
Dalam kondisi yang masih tak sadarkan diri, Rafi menggendong Reva dan membawanya masuk kedalam kamar Reva.
"Sudah sana kamu keluar!" Ucap Maya ke pada Rafi.
"Akun mau nunggu di sini sampai Reva sadar Ma!" Tolak Rafi.
"Kalau kamu tetap di sini mana bisa mama menganti baju Reva yang basah itu!" Ujar Maya sambil mencari baju ganti untuk Reva.
"Haa... Bilang dong dari tadi kalau mau gantiin baju Reva!" Rafi pun langsung beranjak pergi. Namun, ia berhenti saat di ambang pintu, "MA... Biar Rafi aja yang gantiin baju nya!" Rafi sengaja ingin menggoda mamanya.
"Kamu!" Ucap Maya dan menatap tajam sangat putra.
Mendapatkan tatapan yang tajam dari mamanya, membuat Rafi langsung pergi sambil cekikan.
"Fi.. Gimana Reva?" Tanya Niar.
"Masih di gantiin baju ma nyokop gue! Mending kalian pulang dulu aja!" Ucap Rafi.
"Gue mau nemanin reva!" Tolak Sisil.
"Enggak usah khawatir, ada gue dan keluarga gue yang akan ngejagain Reva! " Jelas Rafi.
"Benar apa yang Rafi katakan, mending kita pulang dulu. Baru nanti kita kesini lagi!" Ucap Roky.
"Janji ya nanti ke sini lagi?" Ucap Sisil.
"Iya..." Jawab Roky.
"Ayo Niar!" Sisil menggandeng tangan niar.
"Hemm.... Dim, kamu bisa kan antar Niar pulang? Entar lu jemput niar juga ya!" Pintar Sisil.
"Kalau buat jemput gue gak janji bisa! Kalau antar dia pulang oke aja" Sahut Dimas.
"Entar gue balik ke sini ma abang gue kok!" Ucap Niar.
Roky mengantarkan Sisil pulang. Sedangkan Dimas mengantarkan Niar. Sepanjang perjalanan pulang mereka tak banyak bicara, lebih tepatnya membisu.
"Makasih ya! " Ucap niar sambil membuka pintu mobil. Dimas hanya mengangguk pelan.
"Kamu udah pulang dek?" Tanya Nanta yang mengagetkan Niar."temanya enggak di suruh masuk dulu?" Nanta mengetuk kaca mobil Dimas.
__ADS_1
Dimas membuka sedikit kaca mobilnya.
"Kamu kan adiknya Hasan?" Ucap nanta saat tau siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Iya bang!" Sahut Dimas.
"Enggak mampir dulu?" Tawar Nanta. Niar yang mendengar itu pun hanya bisa memutar bola matanya.
"Lain kali aja bang! Masih ada urusan!" Tolak Dimas.
"Oke! Makasih ya udah antarin adek ku?" Dimas pun mengangguk.
"Kakak apaan sih sok akrab ma tu cowok!" Ucap Niar sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Dia kan adiknya Dokter Hasan! Dokter, menangani neneknya Reva!" Sahut Nanta yang mengekor adiknya.
"Setelah ini Nia mau balik lagi ke rumah Reva! Kakak jadi ikut enggak?"
"Jadi lah! Nanti kalau sudah siap, panggil kakak!" Nanta mengusap pucuk kepala sang adik.
Setelah membesarkan diri, Niar pun turun ke lantai bawah. Ternyata dirinya sudah ditunggu oleh kakaknya.
"Lama apanya? Cuma sebentar! Udah ayo berangkat!"
Karena jalanan tidak terlalu ramai, sehingga hanya butuh waktu lima belasan menit Nanta dan Niar sudah tiba di rumah Reva. Tak lama kemudian di susul oleh Sisil.
"Niar, tunggu!" Ucap Sisil.
Niar yang akan masuk ke dalam rumah Reva itu pun menoleh.
Sisil dan Roky menghampiri Niar dengan tangan yang saling bergandengan.
