
Satu minggu sudah Rafi meninggalkan rumah. Ponsel Reva juga di sita oleh Maya. Hari-hari Reva lalui dengan kemurungan. Gimana tidak murung? Tak ada akses untuk mengobati rasa rindunya kepada Rafi.
Selama satu minggu itu juga Rafi tak pergi ke sekolah. Karena memang urusan belajarnya sudah selesai, tinggal menunggu hari kelulusan saja. Rafi juga tak di ijinkan keluar dari apartemen nya. Bahkan kedua sahabat nya itu pun dilarang mengunjunginya. Sudah seperti di penjara bukan?
"Guis... Bisa bantu enggak?" Tanya Reva kepada dua sahabat nya.
"Apa? Katakan!" Sahut Niar.
"Besok hari kelulusan. Sorenya Rafi harus berangkat ke Jepang. Aku belum bisa menemui Rafi sama sekali. Apa kalian bisa bantu?"
"Perkara sulit ini Va!" Sahut Sisil.
"Penjagaan nya sangat ketat lo di apartemen nya Rafi! Kemarin Dimas dan Roky ke sana, tapi mereka tetap enggak bisa ketemu sama Rafi walaupun hanya sebentar." Jelas Niar.
Reva tertunduk lemas, "nanti malam kalian datang kan?"
"Pasti lah! Masak di hari bahagia sahabat kita, kitanya enggak datang!" Sahut Sisil.
Kedua sahabatnya sudah tau masalah apa yang di hadapi oleh Reva. Karena Reva sudah menceritakan semua dari A hingga Z.
"Jangan ada yang tau tentang ini!" Reva mewanti-wanti sahabatnya.
"Siap komandan!" Sisil dan Niar seraya memberi hormat.
Pulang sekolah Reva di jemput oleh supir. Reva berjalan gontai memasuki rumah mewah nan megah itu. Reva berhenti sejenak saat tiba di ruang tamu. Ada beberapa orang dari WO yang menghias ruang tamu. Reva menatap tak percaya, akan secepat ini melepas masa lajangnya.
"Sayang... " Maya membubarkan lamunan Reva.
"Sudah pulang? Cepat makan dan mandi! Karena sebentar lagi orang salon akan datang untuk merias mu!" Maya menangkup wajah Reva.
Reva hanya mengangguk dan beranjak pergi ke kamarnya. Duduk di tepian ranjang, Reva memijat pelipisnya. Dari pagi hingga sore ia belum makan apa pun. Di tambah dengan keadaan rumah yang sudah mulai sibuk mempersiapkan acara untuk ijab kobul nya. Semakin membuat Reva tak nafsu untuk makan.
"Non, ini makannya!" Bibi membawa nampan berisi nasi dengan daging rendang, dan segelas jus jeruk.
"Letakan di meja saja bi! Aku mau mandi dulu!" Bohong Reva yang langsung menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Reva hanya duduk termenung di atas kloset.
Hari sudah semakin sore. Seorang MuA yang di sewa oleh Maya telah datang. Mulai merias wajah cantik Reva. Di tangan Mua yang profesional, Reva berubah lebih cantik. Menggunakan gaun putih tulang panjang dengan lengan yang panjang pula. Tatanan rambut yang tidak di sanggul seperti pengantin pada umumnya.
Tampilan Reva malam ini sangat pas dan cocok dengan usianya yang masih enam belas tahun.
"Cantik sekali pengantin kita ini!" Puji sisil yang masuk ke kamar Reva.
"Sumpah, aku tak mengenali mu!" Imbuh Niar.
"Jangan meledek ku!" Sahut Reva.
"Hey... Pengantin! Kami ini sedang memuji kecantikan mu! Kenapa malah sensi?" Ucap Sisil.
"Apa Rafi sudah datang?" Tanya Reva.
"Belum! Dimas dan Roky masih menjemputnya di apartemen." Jelas Niar.
__ADS_1
"Selamat ya Va! Semoga kalian selalu bahagia!" Niar memeluk Reva, begitu juga dengan Sisil yang bergantian memeluk Reva.
"Aku enggak menyangka jika kamu akan menikah duluan!" Cicit Sisil.
"Ngeri juga ya va! Orang tua Rafi? Aku enggak bisa bayangkan jika aku jadi anak perempuannya! Pasti aku sudah di nikahkan dengan Roky dari kemarin-kemarin!" Kekeh Sisil.
"Ngarep banget lu! Gue bilangin ke papa lu, kalau anak gadisnya udah ngebet nikah!" Sosor Niar.
"Hey... Gue cuma bercanda! Agar pengantin kita ini tidak tegang!" Sahut Sisil. "Untung aja ya papa ku tak sekejam om Guntur!" Lanjut Sisil.
"Lain kali kalau mau bermesraan lihat sikon Va! Jangan sampai tertangkap lagi!" Ucap Niar.
"Kenapa harus lihat sikon? Toh sebentar lagi mere sudah sah! Jadi mau bermesraan di mana saja tidak ada yang melarangnya!" Sahut Sisil.
"Iya juga ya!" Ucap Niar.
