
Reva menggeleng lalu tertunduk, air matanya tak lagi bisa di bendung.
Dokter Hasan menepuk bahu Reva sehingga Reva mendongak.
"Jangan bersedih! " Ucap dokter Hasan.
"Dok... Tolong lakukan apa pun untuk kesembuhan nenek saya! " Mohon Reva .
Dokter Hasan mengangguk, "itu sudah pasti!"
"Mbak Reva ini biaya administrasi nya! Agar nenek mbak bisa segera di operasi!" Ucap suster yang baru masuk ke dalam ruangan dokter Hasan.
"Iya Sus! Dok saya permisi dulu!" Setelah pamit Reva langsung keluar dari rungan dokter Hasan.
"Nenek harus bertahan! Reva akan berusaha bagaimana pun caranya supaya nenek kembali sehat!" Gumam Reva.
"Bu... Reva bisa minta tolong?" Tanya Reva ke pada bu Bambang.
"Katakan!" Ucap bu Bambang.
"Tolong jaga nenek saya sebentar ya bu! Saya akan pulang sebentar!" Ucap Reva dengan tak enak hati.
"Oh.. Kirain minta tolong apa! Iya, ibu akan jaga nenek kamu!" Ucap bu Bambang.
"Terimakasih bu! Saya akan segera kembali!" Ucap Reva.
Secepat mungkin Reva menuju parkiran rumah sakit. Tujuan Reva pulang ke rumah untuk mengambil uang tabungannya. Setibanya di rumah Reva langsung menuju kamar nya. Reva mengambil celengan berbentuk ayam itu dari dalam lemari. Tak menunggu waktu lama Reva langsung memecahkan celengan itu. Ia mulai menghitung uang yang berserakan di lantai.
"Ini masih kurang banyak!" Gumam Reva.
__ADS_1
Reva kembali membuka lemari dan mengambil kalung liontin pemberian dari almarhum ibunya.
Reva segera kembali ke rumah sakit, di tengah perjalanan Reva berpikir akan kasbon ke tempat kerja nya, dengan begitu uang nya akan cukup.
♡´・ᴗ・`♡
"Halo! Gimana sudah ketemu?" Tanya Rafi dari telfon.
"Sudah tuan! Ada di rumah sakit aminah!" Jawabannya.
"Oke!" Rafi mematikan telfonnya dan langsung tancap gas menuju rumah sakit tersebut.
Setibanya di rumah sakit Rafi bertanya ke resepsionis, sialnya Rafi tak tau siapa nama nenek Reva.
"Permisi Sus! Saya mau cari pasien yang baru masuk! Eemm... " Rafi menggaruk keningnya, "perempuan tua, beliau di tunggu oleh cucunya!" Ucap Rafi.
Kedua suster yang berjaga itu pun saling pandang, "maaf mas, bisa sebutkan namanya!"
"Maaf mas, kalau berdasarkan ciri-ciri kami tidak tau! Karena banyak pasien yang baru masuk hari ini!" Jelasnya.
"Gitu ya Sus!" Ucap Rafi sambil mencoba menelfon Reva.
"Angkat dong Va! Lu kemana sih!" Gumam Rafi.
"Rafi!"
Merasa namanya di panggil Rafi pun menoleh, "bang Hasan!"
"Ngapain di disini? Nganterin tante Maya?" Tanya dokter Hasan.
__ADS_1
"Enggak bang! Lagi nyariin teman! Katanya neneknya di rawat di sini!" Ucap Rafi.
"Yang kamu maksud Reva?" Tanya dokter Hasan.
"Benar bang! Neneknya di rawat di mana?" Tanya Rafi.
"Beliau ada di ruang ICU. Tapi, Reva tidak ada di sini!" Jelas dokter Hasan.
"Maksudnya?" Rafi.
"Katanya pulang sebentar untuk ambil sesuatu! Abang tinggal ya! Abang harus periksa pasien! " Pamit Hasan.
Rafi pun keluar dari rumah sakit, dirinya akan menyusul Reva ke rumah.
"angkat dong Va!" Gumam Rafi sambil mengemudi.
Rumah Reva terlihat sepi tak berpenghuni.
"Va... Reva!" Rafi mengetuk pintu rumah Reva berulang kali, namun tak ada jawaban.
"Kamu ke mana Va?" Gumam Rafi yang kembali ke mobilnya.
Rafi ingin kembali ke rumah sakit. ia kan menunggu Reva di sana. saat di tengah perjalanan Rafi tak sengaja melihat Reva yang memacu motornya dengan cepat.
"itu kan Reva!" Gumam Rafi.
bersambung......
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN
__ADS_1
TERIMAKASIH 🙏