
Dengan sepeda bututnya, Revana mencari alamat sesuai dengan yang tertulis di kertas kecil. Revana baru pertama kali ini tinggal di kota A, sebab itu dia bertanya ke sana , ke mari kepada semua orang yang ia temui.
Reva mengikuti petunjuk arah yang di jelaskan oleh seorang wanita paruh baya.
Reva menghentikan sepedanya di depan depan rumah mewah. Reva melihat bangunan itu dengan kagum, itu baru melihat luarnya saja. Reva mencocokan alamat yang ada di kertas dengan alamat rumah mewah itu.
"Sama kok! ", ucap Reva yang kemudian menekan tombol bel.
Tak lama seorang satpam membuka pintu gerbang yang tinggi menjulang itu.
" Ada yang bisa saya bantu non? ", tanya satpam.
" Benar dengan rumah ibu Maya? ", Jawab Reva.
" Iya benar! Ada keperluan apa nona mencari beliau? ", tanya satpam lagi.
" Maaf Pak ini! ", Reva membuka tas dan mengambil amplop surat.
" Maaf non! Bu Maya tidak ada di rumah! Jadi kalau mau minta sumbangan lain kali saja ya! ", ucap satpam yang melihat Reva mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.
Reva terbengong sesaat mendengan ucapan dari satpam itu.
" Emmm... Maaf Pak! Saya tidak minta sumbangan. "
"Saya hanya mengantar surat ini untuk ibu Maya. ", Reva menyodorkan surat itu ke satpam.
" Tolong sampaikan ke ibu Maya ya pak! Tolong bilang juga jika itu dari sahabatnya. ", Reva menunjuk surat yang sudah berpindah tangan ke tangan satpam.
" Saya permisi dulu pak! ", pamit Reva.
Secepat mungkin Reva mengayuh sepedanya, ia tak ingin membuat khawatir nenek nya. Reva tiba di rumah saat hari sudah petang. Reva melihat rumah yang masih gelap itu langsung turun dari sepeda.
" Nek..nenek! ", Reva mengetuk pintu rumahnya.
Tumben udah malam nenek belum menyalakan lampu rumah!, batin Reva.
" Nek... Nenek! ", panggil Reva berulang kali, sehingga tetangga yang mendengar pun keluar.
" Nenek mbak Reva tadi di bawa ke rumah sakit! ", ucap tetangga Reva .
" Nenek saya kenapa bu? ", tanya Reva dan langsung mendekati tetangganya.
" Tadi nek Lastri pingsan mbak! Terus sama warga di bawa ke rumah sakit. ", jelasnya.
" Rumah sakit mana bu? ", tanya Reva dengan mata berkaca-kaca.
" Di rumah sakit Aminah! ", jawab tetangganya.
" Terimakasih bu! ", tanpa mengganti baju seragam nya, Reva langsung mengayuh sepedanya menuju rumah sakit.
Reva yang menghawatirkan kondisi neneknya itu mengayuh sepedanya dengan cepat. Sehingga hampir saja Reva tertabrak pengendara motor atau pun mobil. Bahkan suara lakson dari kendaran lain pun terdengar begitu nyaring, saat Reva menyebrang begitu saja. Mendengar kabar jika neneknya di bawa ke rumah sakit, membuat Reva tidak bisa berpikir jernih.
"Nenek! ", Reva memeluk neneknya yang berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.
" Reva! Kamu sudah pulang? ", tanya Lastri dengan suara lemahnya.
__ADS_1
" Nenek kenapa? ", tanya Reva sambil membelai wajah keriput Lastri.
" Nenek cuma ke capekan, kamu jangan khawatirkan nenek! "
"Nenek pasti cepat sembuh kok! ", sahut Lastri yang memaksa untuk tersenyum.
" Nenek jangan bohong! "
"Ini nenek sampai masuk rumah sakit lo! "
"Mulai besok dan seterusnya nenek gak boleh kerja! "
"Biar Reva yang gantikan nenek kerja. "
"Tapi Va?"
"Gak ada tapi - tapian nek! "
"Aku gak mau nenek sakit lagi. "
"Hanya nenek yang aku punya di dunia ini! "
"Aku gak mau kehilangan nenek, Reva sudah kehilangan ayah dan ibu. ", Reva meneteskan air matanya , rasa takut akan kehilangan orang yang ia cintai muncul di pikirannya.
