
Va, kita bisa belajar bareng! Kenapa lu harus pergi sih?" Ucap Rafi.
"Kalian di sini rupanya?" Ucap bu Mumun yang menghampiri mereka.
"Karena kalian berdua ada disini... Jadi kalian ikut ibu sekarang!" Lanjut bu Mumun.
"Ke mana bu?" Tanya Reva pelan.
"Ikut saja!" Ucap bu Mumun yang berjalan mendahului mereka.
Rafi dan Reva mengekor langkah bu Mumun, sesekali Rafi menoleh ke Reva begitu juga Reva yang mencuri pandang ke Rafi. Di saat pandangan mereka saling bertemu, mereka saling memalingkan wajah.
"Duduk!" Perintah bu Mumun saat sudah tiba di kantor.
Rafi dan Reva pun duduk di sofa sudut yang ada di kantor guru.
"Ini ada latihan soal-soal! Kalian bisa pelajari ini! Kalian harus menyelesaikan soal-soal itu hari ini juga! Nanti akan langsung saya koreksi. Kalian kerjakan di sini saja" Ucap bu Mumun.
"Tapi bu... Sebentar lagi jam istirahat berkahir!" Ucap Reva.
"Kalian jangan khawatir! Hari ini kalian tidak perlu mengikuti pelajaran!" Jelas bu Mumun yang membuat Reva tertunduk lesu karena harus belajar bersama Rafi.
Lain pula dengan Rafi, ia bersorak gembira di dalam hati. Secara tidak langsung Bu Mumun telah membantunya untuk dekat dengan Reva.
"Kalian bisa mulai dari sekarang! Kalian juga bisa saling diskusi, karena lembar soal itu tidak sama!" Jelas bu Mumun.
"Iya bu!" Sahut Reva yang mengambil lembar soal matematika.
"Kalau begitu ibu tinggal ya! Ibu harus mengajar!" Ucap bu Mumun.
"Iya bu!" Sahut mereka.
Rafi dan Reva mulai mengerjakan soal-soal itu dengan teliti. Semua guru yang ada di ruangan itu satu persatu mulai keluar karena harus kembali mengajar. Kini hanya tinggal mereka berdua. Suasana di ruangan itu hening seperti tak berpenghuni.
Sesekali Rafi berdehem untuk menyita perhatian Reva. Namun, aksi Rafi terbilang sia-sia karena Reva tak terusik sama sekali, Reva fokus ke lembar soal yang ia pegang. Begitulah Reva jika sudah fokus belajar ia tak akan terusik.
Rafi meregangkan otot-otot nya saat selesai mengerjakan soal pertama. Rafi melihat Reva yang masih serius dengan lembar soal matematika itu.
"Belum selesai va? Apa ada yang sulit? " Tanya Rafi. Reva mengangguk.
"Coba sini aku lihat!" Rafi mengambil lembar soal dari tangan Reva.
"Oh.. Ini! Jadi gini caranya!" Rafi dengan telaten menjelaskan dan Reva pun menyimaknya.
"Gimana udah paham?" Tanya Rafi yang menoleh ke Reva. Reva pun mengangkat pandangannya sehingga iris mata mereka saling bertemu.
Sedetik kemudian Reva mengalihkan pandangannya. Dirinya tak bisa jika harus beradu mata dengan Rafi.
"Nih makan! Biar bertenaga. Soal yang harus kita kerjakan masih banyak!" Kata Rafi sambil menyodorkan roti ke Reva.
"Makasih!" Reva pun menerima roti itu. Reva memakan roti itu sambil terus mengerjakan soal berikutnya.
__ADS_1
Mereka benar-benar di kurung di dalam ruangan yang sama, mereka baru keluar dari ruangan itu saat sekolahan sudah sepi. Untungnya kedua sahabatnya mengantarkan tas nya, sehingga Reva tak perlu kembali ke kelas.
"Mau langsung pulang?" Tanya Rafi.
"Enggak! Aku langsung ke restoran!" Jawab Reva.
"Tapi ini lewat dari jam kerja kamu kan?" Kata Rafi.
"Iya! Aku sudah izin tadi sama kak Nanta! Aku duluan!" Ucap Reva yang langsung meninggalkan Rafi.
"Va... " Suara Rafi tercekat karena Reva sudah keluar dari halaman sekolah.
Setibanya di restoran Reva di sambut oleh Niar dan Sisil.
"Kalian di sini?" Tanya Reva.
