
Satu bulan sudah Reva bekerja sebagai kurir di restoran Nanta. Tak jarang Reva mendapatkan uang tips dari costumer. Seperti saat ini Reva tersenyum gembira, karena hari ini dia mendapatkan banyak uang tips.
"Allhamdulillah, jika terus begini Nenek pasti bisa segera di operasi ". Gunam Reva sambil menghitung uang tips yang ia dapatkan.
" Reva, kamu di cari pak bos! " Ucap salah satu temannya.
"Oh... Iya" Reva menyimpan uangnya dan segera pergi ke ruangan bosnya.
"Permisi Kak! " Ucap Reva di balik pintu.
"Masuk! Silahkan duduk! " Nanta menutup dan mengambil amplop dari laci. "Ini gaji kamu selama satu bulan! " Ucap Nanta sambil menyerahkan amplop itu ke Reva.
"Terimakasih kak! " Reva menerima amplop itu dan mengintipnya, "Kak ini lebih dari yang Kak Nanta katakan waktu itu! " Reva menatap Nanta dengan bingung.
"Anggap saja itu bonus buat kamu! Saya suka dengan kinerja mu, semua pelanggan di sini banyak yang memuji mu! Jadi gak ada salahnya kan jika saya memberi kamu bonus? " Jelas Nanta.
Reva mengangguk , "sekali lagi terimakasih Kak! " Ucap Reva tulus.
"Hemm, kamu boleh kembali ! " Ucap Nanta.
"Baik Kak, saya permisi dulu! " Reva bangkit dari duduknya.
"Simpan uangnya dengan baik! Jangan terlalu boros! " Ucap Nanta.
"Siap Kak! " Reva memberi hormat dan tersenyum manis.
Sementara itu Nenek Reva diam-diam tetap bekerja. Ia tak mau membebani cucunya, bagaimana pun juga Reva masih menjadi tanggung jawabnya. Nek Lastri akan pergi kerja setelah Reva berangkat sekolah dan akan pulang sebelum Reva datang. Tentunya Reva juga tidak tau tentang itu.
"Assalamu'alaikum" Ucap Reva yang baru datang.
"Wa'alaikumsalam" Sahut Nek Lastri sambil membukakan pintu untuk cucunya.
"Ini obat nenek" Reva menyerahkan kantung kresek kecil ke neneknya.
"Seharusnya kamu tak perlu beli obat untuk nenek! Nenek sudah sembuh! Besok-besok kamu simpan saja uangmu itu , untuk keperluan mu sendri ! " Ucap Nek Lastri.
"Nenek gak perlu khawatir, Reva sudah punya simpanan sendri kok!" Sahut Reva.
Nenek Lastri menatap Reva dengan sendu.
"Nek, Reva ke kamar dulu ya? Mau bikin PR! " Pamitnya Reva yang mendapat anggukan dari sang nenek.
Elis, maafkan ibu mu ini! Ibu mu telah membebani putri mu. Batin Lastri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=∆∆∆∆∆∆∆\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya di sekolah.
Niar dan Sisil sengaja menunggu Reva di parkiran. Niar sibuk dengan ponselnya, sedangkan Sisil mencuri pandang ke Roky yang bersandar di mobilnya.
"Lu senyum-senyum sama siap sih? " Niar menyiku lengan Sisil.
"HA... E-enggak! " Sahut Sisil gugup karena ulahnya telah di ketahui Niar.
"Jangan bilang kalau lu senyum-senyum sama komplotannya trio bemo itu! " Niar menunjuk Roky dengan dagunya.
"Ah.. Enggak! Mana berani gue ! " Bohong Sisil.
"Reva lama banget sih! " Cicit Niar.
"Nah itu dia anaknya datang! " Sisil menunjuk Reva sedang berjalan ke arah mereka.
"Lama banget Va? " Protes Niar.
__ADS_1
"Maaf ya! Angkot yang aku naiki tadi mogok di tengah jalan, jadi lama deh! " Jelas Reva.
"Ayok ke kelas! " Ajak Sisil, "bentar lagi juga udah bel masuk".
" Ada pengumuman apa sih kok rame!" Sisil mempercepat langkahnya menuju mading.
"Permisi-permisi, ada air panas! " Ucap Sisil yang berhasil membuka jalan untuknya.
"Huuu.... " Suara surakan dari murid-murid yang berkerumun di depan mading.
"Pengumuman apa Sil? " Tanya Niar yang ikut menyusul.
"Sekolahan kita sedang mengadakan persami besok lusa" Jawab Sisil.
"Oh... Persami! " Sahut Niar dan Reva kompak.
"Gimana kalian ikut gak? " Tanya Sisil.
"Gak tau gue! " Jawab Niar.