"Eh.. Reva! Nanti cerita ke kita-kita ya! Gimana rasanya malam pertama!" Goda Sisil dengan menaik turunkan alisnya.
"Iya va! Kata orang-orang nih! Rasanya itu sakit. Ihh... Aku jadi takut !" Ucap Niar sambil bergidik.
"Kalian ngomong apa sih?" Reva tak mau lagi mendengarkan ocehan kedua temanya itu. Reva beranjak dan keluar kamar.
Baru juga pintu terbuka, Reva susah di sambut oleh Maya.
"Sayang... Kamu cantik sekali!" Puji Maya, "ayuk kita turun! Rafi sudah datang!" Maya menggandeng Reva untuk turun ke ruang tamu.
Jantung Reva berdetak tak menentu saat nama Rafi di sebut. Rindu yang sudah menggung di tambah lagi acara yang sakral, membuat Reva menjadi gugup.
Rafi menatap kagum akan kecantikan Reva malam ini.
"Penghulunya belem datang ya Om?" Tanya Sisil.
"Katanya sih, masih di jalan! Kita tunggu saja!" Sahut Guntur.
Saat menunggu penghulu datang, Tiba-tiba seluruh ruangan menjadi gelap. Semuanya panik.
"Ada apa ini?" Tanya Maya yang khawatir.
"Sepertinya ada pemadaman! Biar saya cek ke luar!" Ujar Jimi.
"Honey aku takut!" Ucap Sisil yang manja. Roky merangkul pundak Sisil dari samping dan berkata, "ada aku di sini!"
Sedangkan Dimas dan Niar saling menautkan jarinya. Dimas menggenggam erat tangan Niar.
"Kenapa Jimi lama sekali? Kita susul Jimi yuk pa!" Maya dan guntur keluar dari rumah.
Tak lama kemudian Maya kembali,
"Suprise.... " Ucap Maya dan Guntur secara bersamaan dengan membawa kue tar yang bertuliskan 'heppy birthday Rafi' dengan lilin angka tujuh belas yang menyala.
Rafi dan Reva terlihat bingung. Mereka melongo. Sedangkan teman-teman mereka langsung menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan.
"Ma... Ini?"
__ADS_1
"Ini cuma prank sayang! Tiup dulu lilinnya!" Ucap Maya.
Sebelum meniup lilin Rafi terlihat berdoa, memohon sesuatu.
"Kamu pikir mama dan papa akan menikahkan kalian? Jangan mimpi ya!" Ucap Guntur.
"Jadi ini sudah tante rencanakan?" Tanya Reva.
Maya mengangguk, "maaf ya sayang... Tante dan om mu sudah lama ingin membuat kejutan di sweet seventeen nya Rafi." Jelas Maya.
"Tante jahat! Sudah membuat ku takut!" Reva memeluk Maya.
Semuanya tertawa termasuk Rafi yang merasa di kerjai oleh orang tuanya.
"Karena kalian tidak jadi menikah! Untuk gantinya kalian harus bertunangan malam ini juga!" Ucap Guntur.
Rafi memasangkan cincin ke jari manis Reva, begitu pula Reva yang memasang cincin ke jari manis Rafi. Tentunya mama Rafi lah yang menyiapkan cincin pertunangan mereka.
"Iihh.... Sweet banget sih mereka! Aku mau dong di lamar sama kamu honey!" Ucap Sisil.
"Iya, nanti aku akan ajak ayah dan bunda untuk melamar kamu ya?!" Roky mencubit gemas hidung Sisil.
"Kamu mau enggak aku lamar?" Tanya dimas kepada Niar.
"Sekolah saja dulu yang benar! Baru mikir tunangan!" Ucap Niar yang langsung beranjak pergi.
Dimas tersenyum melihat niar yang menjauh, karena gaya pacaran mereka memang berbeda dari teman-teman nya.
Rafi dan Reva duduk di bangku taman dekat kolam. Dengan berteman kan bulan dan bintang-bintang.
"Kamu cantik banget va malam ini!" Puji Rafi.
"Terimakasih!"
"Kamu enggak mau beri aku hadiah?"
"Aku tak kepikiran jika hari ini ulang tahun kamu! Maaf ya! Aku akan berikan besok!" Janji Reva.
"Tak perlu! Aku tak mau jika besok!"
"Lalu? Aku harus beli sekarang?"
"Tidak perlu beli!"
"Teru... "
Reva kehilangan suaranya saat bibir mungilnya di lahap oleh Rafi.
"Tak perlu beli! Ini saja sudah cukup!" Ucap Rafi di sela-sela ciumannya.
Rafi kembali mengecup lembut bibir Reva. Reva juga membalas ciuman Rafi. Rasa rindu nya terbayar sudah.Mereka saling melepas rindu. Berciuman di bawah sinar rembulan.
T A M A T
__ADS_1
Terimakasih untuk semuanya yang sudah favorit kan cerita Rafi dan Reva. Dan tentunya Terimakasih juga yang sudah setia membaca dari awal hingga akhir. Terimakasih juga atas dukungan yang kalian berikan untuk author . Jika berkenan baca juga karya author yang berjudul "ISTRI YANG BISU" Jangan lupa untuk di favorit kan juga.