
Team SAR gabungan telah tiba di lokasi. Orang tua Rafi juga sudah berada di sana.
"Kenapa sampai ada yang tersesat di hutan terlarang itu?" Tanya Guntur.
"Maaf Tuan atas kelalaian kami menjaga murid-murid! " Ucap pak Agung.
"Kak! Gimana kalau Reva tidak di temukan? " Ucap Niar yang berada di pelukan sang kakak.
"Kita berdoa saja semoga Reva di temukan dan dalam keadaan selamat! " Ucap Nanta sambil mengelus punggung adiknya.
"Reva semoga lu baik-baik aja! " Ucap Sisil lirih dan berurai air mata.
"Jangan sedih yang! Rafi dan Reva pasti di temukan! " Ucap Roky sambil mengelus rambut sisil.
"Ini salah ku honey! Aku yang sudah memaksanya ikut acara ini! " Ucap Sisil sambil terisak.
"Sudah jangan menangis! " Roky membawa Sisil ke dalam pelukannya.
Nanta yang melihatnya pun berbisik pelan ke telinga sang adik.
"Siapa yang bersama Sisil itu? " Bisikan Nanta.
"Pacarnya Sisil" Jawab singkat Niar.
"Pacar? " Ulang Nanta.
"Iya... Mereka baru jadian! Udah ah.. Jangan bahas mereka! Mereka selalu pamer kemesraan di mana-mana! " Keluh Niar.
Nanta mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan sang adik.
"Makanya kamu cari pacar juga dong! " Kekeh Nanta, "kakak belum pernah tuh ada temen cowok yang maen ke rumah! "
"Apaan sih kak! Kok jadi bahas pacar! Kakak sendri juga masih jomblo! " Ucap Niar bagai tamparan keras bagi Nanta.
Untung ya lu adik gue atu-atu nya! Batin Nanta.
Hehe... Diem juga kan! Batin Niar.
Para team SAR telah bersiap untuk melakukan pencarian. Sebelum melakukan pencarian semua team berdoa terlebih dulu.
Setelah selesai berdoa, team di bagi menjadi beberapa kelompok. Tujuannya agar mereka bisa segera menemukan Rafi dan Reva.
Semua team berpencar dan mulai menyisir hutan.
"Kalian semua tetap di sini ! " Perintah pak Agung ke pada murid-murid nya.
"Tuan! Sebaiknya anda menunggu di tenda kami! " Ucap pak Agung ke pada Tuan Guntur.
"Terimakasih! Saya akan ikut mencari Rafi! " Ucap Guntur.
"Tapi Tuan... " Ucapan pak Agung menggantung .
"Jim... Kamu tunggu saja di sini! Saya akan bergabung dengan team SAR! " Ucap Guntur kepada asistennya.
"Tuan, kita serahkan saja kepada team SAR! " Ucap pak Agung.
__ADS_1
"Saya tidak bisa menunggu di sini! Permisi! " Ucap Guntur dan langsung menyusul para team SAR.
Namun saat melewati ke dua teman Rafi, Guntur menghentikan Langkahnya. "Kalian punya hutang penjelasan ke pada Om! " Setelah mengucapkan itu Guntur berlalu pergi.
Sedangkan Roky dan Dimas hanya bisa menundukkan kepalanya. Takut! Tentu saja takut. Entah apa yang akan di lakukan Guntur jika dirinya sampai tau jika bilangnya Rafi dan Reva itu akibat ulah jahil dari tangan Dimas.
"Ini semua gara-gara lu! " Ucap Roky ke pada Dimas. Setelah mengucapkan itu Roky mengajak pergi Sisil dari sana dan bergabung dengan yang lain.
♡´・ᴗ・`♡
Reva membuka matanya saat sorot matahari mengenai wajahnya.
"Hooammm" Reva menguap , telapak tangannya menutup mulutnya.
"Sudah pagi! " Gumam Reva sambil menoleh ke sampingnya yang terlihat Rafi masih menutup rapat matanya dengan kepala menyandar ke pohon.
Reva menyunggingkan senyum saat melihat Rafi yang masih terlelap.
"Rafi bangun! " Reva mengguncangkan tubuh Rafi pelan.
"Fi... Bangun! Sudah pagi! " Ucap Reva yang terus mengguncangkan tubuh Rafi. Karena tidak ada pergerakan dari Rafi, Reva pun beralih menepuk pelan pipi Rafi.
