2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps.54


__ADS_3

Kenapa? Menghindar dari kamu atau tidak itu hak ku! Dan kamu gak ada hak melarang ku. Karena kamu bukan siapa-siapa ku!" Ketus Reva.


"Va! Please! " Mohon Rafi.


Reva tak menggubris omongan Rafi. Ia menghentikan taksi yang kebetulan sedang lewat, Reva segera masuk ke dalam taksi. Walaupun di cegah oleh Rafi, namun pada akhirnya Reva berhasil masuk kedalam taksi.


"Va.. Va please Va!" Rafi mengetok kaca jendela mobil taksi itu , "Revaaa!" Teriak Rafi saat taksi itu melesat jauh.


"Aaggrhh!" Rafi menjambak rambutnya, "kenapa sih lu gak mau dengerin gue!" Gumam Rafi yang frustasi.


"Bray! Lu tenang aja kita pasti akan bantuin lu kok! " Ucap Roky sambil menepuk bahu Rafi.


"Thank's" Sahut Rafi.


Sedangkan Reva terlihat menyeka sudut matanya yang basah.


'Aku gak akan pernah bisa lupa dengan ciuman pertama ku sama kamu Fi! Karena kamu orang pertama yang berhasil mencuri bibir ku waktu itu, dan ciuman itu dan hari ini akan selalu aku kenang. Biarkan aku menjauh dari mu sebelum rasa ini benar-benar menguasai isi hati ku' Reva mengungkapkan isi hatinya lewat batinnya.


Reva benar-benar menepati janjinya kepada ibunya Rafi. Bukanya Reva takut, tapi ia tak ingin menambah beban hidup. Apa lagi harus berurusan dengan orang kaya.


Reva tiba resto kak Nanta. Seperti biasa ia langsung berganti seragam kerja, setelah itu baru ia melakukan tugasnya sebagian kurir makanan.


Hari ini tidak terlalu banyak pesanan yang harus ia antar 'kan. Sehingga dirinya bisa menggunakan kesempatan itu untuk belajar, mengingat dirinya akan mewakili sekolah untuk ikut lomba.


Tak terasa waktu sudah begitu larut, dan resto pun bersiap untuk tutup.


"Va!" Ucap Nanta.


"Iya kak!" Sahut Reva.


"Kamu bisa pinjam motor itu untuk kamu bawa pulang" Ucap kak Nanta.


"Serius kak!?" Ucap Reva.


"Iya! Pasti kamu akan menolak jika aku antar pulang, jadi kamu bawa aja motor itu! " Jelas Nanta.


"Makasih ya kak! " Ucap Reva dengan girang.


Mengunakan motor metik yang di pinjamkan oleh Nanta, Reva menyusuri jalanan di malam hari .


Reva mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Ia ingin menikmati semilirnya angin malam.


Di tengah perjalanan Reva menyadari jika dirinya telah di ikuti oleh seorang yang juga menggunakan sepeda motor. Bedanya orang itu mengunakan motor sport warna hitam, lengkap dengan helem dan jaket kulit.


Sedikit worry, Reva mempercepat laju motor nya. Namun orang itu juga mempercepat motornya.


Reva menambah kecepatan motornya dan sesekali ia melihat orang itu lewat spion .


Reva bisa bernafas lega saat ia memasuki halangan rumahnya.


Orang yang tadi mengikuti Reva mengurangi kecepatan motornya . Orang itu tampak menoleh ke rumah Reva, kemudian orang itu berlalu pergi .

__ADS_1


"Siapa sih orang itu tadi? Bikin jantungan saja! " Gumam Reva .


"Sayang sudah pulang!?" Ucap Nek Lastri.


"Nenek! " Reva pun menghampiri nenek nya.


"Motor siap Va?"


"Motor restoran Nek! Tadi suruh makai gitu sama kak Nanta! " Jelas Reva.


"Nenek gak lupa minum obatnya kan? " Tanya Reva.


"Tidak!" Jawab Lastri.


"Nek, aku langsung istirahat aja ya! Soalnya aku capek banget! " Ucap Reva.


"Enggak makan dulu?" Tanya Lastri.


"Masih kenyang nek!" Jawab Reva yang sudah berada di depan pintu kamar tidur nya.


