmati minuman yang ia pesan.


"Satu sekolah dengan kita? " Tanya Dimas, yang mendapat anggukan kepala dari Roky.


"Satu angkatan dengan kita? " Dimas kembali bertanya.


"Enggak " Jawab Roky singkat.


"Kakak kelas?" Ucap Dimas, Roky pun menggeleng.


"Jangan bikin gue penasaran dong! " Ucap Dimas.


"Kasih tau gak ya? " Kekeh Roky.


"Awas ya, gue tikung juga tuh gebetan lu! " Cicit Dimas.


"Ckk, enak aja! "


"Gue kenalin besok pas persami! " Ucap Roky.


"Emang dia juga ikut? " Tanya Dimas.


"Ikut lah" Sahut Roky dengan yakin.


"Jadi penasaran gue! Kaya apa bentukannya cewek incaran lu itu" Ucap Dimas dengan nada mengejek.


"Behh, lu gak tau sih! Is fery perfect " Roky mengacungkan kedua jempolnya.


"Gak yakin gue " Dimas mencebikkan bibirnya.


--------______-------_____-------___-----_____-------


"Lu yakin mau turun di sini? " Tanya Rafi sambil memperhatikan sekitaran lokasi.


"Yakin lah " Reva melepas seat belt.


"Makasih" Ucap Reva sebelum turun dari mobil Rafi.


Rafi hanya mengangguk pelan, setelah itu ia memacu mobilnya.


"Semoga kamu suka dan gak sedih lagi " Gunam Rafi.


"Va, kebetulan sekali kamu sudah datang " Ucap penjaga kasir.


"Emang ada apa ya mbak? " Tanya Reva.


"Ini ada pesanan dan minta di antar cepat! Kamu bisa kan? "


"Iya mbak, aku ganti baju dulu ya! " Reva segera menuju tempat ganti.


"Mana mbak pesanan yang harus saya antar? " Tanya Reva yang sudah mengenakan seragam kerja.


"Ini Va, dan ini alamatnya"


"Iya mbak "


Reva menata box makanan itu dengan sangat hati-hati.


"Bismillah, semoga lelahku menjadi berkah"


"Aminn" Sahut seseorang di belakang Reva.

__ADS_1


Reva menoleh ke sumber suara, "Kak Nanta"


"Semangat ya! " Nanta mengusap pucuk kepala Reva.


Reva mengangguk pelan dan tersenyum.


"Aku berangkat dulu ya kak!" Pamit Reva.


"Hati-hati Va " Sahut Nanta.


"Siap bosque" Ucap Reva sambil memberi hormat.


Nanta hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, "aku merasa punya adik lagi " Kekeh Nanta.


"Benarkan ini alamatnya? " Reva menatap gedung perkantoran itu, kemudian ia segera turun dari motor metiknya.


"Permisi mbak, saya mau antar pesanan atas nama ibu Maya " Ucap Reva saat tiba di lobby kantor itu.


"Oh iya mbak, sudah di tunggu beliau. Mbak langsung saja ke lantai dua puluh " Jelasnya.


"Terimakasih mbak! " Ucap Reva.


Reva sedikit kerepotan saat akan menekan tombol lift. Karena kedua tangannya menyangga box makanan itu. Untung saja ada orang yang berbaik hati membantu menekankan tombolnya, sehingga pitu lift itu terbuka.


"Terimakasih! " Ucapnya dan segera masuk lift.


"Mau ke lantai berapa? " Tanya laki-laki itu.


"Dua puluh " Jawab Reva hanya melirik laki-laki itu.


Seperti pernah ketemu sama orang ini n tapi di mana ya? Batin Reva.


Reva mencoba mengingat seseorang yang ada di sampingnya.


Eh... Tunggu! Wanginya! Kok mirip sama si tukang bully itu ya? Tapi mau apa coba dia ada si sini? Reva bermonolog.


Karena penasaran Reva menoleh ke laki-laki itu, "KAMU" Ucap Reva.


Iya laki-laki itu adalah Rafi, entah kenapa dirinya merasa ingin ke kantor orang tuanya.


"Kamu yang ngapain kesini? Kalau aku sih sudah pasti kerja! Nih kamu gak lihat aku bawa apa? " Ucap Reva.


"Oh" Rafi hanya ber O riya.


Ting


Pintu lift pun terbuka, Reva segera keluar ia tak mau pelanggan kecewa dengan dirinya.


