2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps76


__ADS_3

Dengan perantara mie. Bibir keduanya saling bertemu. Reva segera memundurkan wajahnya yang sudah bersemu merah.


"Kenapa mie nya jadi seenak ini ya?" Ucap Rafi.


"Masak sih? Perasaan biasa aja!" Sahut Reva yang tak mengerti arah bicara Rafi.


"Serius! Enak! Mau coba?" Rafi memajukan wajahnya setelah menyuapkan mie delam mulutnya sendiri.


"Ha... " Reva membelalakan matanya saat tau apa yang Rafi maksud.


"Kenapa? Bukanya kamu suka kalau aku suapain dengan cara ku ini!" Goda Rafi.


"Ha... Itu kan terpaksa!" Reva malu sendri saat mengingat diri nya yang mendapat suapan langsung dari mulut Rafi.


"Terpaksa! Tapi suka kan?" Rafi menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih!" Reva menyuapkan mie ke mulut Rafi agar diam dan tidak menggodanya lagi.


Selesai makan, mereka lanjut nonton TV. Reva duduk dengan posisi kepala yang menyandar di bahu Rafi, membuat dirinya nyaman. Seolah mendapatkan bantal yang super empuk, tanpa Reva sadari matanya mulai terpejam.


Merasakan jika kekasih nya mulai terlelap , Rafi mengubah posisinya dengan perlahan Rafi meletakan kepala Reva ke pah anya sebagai bantal. Setelah itu Rafi masih menikmati acara televisi itu sambil berbalas pesan dengan Roky dan juga Dimas.


Tak terasa sudah jam sebelas malam. Rafi mengangkat Reva dan membawanya masuk ke kamar. Sebelum keluar dari kamar Reva, Rafi terlebih dulu mengecup kening Reva.


Keesokan harinya, seperti biasa maya akan repot menyiapkan sarapan. Terutama untuk anak gadisnya.


"Pagi ma!" Sapa Rafi.


"Pagi sayang!" Sahut Maya.


"Reva belum keluar ma?" Tanya Rafi.


"Belum!"


"Pagi om, tante!" Sapa Reva dan hanya melempar senyum manis ke Rafi.


"Sayang ayo sarapan!" Maya meletakan roti senwich ke hadapan Reva.


"Sayang... Nanti sepulang sekolah kita temui oma kamu ya?!" Ucap Maya.


"Maaf tante!" Reva menggeleng.


"Kenapa sayang? Itu keluarga kandung kamu! Hanya keluarga dadi mama mu saja yang tersisa!" Ucap Maya pelan.


"Reva tau itu tan! Tapi Reva masih ragu dan enggak yakin jika mereka akan menganggap Reva sebagai keluarga. Reva tak ingin kecewa!"


"Tapi... " Maya tak melanjutkan ucapnya saat tangannya di genggam oleh Guntur.


"Biarkan Reva sendri yang memutuskan! Jangan paska dia!"

__ADS_1


"Oke! Tapi jangan tolak ajakan tante yang satu ini ya!"


"Apa?" Tanya Reva.


"Tinggal bersama Om dan tante ya!" Maya memohon.


"Reva enggak mau merepotkan om dan tante! Jadi biarkan saya tetap tinggal di rumah ini!" Lagi-lagi Reva menolak ajakan Maya.


"Nak,.. Dengarkan Om! Kamu anak perempuan tidak baik jika tinggal sendiri,bahaya! Tinggal bersama kami ya! Agar Om dan tante bisa menjaga dan mengawasi kamu! Ijinkan Om dan tante menggantikan papa, mama mu! Walaupun sejatinya mereka tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun."jelas Guntur.


"Iya sayang mau ya!" Timpal Maya .


Reva melihat kearah Rafi, seolah mencari pendapat. Rafi menganggukkan kepalanya tanda dirinya juga setuju dengan kedua orang tuanya.


Hari berlalu dengan cepat. Sepulang sekolah Reva meminta bantuan kepada sahabatnya untuk membantunya berkemas.


"Reva, ini semua di taruh kardus yang mana?" Tanya sisil yang merapikan buku-buku Reva.


"Oh... Jadikan satu sama sama itu aja!" Reva menunjuk kardus yang berisi aksesoris dan Skincare.


Sedangkan Rafi dan gengnya mengemas barang-barang yang ada di ruang tamu, dan ruang tengah. Karena rencananya rumah Reva akan di sewakan.


"Ngaso dulu lah va! Capek nih!" Rengek sisil.


"Iya.. Iya kita rehat dulu!" Reva menghampiri kulkas dan membutuhkan minuman dingin untuk teman-teman nya.


"Wah... Seger banget!lega rasanya!" Ucap Niar setelah meneguk jus jeruk buatan Reva.


