
"Ibu... Tante Maya!" Gumam Reva.
Maya mengangguk, "iya sayang!" Ucap Maya yang langsung memeluk Reva dengan erat.
"Maafkan tante ya sayang! Tante tidak mengenali mu waktu itu. Tolong jangan di masukan hati omongan tante, tante benar-benar minta maaf ya sayang! Karena saat itu pikiran tante sedang kalut. Pencarian Mama mu yang tak kunjung di temukan, setelah tante baca surat dari Mama mu itu, tante semakin terpukul di tambah lagi Rafi yang kecelakaan saat persami. Sehingga tante tidak bisa berpikir dengan jernih. Maaf... Maafkan tante ya Reva sayang!"ucap Maya yang panjang lebar sambil membelai wajah Reva.
Reva terdiam. Dirinya ingat betul apa yang di ucapakan Maya waktu itu.
"Saya sudah melupakan kejadian itu kok tan! Saya memaklumi semua itu. Semua orang tua pasti menginginkan suatu saat nanti anaknya bersanding dengan orang tepat. Dan, saya juga sudah lupa dengan ucapan tante. " Bohong Reva.
Sebenarnya ia masih terninang niang akan ucapan Maya . Walaupun hanya namanya yang di sebut, apa lagi ini bertatap muka secara langsung.
"Jadi ini semua gara-gara Mama? Iya betul begitu Va? Ini alasan kamu yang selalu menolak ku?" Cecar Rafi yang radi tadi hanya menjadi penonton , kini dirinya angkat bicara.
"Bukan... " Ucapan Reva menggantung di saat pintu ruang oprasi itu terbuka lebar.
"Dok, gimana nenek saya?" Reva menghampiri dokter Hasan. Sesaat dirinya melupakan pertanyaan Rafi.
"Nenek!" Ucap Reva saat melihat nenek nya di bawa keluar dari ruang oprasi.
"Oprasi berjalan dengan lancar! Tapi, beliau kritis. Sehingga harus di rawat secara intensif di ruang ICU. " Jelas dokter Hasan.
__ADS_1
Seketika Reva menjadi lemas, kakinya tak mampu berdiri lagi. Dirinya hampir saja jatuh, untung ada Rafi yang dengan sigap menopang Reva.
"Tolong kamu jaga Reva!" Ucap dokter Hasan sebelum pergi. Rafi hanya mengangguk.
"Sayang!" Maya membelai rambut Reva dengan lembut.
Reva hanya bisa menangis. Mendengar kabar jika nenek nya kritis membuat dirinya membayangkan hal yang kemungkinan besar akan terjadi.
"Va.. Bicaralah! Jangan diam saja!" Rafi mengusap air mata Reva.
"A-aku takut Fi" Ucap Reva yang lirih.
Setelah hati dan pikirannya tenang Reva mengunjungi ruang rawat neneknya.
"Sayang, tante ikut masuk ya!" Ucap Maya yang mendapat anggukan dari Reva.
Karena hanya dua orang saja yang bisa masuk, sehingga mau tak mau Rafi menunggu di luar.
Maya menutup mulutnya saat melihat wanita tua yang terbaring di atas tempat tidur .
"Bi Lastri!" Maya mendekat ke tempat tidur. Air mata Maya tak bisa lagi di bendung, mengalir tanpa permisi. Maya menggenggam tangan Bi Lastri, "Bi, bangun lah ini aku Maya BI. Aku ingin bicara banyak hal sama bibi! Bangun lah bi ,aku mohon." Lirih Maya.
__ADS_1
"Tan!" Reva menepuk lembut punggung Maya.
"Maafkan tante... Maafkan tante!" Ucap Maya seraya memeluk erat tubuh Reva.
"Iya tante!" Ucap Reva.
"Tante benar-benar bodoh! Kenapa selama ini tante melupakan bi Lastri. Dari dulu bi Lastri tak pernah berubah, selalu menolong dan membantu Mama mu." Ucap Maya.
"Maksud tante?" Tanya Reva.
"Bi Lastri itu.... "
"Nenek!" Pekik Reva.
bersambung.....
**JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN YA!
YUK KEPOIN JUGA NOVEL YANG BERJUDUL "**ISTRI YANG BISU"
__ADS_1