Oh.. Jadi itu alsan dia minta turun di jalan xxxx tadi? Pulang sekolah langsung kerja? Apa gak capek? Apa segitu miskinnya dia? Lalu kemana kedua orang tuanya? Kenapa mereka membiarkan anaknya yang bekerja! Batin Rafi.


"Permisi pak! Ruangan ibu Maya di mana? " Tanya Reva ke pada laki-laki dewasa yang ia jumpai.


"Oh.. Jadi adek yang mengantar pesanan? "


"Iya Pak " Sahut Reva.


"Silahkan ! Sudah di tunggu bu Maya " Laki-laki itu mengarahkan Reva ke ruangan Maya.


"Nyonya pesanan nya sudah datang " Ucap laki-laki itu.


"Suruh masuk Jim! " Sahut Maya.


"Silahkan masuk dek! " Ucap Jimi.


"Nyonya ini pesanannya, maaf sedikit terlambat" Ucap Reva.


"Oh.. Tak masalah " Sahut Maya.


"Ma.. " ucap Rafi yang baru datang.

__ADS_1


Reva menoleh ke sumber suara, sesaat Reva terbengong.


A**pa? jadi dia anak pemilik perusahaan ini? batin Reva.


"sayang! tumben kamu ke kantor, ada apa? "tanya Maya yang heran dengan putra semata wayangnya itu.


" jadi gak boleh nih Rafi ke sini? " ucap Rafi yang pura-pura merajuk.


ish... manja amat, sangat berbeda saat di sekolah. batin Reva.


"boleh dong! " ucap Maya sambil tersenyum.


"Papa mana Ma? " tanya Rafi.


"Papa masih meeting, duduk sini! " ucap Maya.


"kalau begitu saya permisi dulu nyonya! " lamit Reva.


"oh iya, ini buat kamu " Maya memberi satu lembar uang kertas berwarna biru kepada Reva.


"Tapi ini kebanyakan Nyonya " ucap Reva.


"Enggak papa" ucap Maya.


"Udah di terima saja " ucap Rafi yang mendapat tatapan tajam dari Reva.


"iya, nyonya terimakasih! " ucap Reva sambil tersenyum.


"kenapa dia ada di mana-mana sih! udah kaya hantu aja " omel Reva.


"Siapa yang kamu bilang kaya hantu? "


"Oh... yaampun! sura itu " Reva memejamkan matanya, berharap ia salah dengar.


"Hei, ini kunci motor mu buka ? " tanya Rafi.


Reva langsung berbalik badan dan benar kunci motornya ada di tangan Rafi.


"Kembalikan ! " Reva merebutnya, dengan cepat pula Rafi mengangkat tinggi kunci itu.


"Ihh nyebelin banget sih! " cicit Reva.


"Biarin! nih ambil kalau bisa! " Rafi membawa lari kunci motor itu.


"Hei, tunggu!" teriak Reva.


"Ambil kalau bisa! " ucap Rafi yang terus berlari.


"Kembalikan! " Reva mengejar Rafi yang sudah menaiki anak tangga.


Reva berhenti sejenak karena merasa lelah.


"Maunya apa sih itu orang? tadi sok baik, sekarang kumat lagi! " gerutu Reva sambil mengatur nafasnya.


"Mana kuncinya? aku harus kembali kerja " ucap Reva yang menyusul Rafi.


"Ngapain sih buru-buru? lu gak mau lihat pemandangan kota dari atas gedung ini? " ucap Rafi yang berdiri di dekat tembok pembatas.


"Aku gak minat dan juga gak tertarik " ucap Reva ketus, tapi lain lagi dengan sorot matanya yang memandang kagum .


"Ini belum seberapa, jika di lihat saat malam hari akan lebih indah" ucap Rafi.


Sesaat Reva menoleh Rafi, "Aku gak peduli! kembalikan kuncinya! " ucap Reva.


"Nih, ambil kalau kamu bisa? " Rafi mengantongi kunci itu saku celana.


Reva dengan cepat merebut kunci itu, sialnya kuncinya sudah terlebih dulu masuk ke saku celana Rafi. Sehingga tanpa sengaja Reva memeluk Rafi.


Jangan lupa like , komen

__ADS_1


Favoritkan juga agar kalian tidak ketinggalan bab selanjutnya. Thanks for reading, see you in the next chapter😉


__ADS_2