2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps74


__ADS_3

Rafi menepati janji nya. Mengantarkan Reva ke makam. Tak lupa Rafi singgah ke toko bunga terlebih dulu.


Setelah memanjatkan doa untuk nenek serta kedua orang tuanya, Reva pun beranjak keluar dari pemakaman.


"Lain kali kalau mau ke rumah nenek dan orang tua kamu, bilang saja! Jangan sungkan-sungkan! Aku pasti akan mengantarkan mu!"


"Pasti ujung-ujungnya minta imbalan!" Reva melirik Rafi sekilas.


"Enggak lah!"


"Enggak salah! Buktinya tadi... "


"Iya, itu kan tadi! Tapi kalau kamu mau juga enggak maslah kok!"


"Tuh kan!"


"Bercanda sayang!" Rafi merangkul Reva dari samping.


Setelah dari pemakaman, Rafi dan Reva langsung menuju rumah sakit tempat dimana dimas di rawat.


"Siapa?" Tanya Rafi saat melihat Reva membalas chat.


"Sisil! Katanya dia sudah nungguin di depan rumah sakit!"


"Oh.. "


"Kita bawain dimas apa? Masak jenguk orang sakit enggak bawa apa-apa!"


"Iya nanti mampir ke restoran dekat rumah sakit saja!"


Setelah membeli kue dan juga makanan, Rafi dan Reva langsung menghampiri Sisil dan Roky yang sudah lama menunggu.


"Maaf ya lama!" Ucap Reva yang merasa tak enak hati.


"Kemana aja sih kalian? Lama banget!" Sahut sisil.


"Maaf, tadi mampir beli ini dulu!" Reva menunjukan kantung kresek yang ia bawa.


"Bagus deh! Tau aja kalau aku lagi lapar!" Ucap Sisil.


"Niar mana?" Tanya Reva yang merasa heran karena tidak melihat Niar.


"Katanya masih di jalan! Entah jalan mana! Yuk masuk! Gerah nih di luar!"


"Wah... Lu kenapa bro? Kenapa bisa bonyok kaya gini?" Tanya Roky setelah masuk ke ruang perawatan.


"Lagi apes gue!" Sahutnya degan wajah yang lesu jika mengingat kejadian malam itu.


"Lu cari siapa?" Kini giliran Rafi yang tanya.


"Enggak! Kalian cuma berempat saja?" Tanya Dimas.


"Kenapa? Nyariin teman kita ya?" Tanya Sisil yang sibuk membuka makanan yang di bawa Reva. "Dia enggak akan ke sini!" Lanjut Sisil. Sisil sengaja berbohong ingin melihat seperti apa reaksi Dimas.


"Kenapa? Tumben! Biasa nya kalian enggak bisa pisah!" Sahut Dimas yang penasaran.


"Dia lagi sibuk! Tau enggak? Tadi dia chet aku kalau lagi jalan sama gebetan nya!" Lagi-lagi sisil berdusta.

__ADS_1


Sedangkan Dimas, wajahnya langsung masam.


Masak sih dia udah gebetan?


"Makan dulu bro! Patah hati juga butuh tenaga!" Rafi menyombongkan satu kotak nasi ke Dimas.


"Siapa juga yang patah hati?" Sanggah Dimas dengan cepat.


"Mulut bisa berdusta! Tapi hati tidak bisa!" Sahut Roky yang ikut menggoda Dimas.


"Kalian makan saja sendri! Gue enggak lapar! Gue mau tidur! Ngantuk!" Dimas menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut rumah sakit , dari ujung kakai hingga kepala. Keempat temannya berusaha menahan tawa, karena sudah berhasil membuat Dimas cemburu.


Setelah menolong Dimas, Niar memeng belum pernah menjenguk Dimas. Itu di karenakan dirinya harus bolak balik ke kantor polisi untuk memberikan kesaksiannya atas kasus yang menimpa Dimas.


Sepulang sekolah Niar pergi ke kantor polisi, hari ini terakhir dia menjadi saksi.


"Akhirnya beres juga!" Gumam Niar yang turun dari mobil. Dengan langkah yang cepat, niar menuju kamar rawat Dimas.


Kreekk


Sura pintu terbuka. Semua yang ada di dalam menoleh ke arah pintu. Kecuali Dimas. Ia masih menyembunyikan diri di bawah selimut. Dimas pikir itu suster atau kakaknya yang datang.


Keempat orang itu serempak memberi isyarat ke pada Niar agar tidak bersuara. Dengan jari telunjuk mereka yang menempel ke bibir mereka masing-masing.


