2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps72


__ADS_3

"Aku kasihan lihat Reva kaya tadi, pasti dia hancur banget!" Ucap sisil.


"Pastilah! Namanya juga kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya. Apa lagi keluarga satu satunya yang Reva punya." Sahut Roky yang fokus menyetir mobil.


"Aku enggak tau rasanya ditinggal pergi oleh orang yang berati untuk hidup ku. Tapi aku bisa merasakan kesedihan itu. Mama pergi saat aku masih umur enam bulan. Sedih rasanya kalau lihat teman-teman di anatar mamanya ke sekolah, bisa jalan bareng sama Mama." Ucap Sisil dengan pandangan lurus ke depan, seolah membayangkan jika diri nya tumbuh besar dengan mamanya.


"Jangan sedih gitu dong!" Roky mengusap pucuk kepala Sisil, "kan ada bunda ku! Bunda ku juga mama mu sayang! Jadi jangan sedih lagi ya?!" Lanjut Roky.


"Tapi kan bunda enggak dua puluh empat ada dengan ku! Hanya hari-hari tertentu saja aku bisa menghabiskan waktu sama bunda!" Sahut Sisil.


"Kamu mau sama bunda dua puluh empat jam?" Tanya roky. Sisil pun mengangguk.


"Kita menikah dan otomatis kamu bisa dua puluh empat jam sama bunda. Gimana?" Roky menaik turunkan alisnya.


"Iihh.. Ngomong apa sih kamu?!" Sisil memberi hadiah cubitan di pinggang Roky, Sehingga mengaduh kesakitan.


"Jadi enggak mau nih nikah sama aku?" Goda Roky.


"Iya mau, tapi... Enggak harus nikah muda juga kan! Kita aja masih belum lulus SMA!" Sahut Sisil.


"Apa masalahnya kalau belum lulus SMA? Banyak lo di luaran sana yang menikah di saat masih sersetatus... "


"Iya karena mereka tekdung duluan!" Potong sisil.


"Apa kamu aku bikin tekdung aja ya? Biar bisa cepat nikah sama kamu!"


"Iihh.... Ngomong apaan sih? Kok makin ngelantur enggak jelas gitu?!" Sengut Sisil.


"Enggak jelas gimana sih ayang...? Kan kalau kamu aku buat tekdung duluan, otomatis papa kamu sama orang tua aku akan segera menikahkan kita! Kita tinggal satu atap, kamu bisa bareng terus sama bunda, dan yang paling penting kita bisa.... Ehem-ehem gitu yang!"

__ADS_1


"Dasar omes!" Sisil kembali memberi cubitan ke pinggang Roky. Hingga sang empunya memohon ampun karena sara sakit.


"Ampun sayang... Ampun!aku bercanda!" Mohon Roky. Sisil pun melepaskan cubitannya.


*****


"Woi... Berhenti!" Teriak Niar.


"Wah... Ada yang mau jadi pahlawan nih!" Ucap salah satu orang yang melakukan aksi kekerasan itu.


"Cantik juga! Sayangnya galak!"


"Kalian beraninya main keroyokan ya? Sini lawan gue!" Tantang Niar.


"Hey... Nona! Jangan ikut campur! Mendingan ikut kita senang-senang, iya enggak?" Laki-laki itu menoel dagu Niar. Dengan gerakan cepat Niar menepis tangan itu dan menghadiahi bogem mentah ke wajah preman itu.


"Wah... Berani lu ya!"


"Harga diri ini bos!" Ketiga preman itu berjalan maju menerima tantangan Niar dan mengabaikan orang yang telah mereka hajar.


Karena Niar suka olahraga bela diri, tepatnya karate. Sehingga tidak sulit untuk melawan preman-preman itu.


Dimas jatuh tersungkur dengan wajah yang sudah babak belur. Melihat Niar melawan tiga preman itu jiwanya ingin membantu, namun raganya tak mampu. Berulang kali Dimas berusaha untuk bangun namun usahanya selalu gagal.


Sedangkan Nanta, yang melihat adiknya berkelahi , membunyikan sirine dari ponsel nya. Dan itu sukses membuat ketiga preman itu lari terbirit-birit.


"Dek, kamu enggak papa kan?" Nanta menghampiri adiknya dengan wajah yang khawatir.


"Enggak kok kak!" Sahut Niar dengan santainya.

__ADS_1


"Kamu bikin kakak khawatir aja! Lain kali jangan suka ikut campur maslah orang lain!" Omel Nanta.


"Astaga Dimas!" Niar langsung menghampiri Dimas yang sudah tergeletak lemas di aspal.


"Dim... Bangun Dim!" Niar menepuk pelan pipi Dimas.


"Kamu kenal dek?" Tanya Nanta yang berdiri di belakang niar. Karena posisi yang seperti itu, sehingga tidak tau Dimas siapa yang niar maksud.


"Kak, tolong bawa dia ke rumah sakit! Dia teman Nia!"


Nanta berjongkok, hendak mengangkat tubuh Dimas yang sudah tak berdaya itu, "dia kan adiknya Hasan!" Ucap Nanta.


"Udah kak ayo bawa ke rumah sakit!"


"Kamu buka pintu mobil kakak! Biar kakak yang angkat ini anak!"


Niar langsung menuju mobil yang di maksud. Namun, saat melewati mobil Dimas ia berhenti, "kak, masukin ke mobil dia aja! Biar Nia yang nyetir! Kita enggak mungkin telfon mobil derek kan? Ini sudah larut malam!"


"Iya terserah kamu deh! Cepat buka pintunya! Berat ini! "


"Dudukin di depan aja kak!" Nanta pun menuruti apa yang adiknya mau.


"Kakak ikut ke rumah sakit kan?"


"Iya, kamu hati-hati bawa mobilnya!"


"Iya kak!" Sahut Niar sambil memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Dimas dengan posisi tubunya yang sedikit mencondong ke depan, sehingga tak ada jarak di antara mereka. Setelah beres memasang sabuk pengaman, Niar ingin kembali ke posisi duduk nya benar. Namun, saat dirinya mengangkat kepalanya, tiba-tiba kepala Dimas terhantuk ke dengan bibirnya yang pas mendarat ke bibir Niar. Reflek Niar langsung mendorong mundur Dimas dan membenarkan posisi kepalanya agar nyaman.


"Untung dia enggak sadar! Kalau dia sadar mau di taruh ke mana muka gue?!" Gumam Niar sambil mengemudikan mobil. Tanpa ia sadari Niar meraba bibirnya sendiri. "Darah?" Ucap Niar saat melihat jarinya ada bekas darah. Niar menoleh ke samping kiri, dia mengamati wajah Dimas, dan terlihat jika bibir Dimas memang berdarah.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sama diri lu? Kenpa bisa seperti ini?" Dengan tangan sebelah kiri nya Niar menghapus jejak darah yang ada di bibir Dimas.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA! DETIK-DETIK MENUJU TAMAT NIH BESTIE 🤭


__ADS_2