
"Mama jodohkan saja sama Jimi! Aku tetap tidak mau!" Ucap Rafi.
Sedangkan Jimi yang baru datang dan tak tau poko masalahnya itu hanya terbengong di tempat.
"Kenapa bawa -bawa nama saya?" Ucap Jimi setelah sadar dari bengong nya.
"Mama akan menjodohkan mu dengan anak dari sahabat mama" Sahut Rafi.
"Maksudnya?"tanya Jimi.
" Anak dari tante Elis!" Jelas Rafi.
"Yang benar saja! Aku gak mau ya menikah dengan anak yang ingusan!" Ucap Jimi.
"Jangan dengarkan Rafi! Dia sendiri yang saya jodohkan!" Tegas Maya.
"Ma... " Ucap Rafi.
"Tak ada bantahan! Mau atau tidak mau mama akan tetap menjodohkan kalian!" Ucap Maya.
"Udah terima saja! Pasti anaknya tante Elis cantik!" Ucap Jimi sambil menepuk bahu Rafi.
Reva tiba di sekolah saat bel masuk berbunyi.
Saat jam istirahat Reva dan kedua temannya berada di kantin sekolah.
"Sayang!" Ucap Roky sambil memeluk Sisil dari belakang.
"Honey! Bikin kaget aja deh!" Kata Sisil.
"Mulai deh mulai!" Cicit Niar.
"Makanya cari pacar dong!" Kata Sisil sambil bergelayut di lengan Roky.
"Gimana kalau teman kamu ini kita jodohkan sama Dimas?" Tanya Roky kepada Sisil.
"Boleh juga tuh!" Sahut Sisil.
"Idih amit-amit deh! Gue pacaran ma cowok kaya dia! Bukan level gue!" Ucap Niar sambil meminum jus jeruk.
"Bisanya kalau benci itu bisa jadi cinta lho!" Reva ikut bicara.
"Gue gak akan jatuh cinta sama dia! Meskipun di dunia ini hanya tersisa satu cowok dan itu ida! Mending gue milih untuk hidup sendri Va!" Kata Niar.
"Gak boleh gitu Nia!" Ucap Reva.
"Oh.. Iya gue sama Dimas mau jenguk Rafi ke rumah sakit. Kalian mau ikut gak? Pastinya gue bawa teman kalian yang cantik jelita ini!"ucap Roky sambil mencubit dengan gemas hidung Sisil.
" Lu gak bilang gue juga udah tau kalau Sisil pasti akan ikut sama lu! Secara ini ya! Kalian ini udah kaya amplop dan perangko... Bawanya nempel mulu!"kata Niar.
"Nah itu lu tau!" Kekeh Sisil, "gimana ikut gak?"
Niar dan Reva saling pandang.
"Sepertinya aku gak ikut deh Sil" Ucap Reva.
"Why? Bukannya kemarin lu ngotot ingin nunggu Rafi sampai siuman? Lalu kenapa lu gak ikut dengan kita buat nengok dia?" Tanya Sisil.
__ADS_1
"Aku harus latihan buat ikut lomba!" Bohong Reva .
"Yakin lu gak mau ikut?" Tanya Niar. Reva pun mengangguk , ia ingat akan kejadian tadi pagi dan Reva juga sadar diri jika dirinya memang tak pantas dekat dengan Rafi walaupun hanya sebatas teman.
"Dicariin dari tadi ternyata lu asik ya pacaran di sini!" Ucap Dimas yang tanpa sadar duduk di samping Niar.
"Ngapain lu nyariin gue?" Tanya Roky.
"Jadikan nanti kita ke rumah sakit nya?" Tanya Dimas.
"Pastilah!" Sahut Roky.
"Gue harus bicara sama Rafi agar gue gak di pindah dari kota ini sama Om Guntur"ucap Dimas.
" Salah sendri bikin ulah! Rasain lu! Semoga lu dikirim ke pulau terpencil sama papanya Rafi itu!" Ucap Niar dengan santai .
Dimas menoleh dan baru ia sadari jika di sampingnya adalah Niar, "ngapain lu duduk di sini? Jauh-jauh lu dari gue!" Ucap Dimas.
"Lu tu yang jauh-jauh! Dari tadi gue udah duduk di sini kali!" Sahut Niar.
"Kalian tu ya! Kalau ketemu bawanya ribut mulu! Heran deh gue! Udah kaya tom and Jerry. Jangan-jangan.... Kalian ini memang jodoh ya!" Ucap Sisil.
"Ih... Amit-amit" Sahut Niar dan Dimas bersamaan.