"Ada apa sih?" Tanya Niar setengah berbisik.


"Dia lagi merajuk!" Jawab Sisil.


"Lu diam! Jangan sekali pun bicara!" Perintah Roky kepada Niar.


"Udah nurut aja! Nanti juga tau sendri!" Jawab Reva.


Lagi-lagi Sisil menyalakan bara api di hati Dimas.


"Kira-kira nira Ngedate ke mana ya?"


"Coba telfon aja Sil! "Sahut Reva.


" Wah... Gila! Lihat Va! Niar mengirimkan foto-fotonya!"


"Wah... Iya! Romantis banget sih mereka!"


"Mereka memang pasangan yang serasi!" Imbuh Roky.


"Jadi kita bisa tripel date!" Tambah Rafi.


Tak tahan lagi dengan segala ocehan teman-temannya, Dimas membuka selimut dengan kasar, "kalian bisa diam enggak?" Ucap Dimas. Terdengar jelas jika dirinya sedang cemburu.


Dimas terdiam saat melihat Niar sudah berada di antara mereka.


Sial.. Gue di kerjain!


"Hemm... Enggak jadi marah nih!" Ledek Sisil.


Dimas melihat Niar dengan diam. Dimas memilih kembali berbaring. Seandainya hanya ada Niar mungkin ia sudah mengucapakan terimakasih. Suasana kamar menjadi hening. Niar yang masih bingung itu juga ikut terdiam.


"Fi, antar aku untuk menemui dokter Hasan yuk!" Reva sengaja mengajak Rafi pergi agar Niar dan Dimas bisa bicara berdua saja.

__ADS_1


"Aku ikut dong! Niar lu tunggu di sini! Jangan ke mana-mana! Ayo honey!"


"Tapi... "


"Kita cuma sebentar kok!" Sela Sisil.


Setibanya di luar ruangan, mereka tertawa cekikikan dan bertos ria.


"Reva, lu mau nemui dokter Hasan atau hanya alsan saja?" Tanya Sisil saat berjalan di lorong rumah sakit.


"Hanya alsan saja sih!" Jawab Reva sambil menutup mulutnya menahan tawa, "tapi kalau ketemu dokter Hasan! Enggak papa lah ya ngobrol sebentar. Beliau sudah begitu berjasa, selama nenek sakit dokter Hasan merawatnya dengan telaten dan sabar." Lanjut Reva.


"Sepertinya dokter Hasan lagi banyak pasien Va!" Ucap Sisil saat melewati depan tempat praktik dokter Hasan.


"Iya, memeng kalau jam segini tuh sering banyak pasien yang periksa ke dia!" Sahut Reva.


"Lalu kita kemana ini? Kita tunggu Niar di sini?" Tanya Sisil.


"Kamu aja yang nunggu! Aku mau langsung pulang!" Jawab Reva.


"Kalau lu pulang, gue juga pulang lah!"


"Kalau niar marah?"


"Biar gue yang urus!"


Akhirnya mereka pulang tanpa memberi kabar ke Niar.


"Yakin mau langsung pulang?" Tanya Rafi yang memasang sabuk pengaman.


"Mau kemana lagi? Sudah sore! Nanti mama kamu nungguin kita!" Jawab Reva.


"Mama lagi menghadiri pesta pernikahan di salah satu karyawan kantornya. Jadi... Mau kemana dulu?"


"Terserah kamu aja! Sebenarnya aku capek Fi! Pengan pulang dan langsung rebahan!"


Melihat wajah lelah Reva, Rafi merasa kasihan. Mengalah dan memilih untuk pulang. Toh pulang ke rumah Reva, mereka masih bisa berduaan pikir Rafi.


Benar saja saat tiba di rumah Reva, rumah itu sangat sepi. Dengan kunci cadangan yang Reva bawa, mereka bisa masuk rumah tanpa harus menunggu di teras sampai mama Rafi datang.


"Va!" Rafi menahan langkah Reva setelah pintu rumah kembali tertutup.


"Apa?" Tanya Reva dengan lembut.


"Setelah mandi, Keluar ya ! Akun tunggu di ruang tengah! Ada yang ingin aku bicarakan!" Ucap Rafi.


"Kenapa enggak bicara sekarang aja!"


"Nanti aja! Aku juga mau mandi gerah!"


"Ya udah! Aku ke kamar dulu!"


"Eits... Sebentar!"


"Ap... "


Reva tak bisa melanjutkan ucapannya. Karena Rafi terlebih dahulu membungkam mulut nya dengan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2