"Kalau aku sih, jelas gak ikut ya ! " Jawab Reva.
"Lu sendri gimana? " Niar balik tanya.
"Gue tergantung sih! " Jawab Sisil sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kok tergantung? " Tanya Niar.
"Iya lah, tergantung itu persami wajib atau enggak? Kalau wajib gue ikut, kalau enggak ya gak ikut. Males gue ikut acara gitu-gituan, mending gue shoping " Ujar Sisil sambil mengibas-ngibaskan buku tulis sebagai kipas.
"Kalau itu sih emang hobi lu! Lu kan ratu shoping dari sejak kecil " Sahut Niar.
"Yah maklum lah " Ucap Sisil sombong.
"Pagi Bu! " Sahut seluruh siswa.
"Hiisst, rajin banget sih Mumun pocong! " Umpat Niar.
"Shust! " Reva menyiku lengan Niar.
Jam istirahat
"Gue ke toilet dulu ya! Kalian tunggu aja di kantin! " Setelah itu Sisil langsung keluar kelas. Sisil mempercepat langkahnya, menuju taman belakang sekolah. Tempat dimana Roky sudah menunggunya.
"Kak, maaf lama ya? " Ucap Sisil.
"Enggak, aku juga baru sampek" Sahut Roky.
"Tadi aku harus cari alasan dulu sama temen-temen ku " Jelas Sisil.
"Kamu gak jujur sama mereka, kalau kita sedang dekat? " Tanya Roky.
Sisil menggeleng, "kalau aku jujur, pasti mereka akan menentang ku. Lebih baik begini saja! " Ujar Sisil.
"Gitu ya! "
"Oh iya, kamu ikut persami gak? " Tanya Roky.
"Males aku Kak! Memeng kamu ikut? "
"Ikut lah! Setiap ada persami aku selalu ikut " Ucapnya dengan bangga.
"Oh.. Iya! " Sahut Sisil.
__ADS_1
Roky mengangguk, "ikutlah! Pasti kamu akan senang, kamu belum pernah ikut kan? " Roky mencoba membujuk Sisil agar mau ikut persami .
"Aku pikir-pikir dulu ya! " Ucap Sisil.
"Ada aku! Aku akan menjaga mu, percaya deh ! " Roky masih berusaha meyakinkan Sisil.
"Kamu mencoba untuk merayu ku? " Cicit Sisil.
"Aku tak bermaksud merayu mu, ayo lah ikut persami! " Roky memohon kepada Sisil.
"Entahlah! " Sisil mengangkat kedua bahunya.
"Kau ya! " Ucap Roky sambil melirik Sisil.
"Kenapa? " Sisil melihat Roky sambil tersenyum.
Lantas keduanya saling beradu senyum.
Nah seperti itulah kira-kira gaya Sisil dan Roky.
Sementara itu Niar dan Reva menunggu Sisil yang tak kunjung datang.
"kemana sih tuh anak? ke toilet aja lama amat! " keluh Niar.
"sakit perut mungkin " sahut Reva.
"pasti gak beres ini " ucap Niar.
"sudah jangan berprasangka buruk gitu! "
"Reva lu di cari bu Mumun tuh , di tunggu di perpustakaan " ucap teman sekelasnya.
Reva mengangguk dan segera berdiri dari duduknya, "aku tinggal sebentar ya Nia? "
"Oke! " Niar mengangguk.
"sorry gue lama " ucap Sisil yang baru sampai kantin.
"pake banget lamanya " sahut Niar dengan kesal.
"Reva mana? kok gak ada? "
"lagi di panggil tuh sama si Mumun pocong " sahut Niar sambil menyupakn mi ayam ke mulutnya.
"eh.. Nia, kita ikut persami yuk! " ajak Sisil di sela-sela makannya.
"Gue gak salah dengar? "
"Gue serius Nia! kata dia asik lo ikut persami, ikut yuk! kita ajak juga si Reva , gimana? "
"Gue sih mau-mau aja! tapi gue gak yakin Reva mau ikut. Pasti dia akan milih kerja dari pada ikut persami. Lagian lu dapat hasutan dari mana? lalu 'DIA' siapa yang lu maksud? "
Mampus gue! pakai keceplosan lagi. Sisil mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
"Oh.. itu, aku dengar dari anak-anak " bohong Sisil.
Sementara itu Reva sedang bingung mencari sepatunya.
"Kemana satunya? tadi aku lepas di sini, kok sekarang tinggal sebelah" guman Reva sambil celingak- celinguk.
Jangan lupa like , komen
__ADS_1
Favoritkan juga agar kalian tidak ketinggalan bab selanjutnya. Thanks for reading, see you in the next chapter😉