2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps68


__ADS_3

"Maksud tante?" Tanya Reva.


"Bi Lastri itu.... "


"Nenek!" Pekik Reva.


Ucapan Maya terhenti saat Reva memanggil neneknya. Reva melihat ada pergerakan dari jari-jari neneknya. Reva langsung menekan tombol yang ada di samping tempat tidur itu untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter dan dua perawat datang.


"Dok, gimana?"tanya Reva saat dokter Hasan selesai memeriksa keadaan nenek Lastri.


" Perkembangannya sangat bagus! Kita tunggu sampai besok pagi, jika ada banyak perkembangan beliau bisa segera di pindahkan dari ruang ICU."jelas dokter Hasan.


"Terimakasih dok!" Ucap Reva dengan wajah yang berbinar. Ketakutannya seketika hilang.


"Nenek!" Reva menciumi wajah Lastri. "Nenek harus sembuh! Reva sudah menemukan tante Maya nek! Lihat tante Maya ada di sini!" Reva menoleh sekilas ke arah Maya.


Keadaan Lastri yang masih lemah itu hanya bisa melirik kan matanya ke arah Maya."May.. "Lirih Lastri.


Mendengar namanya di panggil Maya buru-buru mendekat. " Iya bi! "


Lastri dengan susah payah mengulurkan tangannya. Dengan cepat pula Maya menggenggam tangan bi Lastri.


"Maafkan Maya bi!" Maya menciumi punggung tangan Lastri. "Selama ini Maya enggak tau jika Elis tinggal bersama bibi. Setelah bibi keluar dari rumah Elis, Maya pikir bibi sudah tak lagi berhubungan dengan keluarga Elis."


"Semua sudah terjadi!" Ucap Lastri dengan pelan. "Yang terpenting sekarang, tugas mu membawa Reva kembali ke keluarganya." Lanjut Lastri.


Reva yang mendengar semua itu hanya mengerutkan keningnya. Bingung? Tentu dirinya bingung. Nenek yang selama ini tinggal dan merawat dirinya ternyata orang lain.


Maya mengangguk, "tentu bi!" Ucap Maya.


"Maksud nenek apa? Reva enggak ngerti! Keluarga ku yang asli? Bukannya nenek adalah ibu dari ayah Reva?" Reva menanyakan hal itu karena semasa hidup Elis pernah cerita jika nek Lastri itu ibu dari Ayah nya Reva. Tentu saja Reva percaya akan cerita yang di karang oleh ibunya itu.

__ADS_1


"Sayang! Maafkan nenek!" Ucap Lastri.


"Kenapa nenek minta maaf? Memang benar kan jika nenek itu nenek kandung aku?"


Lastri menggeleng pelan, "bukan sayang!" Ucap Lastri. Tak terasa air mata nya ikut terjatuh. Ada rasa kelegaan di hati, namun sebenarnya ada rasa tak tega juga. Tapi ini waktu yang tepat , sudah saatnya Reva tau yang sebenarnya. Siapa dia yang sebenarnya.


Reva menggeleng dengan cepat, "please... Jangan bercanda nek!"


"Sayang!" Maya merengkuh pundak Reva dan memeluknya dengan erat. "Apa yang nenek kamu bilang itu benar adanya. Nenek Lastri yang selama ini mengasuh mu itu bukan ibu dari ayah mu." Jelas Maya dengan hati-hati.


Reva mengurai pelukan Maya, "lalu?"


"Nenek Lastri ini dulu bekerja di rumah Mama mu. Beliau berkerja sebagai pengasuh Mama mu saat Mama mu masih kecil. " Maya mulai menceritakan semua kejadian di masa lalunya. Maya bercerita dengan air mata yang terus mengalir.


"Untuk menebus kesalahan tante. Tante akan menjaga mu seperti anak tante sendri, tante juga ingin kamu dan Rafi berjodoh." Ucap Maya.


Reva hanya terdiam. Dirinya tak menyangka jika kedua orang tuanya berasal dari keluarga yang berada.


"Sayang! Ikutlah dengan tante Maya!" Ucap Lastri yang lirih itu mampu menyadarkan Reva.


"Kenapa nak? Itu keluarga mu!" Maya mencoba membujuk Reva.


"Aku enggak yakin jika nenek mau menerima aku sebagai cucunya! Nenek saja sangat membenci ibu dan ayah. Apa lagi tau jika aku ini anak dari ayah Boby, orang yang mereka benci. Tan... Biarkan aku hidup tenang dengan nenek Lastri. Walaupun beliau bukan nenek kandung ku, tapi aku menganggap nenek Lastri sebagai nenek ku yang sesungguhnya." Setelah mengucapkan itu Reva berhambur memeluk nenek Lastri.


"Reva, sayang!" Lastri membingkai wajah sebab Reva, "menurut lah! Kini sudah saatnya kamu untuk hidup lebih layak. Sudah terlalu lama kamu hidup dalam kesulitan."


Reva tetap menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika dirinya menolak.


"May.. "


"Iya bi!" Sahut Maya.

__ADS_1


"Aku titipkan Reva kepadamu!" Ucap Lastri dengan sudah payah karena secara tiba-tiba dadanya menjadi sesak.


"Iya bi.. Akan aku jaga Reva seperti putri ku sendiri!" Maya menggenggam erat tangan Lastri.


Sedetik kemudian Lastri memejamkan matanya.


"Nek... Nenek!" Teriakan histeris dari Reva.


Dengan panik Maya keluar dari ruang perawatan, "Rafi panggil dokter sekarang!" Perintah Maya.


Rafi yang sedang sibuk bermain ponsel itu terkejut dan langsung pergi untuk memangil dokter.


Tak lama kemudian dokter Hasan datang, "tolong tunggu di luar! Biar saya periksa dulu!" Ucapnya.


Maya merangkul Reva dan membawanya keluar dari ruang perawatan. Sesampainya di luar Reva tak berhenti menangis, ia takut hal buruk akan terjadi ke pada neneknya.


Reva memeluk dan menyandarkan kepalanya di bahu Maya. Saat ini Maya lah tempat ternyaman untuk Reva, Rasa rindu kepada ibunya sedikit terobati.


Reva berdiri dari tempat duduknya saat melihat dokter Hasan keluar. Maya dan Rafi pun ikut beranjak dari duduknya.


"Dok, gimana dengan nenek saya?" Tanya Reva.


"Dengan berat hati saya harus sampaikan berita duka ini!" Ucap dokter Hasan.


"Enggak!" Reva menggeleng seraya mencengkeram baju dokter Hasan, "dokter pasti bohong! Nenek enggak mungkin meninggal!"


"Reva, sayang! Jangan seperti ini!" Maya mencoba melepaskan tangan Reva yang terus mencengkram baju dokter Hasan.


"Katakan dok, jika ucapan Anda itu tidak benar!" Pinta Reva.


"Maaf... "

__ADS_1


Reva menerjang masuk ke dalam ruang ICU. Bagaikan tak punya tukang, badan Reva menjadi lemas saat melihat neneknya yang sudah di tutupi selimut rumah sakit.


bersambung


__ADS_2