
Formasi yang lengkap, ada mama dan papa Rafi serta Jimi yang ikut makan malam. Hening. Hanya ada suara dentuman sendok yang mengenai piring. Hingga akhirnya Maya membuka suara.
"Gimana dengan ujian mu fi?"
"Lancar Ma! Hari ini terakhir ujian!"
"Papa sudah menyiapkan semua dokumen kamu. Kamu tinggal berangkat setelah acara kelulusan!"
Mendengar ucapan papanya Rafi, Reva pun tersedak makanan.
"Sayang pelan-pelan makannya!" Maya menepuk pelan punggung Reva. Sedangkan Rafi dengan cepat memberikan Reva air minum.
Reva paham apa yang di ucapan oleh papanya Rafi. Reva langsung tak berselera untuk melanjutkan makan lagi. Reva memilih meninggalkan meja makan terlebih dulu.
"Om, tante! Reva sudah kenyang! Reva mau belajar!" Setelah mengucapkan itu Reva bergegas ke kamarnya.
Semua orang yang ada di meja makan itu hanya menatap kepergian Reva.
"Apa kamu belum bicarakan masalah ini dengan Reva?" Tanya guntur kepada Rafi. Rafi pun menggeleng.
"Pantas saja dia terlihat kecewa!" Guntur tau akan hubungan antara Rafi dan Reva. Sehingga ia tak kaget dengan perubahan sikap Reva.
"Sejauh apa hubungan mu dengan Reva?" Tanya Maya yang kurang tau tentang hubungan mereka. Dari awal memang Maya akan menjodohkan mereka, tapi dirinya belum ada waktu untuk membahas masalah itu dengan Reva.
Rafi hanya terdiam. Dengan diamnya Rafi, Maya jadi tau ada apa dengan mereka.
"Bujuk Reva supaya mau turun dan melanjutkan makannya! Dia baru makan beberapa suap saja!" Omel Maya.
Rafi pun menyusul Reva ke kamar nya.
"Papa tau kalau mereka pacaran?"tanya Maya.
" Mereka saling dekat jauh sebelum kita tau jika Reva itu anaknya Elis!"
"Kamu juga tau itu Jim?" Jimi mengangguk pelan.
"Kenapa kalian tidak sembunyikan ini dari saya?" Maya.
"Apa masalahnya sih Ma? Lagi pula kan mama akan menjodohkan mereka!"
__ADS_1
"Iya pa! Tapi kita sudah terlalu sering meninggalkan mereka berdua di rumah. Apa saja yang sudah Rafi lakukan ke anak gadis mama?" Maya memijat pelipisnya.
"Mama tenang saja! Rafi tidak akan melampaui batasnya kok! Papa bisa jamin itu!" Guntur meyakinkan istrinya karena Guntur telah mewanti-wanti orang rumah untuk selalu mengawasi mereka berdua.
Merasa kepadanya yang kurang mendukung, Jimi memilih pamit dengan alsan ada urusan dengan teman nya.
"Pak, buk... Saya ijin pergi untuk menemui teman saya!"
"Kemana Jim? Kan kamu harus mengurus berkas untuk acara besok! Kamu lupa?" Ucap Maya.
"Tidak bu! Emm... Saya cuma sebentar nanti kembali lagi ke sini!"
"Baik lah!" Jimi pun langsung pergi.
*
*
*
*
*
"Reva! Buka pintunya! Atau aku buka dengan paksa?" Ucap Rafi yang mulai frustrasi.
Tetap tak ada jawaban. Rafi kembali mengetuk hingga tangannya terasa panas.
"Baiklah! Kalau tetap tak mau buka pintunya! Akan aku buka dengan cara ku sendiri!" Rafi bersiap untuk mendoprak pintu kamar Reva.
Namun, tiba-tiba pintu nya terbuka. "Kenapa sih Fi berisik banget? Kalau mau pergi ya pergi aja sana! Jangan pedulikan aku lagi!" Ucap Reva dengan tegas.
Rafi terdiam. Mencerna apa yang di ucapkan Reva.
"Va! Aku minta maaf!" Rafi menyusup masuk ke kamar Reva saat Reva hendak menutup pintu.
"Kamu jahat fi!"
"Aku tak bermaksud menyembunyikan ini semua dari mu! Aku hanya menunggu waktu yang tepat!"
__ADS_1
"Kapan? Saat kamu akan berangkat nanti?"
