
Saat Reva melewati lorong sekolah yang sepi, Tiba-tiba ada seseorang yang menarinya. Sehingga dirinya menjerit karena kaget.
"Aammp" Suara Reva tercekat karena ada tangan yang membungkam mulutnya.
"Shuut, diam! " Ucapnya di dekat telinga Reva.
"Lepas! " Ucap Reva yang tak begitu jelas.
"Gue lepasin asal lu diam" Reva pun mengangguk.
Reva berbalik badan, "Apa sih mau ... " Ucapan Reva menggantung saat jari telunjuk Rafi menempel ke bibirnya.
"Diam dan ikut gue! " Rafi menarik tangan Reva.
"Kemana sih?aku di tunggu bu Mumun! "
Rafi menghentikan langkah nya secara tiba-tiba, sehingga Reva menabrak punggung Rafi.
"Ngomong dong kalau mau berhenti! " Reva mengusap jidat nya sendiri.
"Itu gue yang nyuruh, Bukan bu Mumun"
"Jadi lu ngerjain gue? Iihh... Lepas! " Pekik Reva saat tangannya kembali di tarik oleh Rafi.
"Berisik amat sih lu jadi cewek! " Umpat Rafi.
Rafi membawa Reva ke lapangan basket.
"Mau ngapain di lapangan basket? " Tanya Reva.
"Tunggu di sini! " Rafi meninggalkan Reva.
Reva menggeleng pelan sambil melihat kepergian Rafi.
Karena matahari sangat terik, Reva memilih untuk berteduh. Reva duduk di bangku yang ada di dekat lapangan basket, Reva menunggu Rafi sambil mengayun-ngayunkan kakinya .
Belum lama Reva duduk, ia pun sudah bangkit kembali. Reva berlari ke arah Rafi yang membawa sepeda nya.
"Ini kan sepeda gue? " Tanya Reva dengan girang.
"Iya, nih ambil! " Rafi menyerahkan sepeda Reva .
"Makasih ya!" Reva tersenyum manis ke arah Rafi.
"Heemm, anggap saja itu kado ulang tahun mu " Ucap Rafi.
"Oh iya, sesuai janji gue yang kemarin! Nanti pulang sekolah gue traktir lu, gue tunggu di ujung jalan sana!"
"Oke! " Sahut Rafi, "coba dong di naiki tuh sepeda nya! "
"Ini beneran bisa di naiki kan? Lu gak lagi ngerjain gue lagi kan? " Tanya Reva memastikan.
"Di jamin aman! " Jawab Rafi.
Reva menaiki sepeda nya, bibirnya terus melengkung ke atas menandakan bahwa dirinya senang sepeda miliknya kembali utuh lagi.
Tanpa aba-aba Rafi pun ikut naik di bagian belakang sepeda Reva. Reva sempat kaget dan hampir jatuh saat Rafi naik di boncengan belakang.
Dengan posisi Rafi yang duduk menghadap belang sehingga dirinya menyandarkan kepalanya ke punggung Reva.
"Jadi kalau lu pulang kerja malam tak repot lagi cari angkutan " Cicit Rafi.
"Iya, asal kamu gak membuatnya rusak lagi! Ini alat transportasi aku satu-satunya yang aku punya " Ucap Reva sambil mengayuh sepedanya mengelilingi lapangan basket.
"Iya aku janji" Sahut Rafi dengan tersenyum.
__ADS_1
Posisi mereka saat berboncengan. Cocuit gak? Cocuit lah, masak enggak 🤭😁
Rafi segera meloncat turun dari sepeda Reva saat melihat kedua temannya berjalan ke arahnya.
"Lu ngapain di sini Fi?" Tanya Roky.
"Sama si cupu lagi" Timpal Dimas.
"Oh.. Ini gue lagi nungguin lu buat main basket. Tau nih tiba-tiba dia ada di sini "Rafi menendang roda belakang, " Ke kantin yuk! Laper gue" Rafi mengajak teman-temannya untuk pergi dari sana.
Rafi mengedipkan sebelah matanya saat melewati Reva.
Reva menatap Rafi dengan perasan bingung.
Tatapan bingung Reva kepada Rafi 🤨
Jam pulang sekolah pun tiba, semua siswa berehambur keluar kelas.
"Va, lu langsung ke restoran kan? Gue antar ya? " Ucap Niar.
"Gak udah Nia, aku ada perlu sebentar sebelum ke restoran. Kamu pulang sama Sisil aja! " Sahut Reva.
"Sisil mau pergi kencan katanya! " Jawab Niar sambil menatap sinis Sisil.
"Benar begitu Sil? Kamu sudah punya pacar? Kok aku gak tau! " Ujar Reva.
"Hehe, masih pedekate sih" Sahut Sisil sambil menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Jadi kita pulang sendri-sendri nih? " Ucap Niar.
"Iya Niar sayang! Maaf ya gue udah di tunggu sama pangeran gue " Sisil merangkul ke dua sahabat nya itu sebelum keluar kelas.
"Pangeran-pangeran! Lebay lu! " Umpat Niar.