"Cuma minum aja nih? Enggak ada makanan atau camilan apa gitu?" Celetuk Dimas.


"Maaf ya! Emm... Kalau kalian mau aku masakin ya? Tapi bahan yang ada hanya telur aja!" Ucap Reva.


"Enggak usah va! Kita delivery aja! Enggak usah repot-repot masak!" Tolak sisil.


"Iya va!" Timpal Niar. "Tapi asik juga ya kalau masak dulu! Ya itung-itung belajar untuk masakin suami nantinya!" Lanjut Niar.


"Masih juga sekolah udah mikirin suami lu!kaya punya cowok aja!" Ledek sisil.


"Hey... Ini bukan masalah punya cowok atau enggak ya! Suatu saat nanti kita pasti akan menikah. Jadi apa salah untuk belajar dari hal-hal kecil untuk menyenangkan hati pasangan kita nantinya?" Ucap Niar.


"Betul yang... Apa kata Niar! Masak nanti aku makan masakan bibi terus!aku juga pengin di masakin sama kamu!" Roky membela niar.


"Tuh dengarkan apa kata cowok lu! Hayuk Va kita masak! Telur aja juga enggak papa!" Niar langsung menarik Reva dan mengajaknya ke dapur.


Sedangkan Dimas dan Rafi hanya melihat Reva dan Niar yang sudah menghilang ke dapur. Tak lama sisil pun menyusul ke dapur.


"Aku ikut masak dong!" Ucap sisil.


"Sini! Kamu kupasin bawang ya!" Ucap Reva.

__ADS_1


Kedua gadis itu sangat antusias untuk masak. Biasanya kalau ingin makan ini itu, mereka tinggal pesan atau memerintah bibi nya.


Hampir satu jam bergelut di dapur. Dan tentu saja banyak drama yang mereka alami. Kini mereka keluar dari dapur dengan membawa hasil masakan mereka.


"Taraaa.... Makan sudah siap!" Ucap sisil dengan gaya centilnya.


"Makan di bawah sini aja yang.... Lagi mager nih!" Ucap Roky.


"Betul! Lesehan lebih nikmat kayanya!" Imbuh Rafi.


"Wah... Kelihatannya enak nih!" Ucap dimas sambil menelan ludah.


Reva dan sisil melayani pasangannya masing-masing. Kecuali niar. Ia membiarkan Dimas mengambil nasi dan lauk sendiri.


"Suapin ya!" Bisik Rafi kepada Reva.


"Malu ih.. "


"Kenapa malu? Lihat tuh teman kamu!" Rafi menunjuk Roky dan sisil yang sudah menyantap nasi dengan telur ceplok balado.


Reva menuruti keinginan Rafi. Walaupun ia sungkan karena harus mengumbar kemesraan di hadapan teman-teman nya. Reva menyuapi Rafi dan berganti menyuapi dirinya sendiri dari sendok yang sama.


"Hemm... Enak!" Puji Rafi dengan mulut yang masih mengunyah.


Lain lagi dengan Roky dan sisil. Dengan telaten Roky menyuapi sisil. Itu juga karena sisil yang meminta.


"Honey, Suapin ya! Aku sudah masak lo, lihat tangan ku terkena cipratan minyak panas!" Rengek sisil dengan manja.


"Iya, buka mulut nya!" Roky mulai menyuapi sisil.


"Dunia serasa milik berdua! Yang lain cuma ngontrak!" Celetuk Niar.


"Kenapa? Sirik aja lu! Noh... Si Dimas nganggur, suapin juga dia!" Sahut sisil.


"Idihh.... Biar makan sendri lah! Punya tangan juga!" Setelah mengucapkan itu Niar memilih makan di ruang tengah. Ia menikmati makanan itu dengan bermain hape. Terlihat Niar senyum-senyum sendri saat membaca pesan masuk.


📱Dimas : masakannya enak! Besok-besok mau dong di buatin lagi 😉


📱Niar: itu resep dari Reva dan Reva yang masak aku hanya bantu-bantu saja 🙈


📱Dimas: kamu masih hafal kan resep nya? Buatin lagi ya! 😘


📱Dimas :aku mau hasil masakan mu sendri tanta ada campur tangan dari siapapun 😍😘


📱Niar: iya beby 


Mendapatkan pujian dari Dimas. Walaupun hanya lewat pesan singkat tapi dirinya sudah begitu senang.


Setelah dari rumah sakit waktu itu, Niar dan Dimas semakin dekat. Bahkan Dimas juga telah menyatakan perasannya kepada Niar. Dan, kesepakatan mereka berdua tidak memberi tahu kepada teman-teman nya jika mereka menjalin hubungan.

__ADS_1


__ADS_2