"Yupz... Kita sengaja tungguin lu di sini!" Jawab Sisil, "besok gue ultah! Dan lu harus datang gak boleh enggak!" Lanjut Sisil.
"Emang jam berapa?" Tanya Reva.
"Malam! Tenang aja gue udah bilang ke kak Nanta jika lu besok ijin gak masuk kerja!" Jelas Sisil.
"Hemmm... Selalu begitu!" Ucap Reva yang pura-pura cemberut.
"Lu kan tau kalau teman kita satu ini tukang paksa!" Cicit Niar. Dan mereka pin tertawa bersama .
"Va! Ini ada pesan yang harus kamu antar!" Ucap teman kerja nya.
"Pulang lah! Ingat ya lu harus datang besok!" Ucap Sisil.
"Iya bawel!" Reva menarik pipi Sisil dengan gemas.
"Kita pergi dulu ya Va! Bey!" Ucap Niar.
"Bey!" Reva melambaikan tangannya.
Setelah berganti baju Reva langsung mengantar makanan sesuai dengan alamat pemesan.
"Benar kok ini alamatnya!" Gumam Reva sambil mencocokan alamat yang tertulis di nota.
"Tapi kenapa aku gak asing ya sama tempat ini! Kaya pernah ke sini!" Gumam Reva.
"Astaga! Ini kan markas Rafi!" Ucap Reva setelah mengingat tempat itu.
"Jadi dia yang pesan ini!" Gumam Reva lagi.
Karena harus profesional dalam kerja, sehingga mau tak mau harus mengantarkan pesanan itu sampai ke tangan Rafi.
Reva menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Permisi!" Ucap Reva yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Masuk!" Ucap Rafi.
"Maaf! Ini pesanannya dan ini notanya!" Ucap Reva sambil meletakkan kantung kresek itu ke atas meja.
"Silakan duduk!" Ucap Rafi.
"Maaf! Saya masih banyak pekerjaan!" Ucap Reva.
"Duduk dan temani aku makan!" Pinta Rafi.
"Maaf saya tidak bisa!" Reva langsung berbalik untuk keluar dari ruangan itu, namun pintunya sudah tertutup rapat . Rafi menutup pintunya dengan remot kecil yang ada di tangannya.
"Fi!" Reva menatap tajam ke arah Rafi yang nampak tak berdosa itu.
"Aku cuma minta di temani makan itu aja!" Ucap Rafi dengan santai.
"Fi, aku harus kembali kerja! Banyak makanan yang harus aku antar!" Bohong Reva , pasalnya dirinya hanya membawa tiga nota dan pesanan Rafi lah yang terakhir.
"Kalau kamu menurut kamu gak akan lama di sini! Setelah makan kamu bisa langsung pergi!" Rafi mengangkat kedua jarinya.
Dengan terpaksa Reva duduk di depan Rafi dengan bibir yang mengerucut.
Rafi menyunggingkan senyum saat melihat Reva yang tengah kesal karena ulah nya.
"Buruan di makan! Mau cepat keluar dari sini gak?" Ucap Rafi sambil menyiapkan nasi beserta udang asam manis.
"Aku gak laper! Tadi kan bilangnya suruh nemani aja! Kenapa aku harus ikut makan?" Ucap Reva.
"Mau makan sendri atau mau aku suapi dengan cara ku?" Kata Rafi.
"Bodoamat!" Reva memalingkan wajah nya dan tak menyentuh makanan itu sama sekali.
Perlahan Rafi menggeser duduknya ke samping Reva. Disaat waktu yang bersaman Roky dan Dimas baru tiba ke markas mereka.
"Mobil Rafi nih!" Ucap Roky.
"Pasti dia ada di dalam!" Sahut Dimas, dan mereka menuju ruangan yang sering mereka sebut sebagai markas.
"Di kunci?" Roky dan Dimas saling pandang.
"Masak dia gak ada di dalam sih! Mobilnya saja sudah di sini! Eh.. Tunggu itu ada motor juga!" Dimas menunjuk motor Reva.
"Rafi pasti ada di dalam! Dan gue tau itu motor siapa!" Ucap Roky.
"Siapa?" Kepo Dimas.
"Lu akan tau sendri nanti! Semoga kedua anak manusia itu tidak berbuat dosa!" Ucap Roky.
Dimas mengernyitkan dahinya, "maksud lu apa sih?"
"Banyak tanya lu!" Ucap Roky dan segera menombol password di pintu itu.
__ADS_1
Bersambung.....