" Nenek gak akan ke mana-mana sayang! "
"Nenek akan selalu ada bersama mu. ", Lastri pun ikut berurai air mata.
" Janji nenek harus sembuh! ", Reva menyeka air mata Lastri. Lastri pun mengangguk dengan lemah.
" Kamu tau dari mana jika nenek di bawa ke sini? "
"Maafin Reva ya nek? "
"Tadi Reva mencari rumah tante Maya dulu, jadi pulangnya kemalaman. "
"Iya, gak papa sayang! "
"Apa kamu sudah bertemu dengan orang nya langsung? ", tanya Lastri.
" Belum nek, beliau sedang tidak ada di rumah. Jadi Reva titipkan ke satpam yang berjaga. ", jelas Reva.
" Nenek tau gak? Rumah tante Maya itu seperti istana lo nek. "
"Halamannya juga luas nek, mungkin luasnya setar dengan dua atau tiga RT . ", Reva bercerita akan kekaguman rumah Maya.
" Kok bisa ya nek, ibu punya sahabat yang kaya raya? "
"Ibu gak salah orang kan nek? ", tanya Reva yang penasaran. Karena tidak mungkin jika orang seperti keluarganya mempunyai kerabat sekaya itu.
" Mana mungkin , ibu mu pasti tidak salah! ", Jawab Lastri dengan tersenyum.
" Permisi! "
"Apa anda keluarga pasien? ", tanya suster yang masuk ke ruang rawat Lastri.
__ADS_1
" Iya Sus, saya cucunya ! ", jawab Reva yang langsung bangkit dari duduknya.
" Silahkan anda menemui dokter! Beliau ingin berbicara dengan anda! ", jelas nya.
" Baik Sus! "
"Nek, Reva tinggal dulu ya? ", Lastri menganggukkan kepala nya.
Dengan menggunakan seragam sekolah, Reva berjalan menuju ruangan dokter yang menangani nenek Lastri. Reva mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan dokter.
Tok.. Tok... Tok
" Permisi dok! ", ucap Reva dengan sopan.
" Iya, silahkan duduk! ", ucap dokter yang masih fokus ke layar laptop.
" Saya keluarga dari pasien atas nama Lastri dok! "
"Kalau boleh tau nenek saya sakit apa ya? ", karena rasa penasaran sudah di ubun-ubun. Tanpa menunggu lama Reva langsung bertanya kepada dokter.
" Ohh... Kamu cucunya nenek itu? "
"Jadi begini dek, nenek Lastri harus segera di operasi. "
"Jika tidak akan membahayakan kesehatan nya. ", jelasnya.
" Operasi dok? "
"Memangnya nenek saya sakit apa?", tanya Reva .
" Nenek adik sedang sakit jantung. ", jelas dokter .
" Jantung? "
"Gak mungkin dok! Setau saya nenek selalu baik-baik saja. ", ucap Reva .
" Mungkin nenek adik menyembunyikan sakitnya. Sehingga adik tidak tau yang sebenarnya. "
"Jadi saran saya, nenek adik harus segera mendapat tindakan . ", jelas dokter lagi.
" Kira-kira berapa dok biaya operasinya? ", tanya Reva dengan sura lesunya.
" Ini, disini sudah ada semua perincian nya! ", dokter itu memberi Reva sebuah kertas yang berisi tentang rincian biaya operasi . Mata Reva membulat sempurna saat melihat jumlah yang harus di bayarkan.
" Dok, apa gak ada cara lain ? "Tanya Reva.
" Tidak ada dek! ", jawab dokter.
" Baik lah dok, saya akan siapkan dananya dulu."
"Kalau begitu saya permisi dok! ", ucap Reva .
Reva memilih duduk di bangku taman setelah keluar dari ruangan dokter. Reva menitihkan air matanya, ia tak menyangka jika neneknya merahasiakan penyakit nya. Bayangan ditinggal kedua orang tuanya kiri menari-nari di otaknya lagi.
" Tuhan, tolong berikan umur yang panjang untuk nenek! "
__ADS_1
"Cukup engkau ambil ibu dan ayah ku saja Tuhan, jangan kau ambil nenek dari ku! "
"Tuhan, aku mohon beri kesembuhan untuk nenek! ", Reva menatap gelapnya langit malam yang berhiaskan ribuan bintang.