Reva menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk itu.


"Huufts, penat banget hari ini!" Gumam Reva sambil memejamkan mata.


Saat Reva memejamkan mata, saat itu juga potongan demi potongan kejadian di hutan dan di sekolahan tadi menghampiri Reva.


"Mampukah aku menjauh dari mu?" Gumam Reva dengan mata yang masih terpejam.


"Tumben bawa bekal Va?" Ucap nek Lastri.


"Iya Nek! Lagi pingin aja!" Sahut Reva.


Setelah membereskan meja makan Reva pun berpamitan. Hari ini Reva ke sekolah menggunakan motor yang ia pinjam dari tempat kerjanya.


"Lumayan juga ya dapat pinjaman motor" Gumam Reva sambil memakai helem.


Reva tiba di sekolahan lebih awal daripada biasanya. Setelah memarkirkan motornya Reva menuju ruang perpustakaan. Di tunjuk untuk mewakili sekolahnya membuat Reva harus benar-benar belajar dengan giat agar tidak mengecewakan nama baik sekolahnya.


Memiliki otak yang cerdas sehingga Reva mampu memahami semua pelajaran yang belum ia sentuh sama sekali. Disaat Reva mengalami kesulitan ia kan mencatat dan menanyakan ke guru pembimbingnya.


Reva masuk ke kelasnya saat bel masuk berbunyi.


Disaat jam istirahat Reva kembali ke perpustakaan.


"Va, lu gak ikut kita ke kantin?" Tanya Sisil.


"Maaf ya Sil, aku gak bisa ikut!"jawab Reva.


" Belajar juga butuh tenaga kali Va! Makan dulu napa?"sambung Niar.


"Aku bawa bekal kok!" Sahut Reva, "aku duluan ya!" Reva meninggalkan kedua temannya itu.

__ADS_1


"Sayang sini duduk sini!" Ucap Roky yang melihat Sisil datang ke kantin.


"Kalian berdua aja?" Tanya Rafi.


"Iya, Reva lagi ke perpustakaan! Dia lagi mempersiapkan diri untuk ikut lomba!" Jelas Sisil.


"Bukannya lu juga ikut lomba itu?" Tanya Niar, dan Rafi pun mengangguk.


"Lalu kenapa lu gak gunakan kesempatan ini dengan baik? Lu bisa ajak dia belajar bersama, diskusi bersama. Agar lu biar bisa dekat terus sama Reva!" Ucap Niar.


"Tumben otak lu encer!" Ucap Dimas.


"Gue udah pintar dari kecil ya!" Sahut Niar.


"Betul itu apa yang dikatakan Niar! Mending lu susulin dia ke perpustakaan sono!" Ucap Roky.


"Kalau gitu gue cabut dulu!" Ucap Rafi yang beranjak dari duduknya.


"Ehh... Tunggu dulu!" Sisil menahan Rafi.


"Apa lagi?" Tanya Rafi.


"Nih lu kasih ke reva!" Sisil memberikan dua botol minuman dingin dan dua bungkus roti.


"Thanks" Ucap Rafi dan berlalu pergi.


Setibanya di perpustakaan, Rafi langsung mencari Reva .


Rafi menyunggingkan senyum saat melihat Reva yang fokus dengan buku-bukunya.


"Ehemm" Rafi berdehem, "belajar juga butuh tenaga lo!" Ucap Rafi sambil menaruh roti dan minuman di meja Reva.


Reva mendongak, "ngapain ke sini?"tanyanya yang kembali fokus ke buku.


" Ini fasilitas sekolahan! Jadi siapa saja boleh datang ke sini!" Ucap Rafi sambil duduk di depan Reva.


"Kalau mau belajar jangan disini! Cari tempat duduk yang lain sana!" Ucap Reva.


"Gue di usir?" Tanya Rafi, tapi Reva tak menjawab nya.


Karena Rafi tak beranjak dari duduknya, Reva memilih untuk pergi.


"Mau ke mana?" Tanya Rafi yang ikut berdiri.


"Bukan urusan mu!" Ketua Reva.


"Va, kita bisa belajar bareng! Kenapa lu harus pergi sih?" Ucap Rafi.


"Kalian di sini rupanya?"


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2