"Demam! " Ucap Reva saat tangannya menempel di pipi Rafi. Untuk memastikan lagi, Reva menyentuh seluruh wajah Rafi." Benar-benar demam! " Gumam Reva.
Reva mengalihkan pandangannya ke kaki Rafi yang terluka.
"Pasti gara-gara luka ini! " Ucap Reva.
"Rafi bangun! Kita harus segera pergi dari sini!"
Masih terus berusaha membangunkan Rafi, hingga Rafi membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah bangun Fi?! Apa yang kamu rasakan? Pusing atau apa? " Tanya Reva yang khawatir.
Rafi menggeleng dan menutup mala lagi, " Aku gak papa! " Ucap Rafi lirih hampir tak terdengar.
"Kamu harus kuat Fi! Kita harus keluar dari sini! " Ucap Reva dan mengambil alih tas ransel Rafi.
"Kita harus segera pergi dari sini ! Kalau tidak, nanti kita akan bermalam lagi di sini dan aku tidak mau! " Ucap Reva meneteskan air mata.
Reva mencoba mengangkat tubuh Rafi supaya berdiri dengan cara merangkulnya.
"Aagggrrhh" Pekik Reva karena tubuh Rafi yang berat.
Dengan cara memapahnya Reva mulai melangkah. Langkanya terasa berat, jalannya juga sedikit sempoyongan.
"Aku mohon bertahanlah! " Ucap Reva di sela-sela langkanya.
Entah ke berapa kalinya ia istirahat.
Setelah istirahat sejenak, Reva melanjutkan langkahnya.
"Maafkan aku! " Ucap Rafi lirih.
"Tak perlu minta maaf! " Kata Reva.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang menjaga dan melindungi mu" Ucap Rafi lagi.
"Jangan bilang seperti itu! Yang terpenting saat ini kamu harus bisa bertahan! Wajah mu pucat sekali! Aku takut... " Reva tak bisa meneruskan kata-katanya karena jari telunjuk Rafi menempel di bibirnya.
"Jangan menangis! " Ucap Rafi lirih dan mengusap sudut mata Reva yang basah.
"Janji bertahan lah! " Reva menggenggam erat tangan Rafi. Rafi pun mengangguk.
Jalan yang licin akibat hujan semalam membuat kesulitan untuk berjalan. Rasa lelah dan haus tak di hiraukan oleh Reva. Tujuannya hanya satu, bisa segera keluar dari hutan dan berkumpul dengan teman-temannya.
"Reva... Coba kamu telfon teman kita pakai ponselku! Ponselku ada di saku celana! " Ucap Rafi yang membuat Reva berhenti melangkah.
Reva mengambil ponsel Rafi , "gak ada sinyal! " Ucap Reva dengan ponsel di genggaman nya.
"Kamu bawa aja! Siapa tau nanti kita bisa mendapatkan sinyal" Ucap Rafi.
"Are you oke?! " Tanya Reva yang merasakan tubuh Rafi semakin berat. Rafi hanya mengangguk pelan dengan mata tertutup.
"Fi.. Jangan membuat ku takut! " Reva menyandarkan Rafi ke pohon.
"Rafi... Sadar! " Reva menepuk pelan pipi Rafi.
Reva segera mengambil air minum di tas ransel Rafi.
"Minum du.... Rafi?! " Reva menjatuhkan bolot itu saat melihat Rafi terjatuh ke tanah. Wajah Rafi yang pucat seperti mayat membuat Reva semakin takut.
Reva mengangkat kepala Rafi dan di letakan di pangkuannya.
"Darah! " Ucap Reva saat melihat kaki Rafi.
Luka yang ada di kaki Rafi mengeluarkan banyak darah. Kain yang membalut luka itu sampai tak terlihat .
Reva kembali merobek bajunya dan mengikat kaki Rafi agar darah nya terhenti.
Sayup-sayup Reva mendengar orang memanggil namanya.
"Kau dengar Fi? Ada orang! " Ucap Reva.
"Tolong! " Reva berusaha teriak agar mereka segera menemukannya.
"Tolong.... Saya di sini! " Teriak Reva.
"Dengar! Ada yang minta tolong! " Ucap salah satu team SAR.
"Iya benar! "
"Cepat kita cari sember suara itu! "
Bersambung.....
**yuhuuu... baru bisa up lagi 🤭 jangan lupa untuk like dan komen ya!
yang belum fav jangan lupa untuk klik tombol love agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya😉
jika suka dengan cerita ini beri hadiah dan vote ya buat Rafi & Reva! terimakasih🙏**
__ADS_1