
Berkat laporan dari pembantunya jika Rafi dan Reva sedang bertengkar di dalam kamar. Dan setelah itu tak lagi mendengar apa pun. Takut terjadi sesuatu, pembantu itu melaporkan ke tuan nya.
"Reva! Sayang... Buka pintunya!" Maya terus menggedor pintu kamar Reva tanpa jeda. Takut jika anak laki-laki nya berbuat dosa.
Reva tersadar, ia mendorong pelan tubuh Rafi. "Tante!"
Dengan cepat Reva bangkit dari tempat tidur dan merapikan penampilannya yang sudah acak-acakan. Begitu juga dengan Rafi. Begitu paniknya mereka , bagaikan maling yang tertangkap basah .
"Reva! Buka pintunya!" Maya kembali berteriak.
"I-iya tante!" Sahut Reva dengan gugup.
"Gimana ini Fi?" Tanya Reva.
"Kamu tenang aja! Biar aku yang bicara sama mereka!" Rafi mengecup sekilas bibir Reva sebelum membuka pintu.
"Dasar anak nakal! Apa yang sudah kamu lakukan kepada anak gadis mama? Hemmm?" Maya menarik daun telinga Rafi.
"Auww... Ma! Sakit! Lepas dulu ini telinga Rafi!" Rafi meringis menahan sakit di telinga nya.
"Biar saja! Kalau perlu mama tarik kuping mu ini sampai putus!" Sengit Maya.
"Tante-tante, sudah tante! Kasihan! Nanti kupingnya bisa putus beneran!" Ucap Reva seraya menarik tangan Maya.
Maya menelisik penampilan Reva, "apa yang dia lakukan kepada mu?"
"Tidak ada kok tan! Kami hanya... "
"Jangan bohong!"
"Benar ma! Kami hanya bicara saja!" Ucap Rafi.
"Kenapa pake di kunci segala pintunya?"
__ADS_1
"Ya.... Karena kamu ingin bicara empat mata dan tentunya dari hati ke hati!" Dusta Rafi.
"Kalian berdua ikut mama turun!"
Rafi dan Reva mengikuti langkah Maya. Di ruang tengah sudah ada papa guntur yang menunggu nya.
"Duduk!" Perintah Maya.
Bak narapidana yang sedang menjalin persidangan, mereka menundukkan kepala.
"Ehemmm" Guntur berdehem sebelum membuka suara, "papa tau jika kalian sudah dewasa! Papa juga tau hubungan kalian berdua selama ini, tapi papa diam. Diam bukan berarti memberi kebebasan kepada kalian. Diam papa itu supa kalian bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk."
Degh
Rafi dan Reva saling tatap, dan sedetik kemudian pandangan mereka berpindah ke papa Guntur.
"Kenapa? Kaget? Kaget kalau papa tau semua nya?" Rafi dan Reva kembali tertunduk. "Kamu pikir papa tidak tau apa yang sudah kamu lakukan di dalam kamar Reva?" Lanjut Guntur.
Guntur terdiam, memberi waktu agar anak semata wayang nya itu memberi penjelasan.
"Panggilkan penghulu sekarang juga Ma!" Sura tegas Guntur membuat mereka mengangkat kepalanya.
"Benar apa yang papa kamu katakan! Sebaiknya kalian di nikahkan saja dari pada menambah dosa!" Ucap Maya.
"Ma!"
"Mau kasih alasan apa lagi kamu? Kamu bisa bohongi mama Fi! Tapi tidak dengan ini!" Maya menyibak rambut Reva dan terlihat jejak merah di leher Reva.
Reva langsung tertunduk, antara takut dan juga malu.
"Ma... Pa..., jangan hukum Reva! Ini salah Rafi. Rafi tak bisa mengontrol diri. Hukum saja Rafi, jangan Reva!" Rafi memohon dan memeluk kaki kedua orang tua nya.
"Hukum apa yang pantas untuk mu Fi? Katakan?" Ucap Guntur. Baru kali ini ia benar-benar marah kepada anaknya.
__ADS_1
"Apa saja pa! Rafi akan terima!"
"Termasuk mempercepat keberangkatan mu?" Rafi mendongak tak percaya.
Dalam posisi yang masih menunduk Reva menggelengkan kepalanya, tanda jika dirinya tak setuju dengan ucapan Guntur.
Maya menghampiri Reva dan memeluknya, "sayang, maafkan tante dan om yang terlalu keras! Ini semua demi kalian! Om dan tante memang berencana akan menjodohkan kalian! Tapi apa yang sudah kalian lakukan itu salah! Coba saja kalau tante tidak naik ke atas? Kalian pasti sudah berbuat dosa! Dan dosa yang kalian ciptakan itu akan menjadi beban buat om, tante, mama dan papa mu di akhirat nanti!"ucap maya yang panjang lebar.
Seketika Reva memeluk Maya dengan erat. Dengan bercucuran air mata Reva mengungkapkan maafnya.
"Reva minta maaf tan! Maafkan Reva!"
"Hanya ada dua pilihan. Menikah besok atau kalian kuliah secara terpisah nantinya? Karena papa yakin jika kalian terus bersama pasti kalian akan berbuat dosa lagi."
"Tante, mana mungkin aku sama Rafi menikah besok? Aku masih sekolah!" Rengek Reva.
"Pa! Apa enggak ada pilihan lain lagi?" Tanya Rafi.
"Reva akan tetap sekolah! Karena setelah acara ijab kobul Rafi harus berangkat ke Jepang hari itu juga!"
Jedar
"Pa! Apa enggak bisa menunggu hari kelulusan ku? Hanya kurang satu minggu pa!" Tawar Rafi yang seakan tak rela meninggalkan Reva secepat itu. Apa lagi setelah acara ijab kobul.
"Bisa! Kemasi semua barang-barang mu dan pergi ke apartemen kita! Dan selama kamu tinggal di sana, ada orang-orang papa yang akan selalu mengawasi mu!"
"Tunggu apa lagi? Cepat kemasi semua barang-barang mu dan pergi dari sini!"
Tangis Reva pecah saat Rafi naik ke atas dan tak lama kemudian Rafi sudah turun lagi dengan membawa tas ransel yang berisikan baju-bajunya.
"Ma... Pa, Rafi pergi!"
"Va, aku pergi!" Rafi mengusap pucuk kepala Reva yang masih berada dalam dekapan mamanya.
__ADS_1
Reva lari ke kamarnya saat mendengar suara mobil Rafi yang perlahan menghilang. Sesampainya di kamar, Reva mengintip dari jendela kamarnya. Sayang mobil Rafi sudah tak terlihat lagi.
Dengan posisi yang menelungkup di atas tempat tidur, Reva menangis sejadi-jadinya. Ini salah mereka berdua, tapi yang mendapatkan hukuman hanya Rafi saja. Bagi Reva ini tak adil. Mereka sama salah.