"Hemmm.... Pacaran mulu nih anak kecil!" Sindir Nanta.
"Sirik ya kak? Makanya dong cari pacar, jangan kerja mulu! Banyak duwit tapi jomblo!" Tak mau kalah Sisil juga menyindir Nanta.
"Gak mau pacaran! Maunya langsung nikah!" Ujar Nanta.
"Emang ada yang mau?" Tanya Sisil dengan nada yang mengejek.
"Jangan salah ya! Banyak yang antri di luar sana! Hanya saja kakak bingung mau milih yang mana!" Jelas Nanta yang di tanggapi Sisil dengan menyebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Masih kecil kalau pacaran jangan yang aneh-aneh." Setelah mengucapkan itu Nanta pun masuk ke dalam rumah Reva.
"Kamu sedekat itu sama kakaknya Niar?" Tanya Roky.
"Iya... Sudah seperti kakak sendri. Aku tuh iri sama Niar yang punya kakak!" Ucap Sisil.
"Kan kamu sekarang udah punya aku! Anggap saja aku kakak mu!" Roky mengedipkan matanya.
"Jadi pacar rasa kakak dong!"
"Bisa di bilang begitu!"
Roky dan Sisil pun ikut masuk ke dalam. Sedangkan Reva tetap berada di dalam kamarnya. Ia tak mau keluar untuk menemui siapa pun. Padahal banyak tamu yang hadir untuk acara tahlilan. Duduk di sudut tempat tidur dengan kedua yang di tekuk ke tas, tangannya memeluk lutut dan lututnya di jadikan tempat untuk menopang kepalanya. Pandangannya kosong , Memandang lurus kearah jendela. Tak jarang air matanya menetes membasahi pipinya.
Keluarga Guntur mengantikan Reva sebagai tuan rumah. Guntur dan Maya lah yang menyambut para tamu.
"Tante, Reva di mana?" Tanya Niar yang baru datang.
"Kalian sudah datang? Reva enggak mau keluar! Juga enggak mau makan! Coba kalian bujuk Reva ya! Bujuk supaya mau makan!" Ucap Maya.
"Siap tante!" Ucap Niar dan Sisil dengan kompak.
Disaat acara tahlilan berlangsung, niar dan Sisil sibuk membujuk Reva. Segala bujuk dan rayuan yang mereka lontarkan, tak membuat Reva terpengaruh. Diam seribu bahasa dan pandangannya yang masih kosong. Reva sama sekali tak terusik dengan kedua temannya itu. Hanya sesekali dirinya menggeleng untuk menolak.
"Va... Ayo makan sesuap saja!" Niar menyodorkan sendok yang berisikan nasi dan lauk. Dengan cepat Reva menggeleng.
"Kalau kamu enggak mau makan, kamu akan sakit Va!" Ucap Sisil yang mulai frustasi.
Reva hanya menoleh ke arah sahabat nya itu , sedetik kemudian Reva kembali menatap lurus ke arah jendela kamar.
Merasa gagal membujuk Reva. Akhirnya niar dan Sisil memilih untuk keluar dari kamar Reva.
"Gimana?" Tanya Rafi.
"Tetep enggak mau makan. Nih... Coba kamu yang membujuknya! Siapa tau dia mau dan menurut!" Niar menyerahkan piring itu ke tangan Rafi.
Perlahan Rafi masuk ke dalam kamar Reva. Hatinya terasa perih saat melihat Reva yang murung. Setelah meletakkan piring di atas nakas, Rafi duduk di samping Reva.
Seakan tau siapa yang duduk di sampingnya, tanpa menoleh dan tanpa permisi Reva menyandarkan kepadanya di pundak Rafi.
Rafi pun tersenyum samar. Ia bersyukur karena kehadirannya tidak di tolak oleh Reva. Perlahan Rafi mengelus dan merapikan rambut Reva, tak lupa Rafi juga menghapus jejak air mata Reva.
__ADS_1