
Sama-sama saling mengkhawatirkan, Reva maupun Rafi tak bisa memejamkan matanya hingga waktu menjelang pagi.
Saat tengah malam Reva terjaga dan mengecek ponselnya. Saat mengaktifkan ponselnya sudah ada ada ratusan telfon dan pesan yang masuk.
Reva membaca satu persatu isi pesan itu, sedikit ada kelegaan di hatinya saat membaca pesan dari Rafi.
Reva membalas pesan Rafi mengabarkan jika dirinya baik-baik saja. Hingga akhirnya mereka berbalas pesan hingga tak tau waktu.
Pagi ini Reva harus tetap masuk sekolah walaupun badan masih terasa capek dan mata yang masih ngantuk.
Mengenakan seragam rapi Reva pun menemui neneknya untuk berpamitan.
"Nek, Reva berangkat dulu ya! "Reva meraih tangan sang nenek dan mencium punggung tangannya.
" Kamu gak izin aja dulu Va? Kamu masih terlihat capek! "Ucap sang nenek.
" Gak papa Nek! Reva tetep masuk aja! Reva kan juga harus mempersiapkan diri untuk ikut lomba "sahut Reva.
"Ya udah kalau itu mau kamu! Hati-hati ya! "Ucap Lastri.
"Iya Nek!" Sahut Reva.
"Eh... Tunggu! Ini bekal buat kamu!" Lastri memberikan kotak makan ke Reva.
"Makasih Nek!" Reva mengecup kedua pipi Lastri.
Setelah itu Reva langsung keluar rumah. Saat membuka pintu ia di kagetkan oleh dua orang pira yang mengunakan seragam serba hitam.
"Kalian siapa? Ada perlu apa? " Tanya Reva dan sesekali menengok ke arah rumah. Sedetik kemudian Reva menutup pintu rumah nya agar neneknya tidak khawatir.
"Kami kesini atas perintah tuan kami! " Jawabnya.
"Tuan? Siapa? " Tanya Reva lagi.
"Tuan muda Rafi! Kami di suruh menjemput nona dan membawanya ke rumah sakit! " Jelasnya.
"Oh... Gitu ya! Bilang saja sama dia nanti sepulang sekolah saya akan menjenguknya! " Ucap Reva.
"Tidak bisa nona! Nona harus ikut kami sekarang juga! Jika tidak kami berdua pasti akan kehilangan pekerjaan! Alias di pecat! " Jelasnya.
"Hah!" Reva tersentak tak percaya dengan ucapan dua orang itu. "Baik lah! " Ucap Reva.
"Mari Non! " Salah satu orang itu membukakan pintu mobil untuk Reva.
Setibanya di rumah sakit Reva sudah di tunggu oleh Maya di depan.
"Apa kau yang bernama Reva? " Tanya Maya to the poin .
"Iya! Ada apa? " Jawab Reva dengan sopan.
"Nona ini ibu dari tuan Rafi" Bisik orang yang membawa Reva tadi.
__ADS_1
"Oh.. Maaf saya tidak tau!" Reva sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat, "bagaimana keadaan Rafi Tan?" Tanya Reva.
"Tidak perlu banyak basa basi! Saya minta sama kamu jangan terlalu dekat anak saya. Kalau perlu kamu jauhi Rafi, karena Rafi sudah tante jodohkan." Ucap Maya yang langsung pada intinya.
Reva terdiam mencoba mencerna apa yang di ucapan ibu dari Rafi. Kemudian Reva mengangguk pelan.
"Kamu bisa menemui Rafi Sekarang! Waktu mu sepuluh menit dari sekarang!" Ucap Maya.
Reva mengangguk, "saya permisi dulu!" Ucap Reva dan langsung melangkah menuju ke ruang perawatan.
Baru juga dua langkah Maya kembali berucap sehingga Reva berhenti sejenak.
"Setelah ini jagan dekati Rafi lagi! Ingat itu!" Ucap Maya. Lagi-lagi Reva menganggukkan kepala nya.
Reva membuka pintu dengan perlahan, ia mulai masuk ke ruang rawat itu.
"Reva!" Rafi mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar.
Reva tersenyum, "gimana keadaan mu?" Tanya Reva yang berdiri agak jauh dari tempat Rafi.
"Kamu bisa lihat sendri kan! Aku sudah membaik" Jawab Rafi, "kamu kok di situ sih? Sini!" Rafi melambaikan tangannya. Saat itu juga Maya masuk ke dalam.