"Va, jangan marah! Aku mohon! Kalau kamu mau aku akan menundanya. Aku akan menunda kuliah ku juga. Kita bisa berangkat dan kuliah bersama di sana!"
"Tak perlu Fi! Itu cita-cita mu dari dulu kan untuk kuliah ke prancis! Aku hanya kecewa karena kamu tak jujur dengan ku!" Tak terasa Reva menitihkan air mata. Dengan cepat Reva menghapusnya, berharap Rafi tak melihatnya.
"Va!" Rafi memegang kedua pundak Reva."lihat aku!" Reva menurut. Menatap maik mata Rafi dengan lekat. " Jika kamu tak ijinkan aku untuk pergi! Makan aku akan tetap stay di sini! Menunggu hingga kamu lulus dan kita akan sama-sama mengejar mimpi kita ke Jepang!" Ucap Rafi dengan lembut.
Reva merasa bersalah saat Rafi ingin menunda mimpinya demi dirinya. Dia tak sepatutnya marah kepada Rafi.
"Pergilah! Aku tak masalah! Aku hanya kecewa sama kamu! Aku dengar ini dari orang lain! Aku juga belum siap jika harus jauh dari mu!" Lagi-lagi Reva meneteskan air mata nya.
"Jangan menangis Va! Aku semakin yakin untuk menunda keberangkatan ku ke Jepang!" Ucap Rafi yang menghapus air mata Reva.
"Pergilah! Aku tak mau menghalangi mimpi mu! Tunggu aku di sana! Aku akan menyusul mu!" Reva tak kuasa menahan diri, ia langsung memeluk Rafi dengan erat.
"Aku mencintai mu Va! Sungguh!" Ucap Rafi seraya membalas pelukan Reva.
Reva mengurai pelukannya, menatap dalam mata Rafi, "kamu yakin akan kekuatan cinta?" Rafi mengangguk, "maka tunggu aku di sana! Aku akan menjemput separuh hati ku yang telah kau bawa! Aku mencintaimu! Sangat-sangat mencintai mu!" Setelah mengucapkan itu Reva mencium bibir Rafi, me lvmat dan meny esap bibir Rafi dengan sangat dalam. Reva juga mengeksplor rongga mulvt Rafi dengan lidah nya. Kali ini Reva lebih agresif. Dia juga tak memberi jeda untuk Rafi. Walaupun hanya meraup nafas.
Dengan mata terpejam , Mereka sama-sama menikmati sensasi ciuman itu. Tangan Rafi pun mulai nakal. Sebelah tangannya memeluk pinggang Reva dan yang sebelahnya lagi sudah menyusup masuk ke dalam kaos dan bermain-main di bukit kembar milik Reva.
"Uhh... Fi!" Lenguh Reva saat Rafi memainkan boba miliknya.
Ciuman Rafi beralih ke leher jenjang Reva, dengan tangan yang masih asik bermain di dalam kaos Reva.
"Fi... Uhhh" Lenguh Reva saat merasakan sesuatu yang tak biasa. Reva meremvat rambut Rafi. Menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara lenguhannya.
Perlahan Rafi menuntun Reva ke ranjang, dengan bibir yang masih bermain nakal di leher Reva. Perlahan Rafi mendorong tubuh Reva ke atas tempat tidur. Dengan posisinya di atas Reva, Rafi menyibak kos Reva ke atas. Dengan satu kali tarikan saja penutup bukit itu lepas dari sarangnya.
Tak perlu ijin dari pemiliknya, Rafi langsung melahap boba-boba imut itu secara bergantian. Reva menikmati semua sentuhan yang diberikan Rafi.
Lama kelamaan Rafi bermain di bukit kembar nya. Tubuh Reva seakan menggila, menginginkan yang lebih. Perlahan tangan Reva menyusup ke dalam celana jins Rafi.
Rafi menghentikan kegiatannya, ia mendongak melihat wajah Reva saat miliknya di genggam oleh tangan halus Reva.
Tatapan mata keduanya begitu sayu. Dalam hati Reva ingin mengatakan bahwa ia ingin yang lebih. Tapi bibirnya seolah kaku untuk bicara, ia memilih menyambar bibir Rafi dan menciumnya dengan rakus.
Rafi juga tak menolak sentuhan Reva di bawah sana. Dan itu membuat Reva semakin berani untuk membuka kancing celana Rafi. Saat keduanya sudah di penuhi oleh gairah yang membara. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Reva! Sayang... Buka pintunya!"