"Fix... Kalian memang berjodoh!" Kata Sisil.
"Enggak!" Ucap Dimas dan Niar yang kembali kompak.
"Ngomong aja bisa barengan terus kaya gitu! Gue berdoa semoga kalian berjodoh" Lanjut Sisil.
"NO!" Ucap Niar dan Dimas. Mereka saling berhadapan dan kemudian saling membuang wajah.
"Reva beneran gak ikut?"tanya Roky.
"Iya! Dia bilang mau ke perpustakaan tadi!" Jawab Niar.
"Ya udah kita berangkat sekarang!" Kata Roky sambil membuka pintu mobil buat Sisil.
"thank you my honey!" Ucap Sisil. Roky pun tersenyum dan mengkerlingkan matanya.
Sedangkan Niar dan Dimas mereka naik mobilnya sendiri-sendri.
Reva melihat dari kejauhan saat tiga mobil itu beriringan keluar dari area sekolah. Tak lama kemudian Reva juga ikut keluar dari area sekolah, tujuannya adalah kembali untuk bekerja.
Iring-iringan mobil itu tiba di rumah sakit tempat di mana Rafi mendapatkan perawatan.
Mereka berempat berjalan menuju ruang rawat VVIP.
Perlahan Roky membuka pintu itu tampak Rafi seorang diri di ruangan itu.
"Bray!" Ucap Roky yang mengagetkan Rafi yang sedang fokus menatap layar ponselnya.
"Hey.. " Ucap Rafi dan menaruh ponselnya di atas nakas.
Roky dan Dimas bergantian memeluk Rafi.
"Reva gak ikut sama kalian?" Tanya Rafi saat melihat Sisil dan juga Niar.
__ADS_1
"Dia tadi bilang mau ke perpustakaan!" Sahut Sisil.
"Oh... Gitu ya!" Ucap Rafi.
"Kenapa? Lu mau ngobrol sama dia? Gue akan telfon dia buat lu!" Ucap Sisil yang sudah mengeluarkan ponselnya.
"Boleh!" Sahut Rafi.
Panggilan pertama lolos tak terjawab. Panggilan kedua juga masih tak tak terjawab, dan saat panggilan ke tiga baru terjawab dari sang empunya.
'Halo! Ada Sil?' tanya Reva dari sebrang.
'Ada yang nyariin lu nih!'jawab Sisil dan memberikan ponselnya ke Rafi.
Rafi pun mengubah panggilan itu menjadi video call.
'Hay!' ucap Rafi saat melihat wajah Reva yang memenuhi layar ponsel itu.
'Kamu?'ucap Reva yang kaget tenyata Rafi lah yang mencarinya.
'Kenapa gak ikut ke sini?' tanya Rafi dengan seulas senyum.
'Hemm.. Aku sedang di perpustakaan! Cari buku-buku buat belajar' jawab Reva.
'Jangan bohong! Aku tau kamu lagi dimana kok! ' ucap Rafi.
'Ya udah kalau tau aku ada di mana! Aku harus lanjut lagi! Bey ' ucap Reva dan langsung menutup video call.
Rafi langsung kembali menghubungi nomor Reva , namun nomor itu sudah tak aktif lagi.
"Gak bisa ya? " Tanya Sisil.
"Iya! Nih! " Rafi mengembalikan ponsel Sisil.
"Kesannya Reva seperti menghindar dari lu! Padahal kemarin dia ngotot banget lo mau nungguin lu sampai sadar. Tapi saat gue ajak buat jenguk lu dia gak mau! Terus saat lu video call dia juga biasa aja responnya!" Ucap Sisil.
Apa ini ada sangkut pautnya dengan mama? Batin Rafi.
"Udah jangan di pikirin! Lu bisa tanya ke orang nya langsung nanti saat lu udah masuk sekolah!" Ucap Roky.
"Betul itu!" Sahut Dimas, "be the we! Gue mau bicara nih sama lu ! "
"Apa? " Tanya Rafi.
"Tolong dong bujuk papa lu agar gue gak di kirim ke luar negeri!" Mohon Dimas.
"Lu tenang aja itu gak akan terjadi kok!" Sahut Rafi.
"Serius?" Tanya Dimas.
"He'em" Rafi mengangguk.
"Thank you bray!" Dimas memeluk Rafi.
bersambung......
**JANGAN LUPA UNTUK LIKE & KOMEN
__ADS_1
TAMBAH KAN KE FAVORIT JUGA YA!
VOTE DAN HADIAHNYA JANGAN SAMPAI LUPA JUGA 😉😉**