"Biarin! Weerkk " Sisil menjulurkan lidahnya dan kemudian keluar dari kelasnya.
"Hemm... Gue! Gue ada janji sama dokter yang menangani nenek waktu itu. Jadi gue mau ke rumah sakit " Jelas Reva yang berbohong.
"Kirain mau ke mana! Gue antar ya? Iya.. Iya " Niar berusaha membujuk Reva.
"Gak usah! Aku bawa sepeda kok"
"Bukannya sepeda mu masih rusak? "
"Udah di benerin kok! Jadi kamu gak perlu repot-repot ngantar aku, oke! " Reva merangkul bahu Niar.
"Kali ini oke deh! " Sahut Niar.
Mereka jalan beriringan menuju parkiran.
"Gue dulu ya! " Ucap Niar yang mendapat anggukan dari Reva.
"Bay! Hati-hati lu kalau naik sepeda! " Ucap Niar dari dalam mobil.
"Siap! " Reva tersenyum dan memberi hormat.
Mobilnya sudah gak ada! Reva mencari keberadaan mobil Rafi.
Setelah tidak menemukan mobil Rafi, Reva langsung keluar dari area sekolah menuju tempat yang ia janjikan dengan Rafi.
"Lama banget sih lu!" Ucap Rafi saat melihat Reva datang.
"Maaf! Udah dari tadi ya? "
"Buruan naik! "
__ADS_1
"Kemana? " Tanya Reva.
"Katanya lu mau traktir gue! Udah buruan naik! " Rafi membuka pintu sebelah mobilnya.
"Aku naik sepeda aja ya! "
"Aku bilang naik, Ya naik ! " Rafi menghampiri Reva. Lagi-lagi Rafi memaksa Reva, di tariklah tangan Reva oleh Rafi.
"Sepada ku gimana? " Tanya Reva.
"Tinggal aja di sini! Gak akan ada yang nyuri , sepeda jelek juga " Ucap Rafi.
"Biarin jelek " Sahut Reva dengan wajah cemberut.
"Kita ke warung bakso yang ada di jalan Mawar ya! " Ucap Reva saat mobil Rafi mulai berjalan.
"Warung bakso?" Tanya Rafi, "lu mau traktir gue bakso? " Tanya Rafi sambil menoleh sekilas ke Reva.
"Iya" Jawab singkat Reva, "kenapa memang? " Tanya Reva.
"Kenapa ? " Ulang Rafi, "ya ogah lah! Gue yang akan tentuin di mana lu akan traktir gue! "
"Jangan milih tempat yang mahal dong! Aku gak punya banyak duwit! " Ucap Reva.
"Gak punya duwit! Tapi gaya-gayaan sok mau neraktir! Gue gak mau tau pokonya lu harus traktir gue di tempat yang gue pilih! " Ujar Rafi .
Mampus gue! Kalau dia milih ke restoran yang mahal . Tabungan gue bisa ludes dalam sekejap. Batin Reva.
"Fi, gimana kalau kita ke rumah makan padang! " Reva mencoba bernegosiasi.
"NO! Tidak ada tawar menawar" Sahut Rafi.
Nyebelin banget sih ini orang! Nyesel gue . Tau gitu gue gak bernazar kemarin.
"Turun! " Ucap Rafi. Mobilnya sudah berhenti tepat di plataran sebuah restoran yang cukup besar .
Tuh kan benar! Mana cukup uang ku!
Reva terbengong melihat ke arah restoran.
"Buruan turun! Ngapain masih bengong aja?" Ucap Rafi yang sudah ada di luar mobil.
"Fi, kita pindah aja yuk! Jangan di sini "
"Gue maunya makan di sini! Udah ayok! " Kali ini Rafi tak menarik tangan Reva, melainkan merangkul pundak Reva.
"Mbak saya pesan... " Rafi terlihat memilih menu makan yang ada di restoran itu, "udang balado, cumi goreng mentega, sup iga sama rice bowl beef lada hitam, untuk minumnya orange juice "
"Ada tambahan lagi?" Tanya pelayan resto itu.
"Kamu gak pesan va? " Tanya Rafi, Reva menggelengkan kepalanya.
"Yakin lu gak mau pesan? " Tanya Rafi lagi.
"Heemmm...gue pesan air mineral aja fi" Ucap Reva lirih.
"Yakin ari putih doang? "
Lagi-lagi Reva mengangguk.
"Tambah air mineral satu mbak"
"Baik! Tunggu sebentar ya mas, mbak! " Ucap pelayan restoran itu.
"Lu pesen banyak banget Fi! " Ucap Reva.
"Kenapa? Gak sanggup bayar ya? "
__ADS_1
"Ckk, nyesel gue kemarin bilang mau traktir lu " Reva membuang mukanya ke samping dengan wajah yang cemberut.
Berikan dukungan kalian dengan cara, like👍, komen✍dan Vote. tekan tanya love 💙di kiri agar tidak terlewatkan bab selanjutnya. berikan hadiah🌹 juga agar author semangat nulisnya 😉🤭👌