
Di tempat kerja Reva tak begitu fokus. Jiwanya ada bersamanya tapi pikirannya entah kemana.
"Va! Kalau kamu gak enak badan kamu bisa kok minta izin!" Ucap Nanta.
"Ah.. Enggak kak! Aku gak papa kok! " Sahut Reva.
"Kakak perhatiin dari tadi kamu banyak melamun Va ada apa? Cerita sama kakak siapa tau kakak bisa bantu kamu!" Kata Nanta.
"Enggak ada apa-apa kok kak, serius!" Sahut Reva.
"Ya udah kakak gak maksa kamu, Tapi ingat! Jika kamu butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk bilang sama kakak!" Ucap Nanta dan Reva pun mengangguk.
Reva menyelesaikan pekerjaan nya dengan setengah hati karena hari ini dia benar-benar tak bersemangat.
Seperti biasa Reva akan sampai di rumah saat jam sebelas malam. Setelah membersihkan diri Reva langsung menuju ke tempat pembaringan. Ia rebahkan tubuhnya yang terasa capek itu. Reva memejamkan matanya saat itu ia teringat akan kata-kata mamanya Rafi. Reva tak ambil pusing akan hal itu, ia mencoba memejamkan matanya lebih rapat lagi agar bisa tertidur. Namun bukanya tertidur Reva terbayang akan kejadian di hutan waktu itu. Kejadian dimana dirinya berciuman sangat lama dengan Rafi. Reva membuka mata nya dan mengubah posisi nya menjadi duduk.
"Ah.. Apa yang sudah aku lakukan waktu itu?" Gumam Reva sambil menyentuh bibirnya.
"Ya... Aku harus menjauh dari Rafi!" Lirih Reva. Setelah mengucapkan itu Reva merebahkan tubuhnya dengan kasar dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
♡´・ᴗ・`♡
Sedangkan Rafi ia sedang gegana (gelisah galau merana) . Pesan yang ia kirim ke nomor Reva tak ada satupun yang di balas. Boro-boro dibalas! Semua pesan yang Rafi kirim hanya centang satu.
Untuk mengalihkan ke galaunya Rafi melihat foto Reva di ponselnya, dan itu membuat Rafi membayangkan sesuatu. Rafi membesarkan foto Reva hingga terlihat hanya wajannya saja. Perlahan Rafi mengusap bibir Reva di foto itu.
"Manis" Ucapnya sambil tersenyum.
Lama memandangi foto Reva membuat Rafi semakin galau.
"Gue bisa gila kalau kaya gini!" Ucap Rafi sambil mengusap kasar wajahnya.
"Apa gue suruh Jimi aja ya buat nyulik Reva?" Gumam Rafi sambil melirik Jimi yang tertidur di sofa.
"Pasti dia gak akan mu juga! Hufft... Ya udah lah tunggu sampai gue masuk sekolah aja!" Ucap Rafi dengan lesu.
Tiga hari sudah Rafi mendapatkan perawatan dan kini ya sudah di perbolehkan pulang.
Rafi tak sabar ingin cepat masuk sekolah dan menemui Reva.
♡´・ᴗ・`♡
Tiba saatnya kini Rafi masuk sekolah. Pagi itu Rafi sempat melihat Reva di halaman sekolah. Namun saat Rafi keluar dari mobil ia sudah tak melihat Reva.
"Kemana perginya?" Gumam Rafi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.
__ADS_1
"Woy!" Ucap Roky yang mengagetkan Rafi.
"Bikin kaget aja lu!" Rafi menonyor Roky.
"Cari siapa sih? Cupu? " Tanya Roky.
"Kepo lu!" Rafi meninggalkan Roky.
"Masih banyak waktu buat ketemu sama dia! Tenang aja nanti biar di bantu ma ayang gue! " Ucap Roky sambil menaik turunkan alisnya. Rafi hanya menoleh sekilas ke Roky.
Semua murid berhamburan keluar kelas saat jam istirahat .
"Va, ke kantin yuk!" Ajak Sisil yang sebelumnya sudah membaca pesan dari Roky.
"Kamu gak sama Roky?" Tanya Reva yang masih duduk.
"Enggak!" Bohong Sisil, "dia lagi latihan basket katanya! "
"Heemm... Gitu ya? Aku di kelas aja ya! Lagi males keluar kelas aku! " Ucap Reva.
