
Maya membuka galeri foto di ponselnya dan menunjukan foto Elis.
"Seperti pernah lihat tapi di mana ya? " Ucap Rafi lirih saat melihat foto Elis .
"Kamu bilang apa Fi? " Tanya Maya.
"Aku seperti pernah melihat nya ma, tapi di mana ya? " Rafi mengingat-ingat betul wajah dari sahabat mamanya itu.
"Kamu pernah lihat di mana?" Maya sangat antusias, berharap ada titik temu dari pencariannya selama ini.
"Di kota ini juga ma! Tapi aku lupa di mana ya? "Rafi masih mencoba mengingat nya.
" Ya udah kamu mandi dulu sana! Kalau kamu sudah ingat kasih atau mama ya! Mama keluar dulu, tuh papa mu sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya " Kekeh Maya.
"Papa ngapain sih teriak-teriak, berisik tau pa! " Ucap Rafi saat melihat papanya masuk ke kamar.
"Kembalikan istri ku! " Seru Guntur.
"Ckk, ngalah dong sama anak! Aku juga ingin bersama mama"
.
"Oo... Tidak bisa! " Guntur menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Sudah-sudah! Mama ini milik kalian berdua" Maya mencium pipi ke dua laki-laki yang selalu merebutkan dirinya.
^\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=^
Sedangkan Reva tak bisa memejamkan matanya. Reva menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"Ayo dong tidur! Tidur... Tidur... Tidur! " Reva bergunam sambil menutupi matanya dengan bantal.
"Aaaa" Reva bangun dari tidurnya dan mengacak rambutnya sendri.
"Kenapa gue harus kepikiran dia sih! Gue jadi gak bisa tidur kan! Tapi memang aneh sih, tadi siang di sekolah dia dengan mudah merusak sepatu ku. Kalau dia juga ganti sepatu ku. Terus tadi dia juga rela nolongin aku. Apa dia sudah sadar ya! jika yang dia lakukan itu salah! " Reva bergunam sendiri.
"Ahh... Bodoh lah! Kalau dia benar-benar berubah ya syukur " Lelah mencari jawaban tentang perubahan sifat Rafi, lantas Reva merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Karena semalam susah tidur, sehingga nenek Lastri terpaksa membangunkannya.
"Reva bangun! " Seru Lastri.
__ADS_1
"Nek! Lima menit lagi " Sahut Reva dengan mata yang masih terpejam.
"Sudah siang Va! Apa kamu gak sekolah? "
"Jam berapa sih nek? " Tanya Reva dengan suara malasnya.
"Hampir setengah tujuh Va"
"Haa! " Reva langsung terbangun dan meraih jam weker miliknya, "aduh bisa terlambat aku nek" Reva segera turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
Reva keluar kamar sudah rapi dengan setelan baju sekolahnya.
"Nek, Reva berangkat dulu ya! Nenek jangan lupa minum obatnya"
"Sarapan dukut Va! "
"Gak sempat nek, keburu siang! Oh.. Iya aku lupa" Reva mengambil kue tar dari neneknya semalam, "Reva makan ini aja nek " Reva menyantap kue itu dengan terburu-buru.
"Pelan-pelan Va " Nenek Lastri menyodorkan segelas air putih. Reva meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas.
"Reva berangkat dulu nek! " Reva mencium pipi keriput sang Nenek.
"Kalian! Bikin kaget saja" Ucap Reva saat membuka pintu dan ternyata kedua temanya sudah ada di sana.
"Udah ayok berangkat! " Sahut Niar.
"Aku tutup pintu dulu" Reva menutup pintu sebelum berangkat.
"Seharusnya kalian gak perlu jemput aku segala" Ucap Reva saat berada di dalam mobil Niar.
"Kita gak masalah kok jika harus jemput lu setiap hari " Sahut Sisil.
"Gak perlu! Besok-besok kalian jangan jemput aku lagi ya!"
"Kenapa sih lu selalu nolak bantuan dari kita? Kita ikhlas lo Va " Ucap Niar yang fokus pada jalan.
"Aku tau jika kalian ikhlas! Tapi aku gak mau buat kalian repot "
"Terserah lu dah " Ucap Niar.
"Jangan marah gitu dong! Aku bisa kenal dan berteman dengan kalian sudah seneng banget. Kalian gak malu berteman dengan orang miskin seperti ku" Reva mencondongkan badannya ke depan dan kedua tangannya merangkul Niar dan Sisil yang duduk di bangku depan.
__ADS_1
Mobil Niar memasuki halaman sekolah, setelah mobil itu terparkir mereka keluar secara bersamaan.
"Widihh... Ada yang sudah naik pangkat nih! " Sindir Dimas saat melihat Reva keluar dari mobil.
"Gue heran deh sama mulut lu! Tadi lu sarapan apa sih? Pagi-pagi udah bacot aja! " Ucap Niar yang gak ada takutnya.
"Udah, jangan di ladeni! Kita masuk kelas aja" Ucap Reva.
Rafi yang berdiri di samping Dimas itu hanya diam saja sambil memperhatikan Reva.
Bukan Rafi kalau tak jahil. Saat Reva lewat di depannya, Rafi dengan sengaja menjegal kaki Reva . Sehingga Reva jatuh tersungkur.
"Auw... " Pekik Reva. Reva mendongak melihat Rafi yang tersenyum licik.
"Va lu gak papa? " Niar dan Sisil membantu Reva berdiri.
"Gak papa kok" Sahut Reva.
Maunya apa sih ini orang? Reva melirik kan matanya ke arah Rafi.
Jam istirahat pun tiba, Reva dan kedua temannya itu menuju kantin. Namun saat di tengah jalan Reva di panggil oleh salah satu siswa.
"Reva! " Seru nya.
"Ada apa? " Reva pun menoleh ke sumber suara.
"Lu di cari bu Mumun tuh! "Ucapnya .
" Di mana bu Mumun? " Tanya Reva.
"Ada noh di ruang guru, buruan sono!" Ucapnya.
"Hemm... Nanti aku nyusul aja nanti! " Ucap Reva kepada Niar dan Sisil.
"Oke, jangan lama-lama! " Sahut Sisil.
Reva berjalan melewati lorong sekolah untuk ke ruang guru. Namun belum sampai ruang guru tiba-tiba Reva di tarik seseorang dari samping.
"Aaaa" Pekek Reva yang terkejut.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya!
__ADS_1
Like, komen & favorit kan juga ya 😉