
Reva sesekali berhenti sejenak , badan yang terasa lelah sehingga langkahnya menjadi berat.
"Oh ya Tuhan aku benar-benar mendapat karma " Rengek Reva sambil mengelap dahinya yang berkeringat.
Karena merasa haus Reva membuka tas nya untuk mengambil air minum. ia terbiasa membawa air mineral.
"Hah... Habis! " Cicit Reva saat melihat botol air nya sudah kosong.
"Pegel banget kiki ku" Reva duduk di pinggir jalan. Reva memijat kakinya yang terasa ngilu .
"Kalau ada yang menolong ku saat ini juga, aku akan berterimakasih dan mentraktir nya makan. Huhh, tapi siapa yang akan menolong ku? Telfon Niar atau Sisil juga gak mungkin! Mana HP ku mati lagi! " Gunam Reva.
Tiinnnn
Suara klakson mobil itu mampu mengejutkan Reva yang sedang tertunduk dengan kaki yang di tekuk ke atas dan tangannya memeluk kaki nya.
Reva mengangkat kepala nya melihat siapa yang sudah mengagetkan nya.
Astaga.. Naga! Kenapa harus dia lagi sih? Apa di kota ini tidak ada orang lain selain dia! Bikin mood ku tambah ancur saja . Reva memutar bola matanya malas saat melihat Rafi turun dari mobil.
"Ngapain di sini? " Rafi berdiri di depan Reva dengan kedua tangan yang di lipat ke depan dada.
"Motor gue rusak! " Ucap Reva lirih, " Semua ini gara-gara lu" Maki Reva.
"Lhoh, kenapa jadi gue yang salah? Kan ini motor lu " Sahut Rafi tak terima.
"Iya kalau lu gak ngerjain gue tadi, gue gak akan telat dan bohong sama bos gue! sekarang lu harus bantuin gue dorong motor ini sampai ke bengkel! "
"Ogah banget! sini biar gue benerin motornya! tak perlu ke bengkel, bengkel masih jauh dari sini" ucap Rafi.
"Emang bisa? "
"Cihh, kau merehkan ku! " Rafi mulai mengotak - atik motor Reva.
"Jangan nanti motornya tambah rusak! Itu punya restoran bukan punya sendri " Ocehan Reva yang mendekati Rafi.
"Aku sudah tau jika ini bukan punya lu! Lu kan hanya punya sepeda butut itu kan? " Sahut Rafi yang fokus dengan motor Reva.
"Kau ya! " Reva mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin menonjok orang yang bernama Rafi itu.
"Awas ya kalau motornya tambah rusak! Lu yang harus tanggung jawab! " Cicit Reva.
"Berisik amat sih! Bisa diam gak? " Rafi menoleh Reva.
__ADS_1
Reva membuang muka ke samping, dengan tangan bersidekap dan bibir yang mengerucut , bahkan bibirnya bisa di kuncir dengan karet.
"Gue gak yakin orang seperti mu bisa benerin motor yang ada semakin parah " Ketua Reva.
Rafi tak menanggapi ocehan Reva, ia memfokuskan diri ke motor matic itu.
Setelah meneliti semua, akhirnya Rafi menemukan sumber masalahnya.
"Nih! busi nya yang rusak, ini kalau gak di ganti sampai lebaran monyetnya pun motor lu gak akan bisa hidup" Rafi menyodorkan busi ke itu Reva sebagai bukti.
"Terus belinya di mana dong? " Reva memberi pertanyaan yang konyol bagi Rafi.
"Di toko bangunan! " Sewot Rafi, "iya di toko seperpat motor lah "
"Iya mana gue tau " Ucap Reva lirih.
"Katanya murid berprestasi! Dapat beasiswa pula! Masak gitu aja gak tau! " Sahut Rafi sambil memainkan ponselnya.
"Toko seperpat dari sini jauh kan? " Tanya Reva, yang mendapat anggukan kepala dari Rafi.
"Kalau gitu biar gue dorong aja ini motor" Gunam Reva.
"Eh.. Lu mau kemana? " Rafi menahan motor Reva .
"Btw, makasih ya! " Ucap Reva.
"Lu mau dorong ini motor? Masih jauh lo restoran dari sini! "
"Terus mau nunggu di sini? "
"Lu tenang aja! Gue udah pesan itu busi, bentar lagi juga nyampek "
"Serius lu? Awas kalau bohong! " Reva kembali memarkir motornya.
Reva kembali duduk di pinggir jalan. Reva menunduk sambil memainkan ranting pohon untuk mengobati rasa jenuhnya.
Sedangkan Rafi kembali ke mobilnya.
"Nih, minum! " Rafi menyodorkan botol minuman .
Reva mendongak, dan menerima minuman itu. Karena haus Reva menenggak nya hingga hampir tandas.
"Haus ya? " Rafi ikut duduk di sebelah Reva.
__ADS_1
"Maaf! Gue habisin! Lu jadi gak ke bagian! " Ucap Reva.
"Gak papa! Gue udah ada kok " Rafi menunjukkan botol minuman nya yang masih terisi setengahnya.
Sebelum Rafi mendatang Reva tadi, ia sempatkan untuk membeli minuman terlebih dulu.
"Lu gak capek, pulang sekolah langsung kerja kaya gini? " Tanya Rafi.
"Kalau di bilang capek , pasti capek lah! " Jawab Reva.
"Lu kan pintar! Kenapa lu gak buka bimbel aja gitu di rumah. Jadi lu gak capek, udah capek kena omel dari pelanggan pula "
"Itu sudah resiko! Eh.. Kok lu tau sih kalau gue kena omel dari pelanggan? "
"Iya tadi gak sengaja lihat kamu di omeli sama ibu-ibu " Bohong Rafi. Sebenarnya Rafi memang sengaja mengikuti Reva sejak tadi.
"Oh.. Gitu ya? "
"Sekali lagi makasih ya " Reva menoleh ke Rafi.
"Makasih doang? " Rafi mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Terus lu mau apa? Lu kan udah punya segalanya"
"Lu pasti tau kan kalau hari gini gak ada yang gratis! "
"Iya gue tau! Tenang aja besok pulang sekolah gue traktir "
"Traktir doang? "
"Mau gak? Kalau enggak ya udah! "
"Heemm... Oke, tapi tempatnya aku yang pilih sendri "
"Hello! Di mana-mana itu yang nraktir yang milih tempat! " Protes Reva.
"Kita lihat saja besok! " Ucap Rafi.
Bisa tekor gue kalau tempatnya dia yang milih. Udah pasti milihnya di restoran atau enggak di cafe yang mahal. Batin Reva.
Jangan lupa like, komen, karya ini!
Favorit kan juga agar tidak ketinggalan jika author up date bab baru 😉
__ADS_1