
Waktu begitu cepat. Satu semester telah terlewat kan. Belakangan ini Rafi sibuk dengan ujian kelulusan. Sehingga tak banyak waktu untuk dirinya berdua dengan Reva. Walaupun tinggal satu atap, waktu mereka untuk saling bicara sangat sedikit. Hanya saat jam makan saja Rafi bisa bicara dengan Reva, setelah itu ia kan sibuk belajar lagi.
"Hay Va!" Ucap sisil yang pagi-pagi sudah datang ke rumah Rafi.
"Sisil!" Ucap Reva yang terkejut.
"Hehe... Maaf ya pagi-pagi udah kesini! Soalnya lagi bete di rumah!" Dengan wajah yang sok melas sisil duduk di tepi tempat tidur Reva.
"Bete kenapa sih? Biasanya dirimu yang selalu heppy di antara kita bertiga!" Reva ikut duduk di samping Sisil.
"Beberapa minggu ini Roky sibuk untuk ujian akhir sekolah. Jarang ada waktu buat ku! Telfon saja udah gak pernah!" Sisil mengerucutkan bibirnya.
"Sabar aja! Setelah ujian pasti dia akan menemui mu!" Hibur Reva.
"Enak diri mu! Satu rumah dengan Rafi. Pasti enggak akan merasa bete seperti aku ini!" Dengan cepat Reva menggeleng.
"Kamu salah! Walaupun aku satu atap dengannya, dia juga enggak ada waktu untuk bicara dengan ku."
"Serius?" Sisil menatap tajam Reva. Reva mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau gitu kita jalan yuk! Selama mereka ujian kan kita libur, jadi kita manfaatkan saja untuk jalan-jalan!" Ajak sisil.
"Boleh! Coba kamu ajak Niar!" Reva pun beranjak dan bersiap-siap.
"Tujuan pertama kita ke mana?" Tanya Reva saat turun dari kamarnya.
"Kata Niar ke taman hiburan yang baru buka itu loh! Di sana ada banyak wahana dan juga ada rumah hantu!" Jawab sisil dengan antusias.
"Mau kemana kalian?" Tanya Rafi dari arah belakang.
Sontak Reva dan sisil berhenti dan menoleh ke belakang.
"Fi, kamu belum berangkat?"tanya Reva.
" Ada yang ketinggalan tadi! Kalian mau ke mana?" Rafi kembali bertanya.
"Aku jak Reva keluar ya! Biar enggak bete di rumah terus! Kita cuma jalan-jalan aja kok ke taman hiburan!" Jelas Sisil.
"Hemm... Kamu sudah ijin sama mama?" Tanya Rafi.
__ADS_1
"Aku baru mau menelponnya!" Jawab Reva dengan jujur. Karena semalam orang tua Rafi tak pulang ke rumah. Sehingga Reva harus meminta ijin lewat telfon.
"Jangan pulang terlalu malam!" Ucap Rafi sebelum berangkat ke sekolah. Tak lupa Rafi memberikan kecupan di kening Reva yang membuat iri Sisil.
Di sekolah. Karena hanya anak kelas dua belas saja yang masuk, sehingga sekolah terlihat sepi.
"Gimana? Lu udah siap dengan ujian hari ini?" Tanya Roky.
"Ya harus siap lah! Ujian sudah di depan mata!" Sahut Rafi.
Mata pelajaran yang akan di ujian hari ini adalah matematika. Sehingga mereka sangat was-was, takut jika gagal dalam satu mata pelajaran itu.
"Eh... Cewek lu ijin enggak kalau dia mau pergi?" Tanya Rafi ke pada Roky.
"Enggak! Emang mau ke mana?"
"Pagi-pagi sisil sudah menjemput Reva, katanya mau ke taman hiburan gitu!"
"Enggak! Dia enggak bilang apa-apa sama gue! Bahkan selma ujian ini aku jarang komunikasi sama sisil! Duh... Aku jadi merasa bersalah deh sama ayang beb!" Ucap Roky.
Dimas yang menyimak obrolan kedua temannya itu, Diam-diam mengirim pesan ke Niar. Menanyakan keberadaannya saat ini. Padahal Dimas tau jika Niar juga pasti ikut bersama Reva dan Sisil.