"Ma... Ini lo yang namanya reva!" Kata Rafi dengan seulas senyum.
"Heemm" Sahut Maya dan langsung menuju sofa.
"Sini Va!" Ulang Rafi.
Reva sesat melihat ke arah Maya sebelum ia mendekat ke Rafi.
"Alhamdulillah gak ada Fi!" Ucap Reva.
Reva sudah menyiapkan banyak pertanyaan saat di perjalanan tadi tapi semua itu hilang begitu saja saat Maya menemuinya.
"Apa kaki mu masih sakit?" Tanya Reva.
"Tidak!" Jawab Rafi sambil menunjukan kakinya yang masih di perban.
"Kamu terlihat berbeda jika tidak menggunakan kacamata" Kata Rafi.
"Benarkah? Aku belum sempat membeli lagi! Rencananya masih nanti pulang sekolah" Ucap Reva.
"Kenapa? Kamu lebih cantik begini!" Ucap Rafi.
"Kalau tidak pakai kacamata aku akan kesulitan untuk membaca dengan jarak jauh!" Jelas Reva.
"Oh.. Iya aku lupa! Kamu sudah pernah bilang waktu itu" Sahut Rafi.
"Heemm... Aku gak bisa lama - lama, aku harus ke sekolah takut nanti terlambat! Aku pamit dulu ya?" Kata Reva yang sudah beranjak dari duduknya.
"Kenapa buru-buru sih?" Rafi menahan tangan Reva.
__ADS_1
"Nanti terlambat! Aku juga harus menemui kepala sekolah untuk mempersiapkan lomba" Jelas Reva.
"Ah ya... Aku lupa!" Rafi menepuk jidatnya sendiri, "kita kan yang di pilih untuk mewakili sekolah kita!"
Maya menyibukkan diri dengan bermain ponselnya tapi yang sebenarnya Maya telah menyimak obrolan mereka berdua.
"Kamu yakin akan tetap mewakili sekolah kita dengan keadaan kamu seperti ini?" Tanya Reva.
"Kenapa tidak! Besok aku sudah boleh keluar dari rumah sakit! " Ucap Rafi dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu!" Ucap Reva.
"Tunggu! Aku akan menelfon sopir untuk mengantarkan mu!" Ucap Rafi.
"Terimakasih! Tapi itu tidak perlu!" Sahut Reva.
Sebelum keluar dari ruangan perawatan Reva berpamitan terlebih dulu ke Maya.
"Apa hubungan mu dengan gadis itu?" Tanya Maya setelah Reva pergi.
"Kenapa mama tanya seperti itu?" Rafi balik tanya.
"Mama tidak suka ya kamu dengan gadis itu!" Kata Maya ketus.
"Bukanya Mama gak masalah jika aku dekat dengan wanita manapun?apa mama sudah lupa dengan ucapan mama sendri?" Kata Rafi.
"Mama gak lupa! Mama mengatakan itu sebelum mama menerima dan membaca surat dari sahabat Mama!" Ucap Maya.
"Lalu mama berubah pikiran?" Tanya Rafi.
"Tentu! Mama akan menjodohkan mu dengan anaknya tante Elis" Ucap Maya.
"Mama bercanda? Mama aja belum menemukan dimana anak tante Elis itu berada!" Ucap Rafi.
"Memangnya kenapa? Apa masalahnya?" Tanya Maya.
"Ya ... Masalah dong ma! Siapa tau anak tante Elis itu masih kecil , masih sekolah dasar" Ucap Rafi.
"Jangan salah ya! Umurnya lebih mudah dari kamu hanya berbeda satu tahun dari umur mu!" Kata Maya.
"Aku tetap tidak mau ma!" Ucap Rafi.
"Keputusan mama sudah bulat dan tidak bisa di ubah!" Tegas Maya.
"Ma... " Ucap Rafi terpotong saat pintunya terbuka dan tampak Jimi dibalik pintu.
"Mama jodohkan saja sama Jimi! Aku tetap tidak mau!" Ucap Rafi.
Sedangkan Jimi yang baru datang dan tak tau poko masalahnya itu hanya terbengong di tempat.
bersambung......
__ADS_1
**JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN YA!
HADIAHNYA JUGA JANGAN TERLEWATKAN YA! 🤭😁😔😉**