"Ah... Lu gak asik Va! Masak kita hanya berdua aja sih!" Kata Sisil.
"Kenapa? Lu takut ketemu sama Rafi? " Tanya Niar.
"Lu ikut ya! Gue jamin Rafi gak akan ganggu hidup lu lagi!" Ucap Niar.
Merasa tidak enak menolak ajakan sahabatnya, Reva akhirnya ikut ke kantin.
Perjalanan dari kelas ke kantin Reva selalu was-was, ia tak ingin bertemu dengan Rafi.
Reva bernafas lega saat tiba di kantin dan ternyata tidak ada Rafi end the geng di sana.
Reva bercanda gurau dengan sahabatnya itu sambil menikmati semangkuk bakmi lengkap dengan bakso.
Saat Reva melihat ke samping kanan ia melihat Rafi dan gengnya berjalan menuju kantin.
"Aduh... Perut ku!" Reva memegangi perutnya sambil meringis.
"Lu kenapa?" Tanya kedua temannya.
"Tiba-tiba perut gue sakit! Gue ke toilet bentar ya!" Ucap Reva sambil menoleh sekilas ke arah Rafi yang semakin dekat.
Reva langsung beranjak pergi dari kantin.
Rafi yang melihat Reva pergi itu pun langsung mengejarnya.
__ADS_1
"Va, tunggu!" Ucap Rafi.
Reva tak menghiraukannya ia mengambil langkah seribu agar bisa terhindar dari Rafi. Dengan cepat Reva masuk ke dalam toilet, secara otomatis Rafi tak bisa mengikutinya.
"Huufft" Reva menghembuskan nafas kasar .
Rafi mengumpat kesal saat Reva berhasil masuk ke dalam toilet wanita.
"Ck... Sial! Kenapa harus ke toilet sih!" Gumam Rafi.
Rafi berinisiatif menunggu sampai Reva keluar. Lama menunggu hingga jam istirahat habis Reva tak kunjung keluar dari toilet dan itu membuat Rafi semakin kesal.
Rafi meninggalkan tempat itu, ia berpikir akan menemui Reva saat pulang sekolah nanti.
Reva baru keluar dari toilet setelah melihat Rafi pergi. Reva berlari agar cepat sampai di kelas.
Reva masuk kelas dengan nafas yang engos-engosan. Tak lama kemudian pak Agung masuk ke kelas, padahal ini bukan jadwalnya pak Agung.
"Selamat siang anak-anak! Bapak di sini menggantikan bu Mumun yang berhalangan hadir. Bu Mumun menitipkan lembar soal untuk kalian!" Pak Agung membuka tasnya dan mencari lembar soal yang ia maksud.
"Heemm... Reva bisa tolong bapak! Sepertinya lembar soalnya masih tertinggal di meja bu Mumun. Kamu bisa kan bantu bapak untuk mengambilkan nya?"
"Bisa pak!" Reva langsung berdiri dan keluar kelas menuju ruangan bu Mumun.
Karena ruangan bu Mumun itu melewati kelas Rafi, mau tak mau Reva harus lewat sana. Ia sempat menoleh sekilas ke kelas Rafi saat itu juga Rafi menoleh ke arah jendela dan itu membuat Reva mempercepat langkahnya.
Mau ke mana dia? Batin Rafi.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Rafi pun minta izin untuk keluar kelas dengan alasan ke toilet.
Rafi mengikuti langkah Reva dengan mengendap-endap , ia tak mau di pergoki Reva .
Reva masuk ke rungan bu Mumun tanpa curiga sedikit pun.
Sedangkan Rafi mengintai dari jarak yang aman . Kali ini ia tak mau gagal untuk bertemu dan bicara empat mata dengan Reva.
Reva keluar dari ruangan bu Mumun dengan membawa setumpuk lembar soal. Reva memilih jalan lain, ia tak ingin lewat depan kelas Rafi lagi. Reva berjalan sedikit lebih cepat supaya cepat sampai ke kelasnya.
Saat Reva melewati lorong sekolah yang sepi tiba-tiba mulutnya di bekap dari arah belakang .
bersambung.....
yuk.. yuk... jangan lupa like dan komen ya! 😉
... vote juga karya ini dan beri hadiah jika kalian suka dengan cerita Rafi&Reva 🤗😉terimakasih 🙏
__ADS_1