Dari berangkat hingga tiba di lokasi, sisil sangat antusias untuk menguji nyali ke rumah hantu. Beruntung antrian tidak terlalu banyak, sehingga mereka tak perlu lama-lama mengantri.
Baru pertama masuk ke rumah hantu, mereka sudah di sambut oleh patung kuntilanak yang bisa bergerak sendiri. Suara jeritan dari pengunjung yang lain begitu jelas di telinga mereka.
"Guis, kok gue jadi merinding gini ya!apa kita batalin aja?" Ucap sisil yang nyalinya langsung menciut.
"Payah lu! Baru juga patung udah takut aja!" Ledek Niar.
Karena kedua temannya tak mempunyai nyali yang besar, sehingga Niar lah yang memimpin jalan. Posisi niar yang paling depan dan diikuti oleh Reva dan sisil. Niar mencoba mencari jalan keluar dari rumah hantu itu. Jeritan histeris dari kedua temannya membuat telinga Niar menjadi pengang. Apa lagi sisil. Dia yang paling histeris, di tambah lagi saat ada petugas yang menyamar menjadi pocong, dan mencoba untuk mengerjai mereka. Rasanya saat itu juga sisil ingin pingsan di tempat. Untung Niar dan Reva segera menyeret sisil hingga ke pintu keluar.
"Sumpah! Ini yang pertama dan terakhir aku main ke rumah hantu!" Ucap sisil yang bersandar di dinding dekat pintu keluar.
"Itu tadi pocong beneran ya?" Tanya Reva yang susah payah mengatur nafasnya.
"Bisa jadi! Aku kira hantunya hanya patung!" Ucap Niar.
Setelah tenaganya terkumpul kembali, mereka berpindah tempat. Kali ini mereka tidak lagi menaiki wahana, melainkan singgah ke restoran.
__ADS_1
"Sumpah ya, masuk ke rumah hantu membaut ku langsung haus dan lapar!" Ucap Niar sambil menyantap nasi dengan bebek krispi.
"Gue udah kapok!" Sahut Sisil.
"Sama aku juga kapok! Jantung ku rasanya mau copot!" Timpal Reva.
Setelah puas bermain ke taman hiburan mereka langsung pulang, karena hari sudah semakin gelap.
Reva menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke rumah yang seperti istana itu.
"Sayang... Sudah pulang?" Reva di kejutan dengan pertanyaan dari mamanya Rafi.
"Tante!" Seperti biasa Reva salim dan mengecup punggung tangan Maya.
"Kebetulan kamu sudah pulang, kita makan malam bersama yuk! Tapi kamu bersih-bersih dulu ya!" Ucap Maya dengan lembut.
Reva mengangguk dan segera pergi ke kamarnya. Saat masuk ke kamarnya Reva di buat terkejut dengan adanya Rafi di sana.
"Fi!" Ucap Reva setelah pintu kamarnya tertutup rapat.
"Dari mana saja? Kenapa nomor mu enggak aktif?"
"Maaf fi! Hape ke kehabisan daya! Dan, aku hanya ke taman hiburan saja!" Jelas Reva.
Rafi bisa menerima penjelasan Reva.
Rafi menghampiri Reva yang masih diam mematung di dekat pintu.
"Kenapa masih berdiri di situ? Apa kamu tidak rindu dengan ku?" Tanya Rafi. Saat sudah di dekat Reva, ia langsung memeluk Reva dengan erat.
"Aku minta maaf karena selama hampir dua minggu ini aku telah mengabaikan mu, aku sibuk sendri dengan segala macam ujian!" Ucap Rafi.
"Iya... Aku tau! Aku juga enggak masalah! Tapi yang jadi masalah ... " Reva tak bisa meneruskan kata-katanya karena Rafi lebih dulu melahap bibir Reva dengan rakusnya. Tak hayal Reva pun membalas ciuman Rafi. Lidah yang saling membelit dan saling bertukar salvia. Reva mengalungkan tangannya ke leher Rafi dan sedikit berjinjit agar bisa menyeimbangi Rafi.
Rafi melepas tautan bibirnya. Kedua dahi mereka saling menempel dengan deru nafas yang memburu.
"Aku sangat merindukanmu va! I love you!" Ucap Rafi dengan nafas yang terengah-engah.
"I love you more! Aku juga merindukan mu!" Sahut Reva. Dan, keduanya kembali berciuman.
__ADS_1