
Setelah kepergian sang nenek, Reva terus mengurung diri di dalam kamarnya. Ia juga melewatkan sekolahnya. Sudah dua hari Reva apsen. Pihak sekolah memaklumi hal itu. Niar dan Sisil selalu datang ke rumah Reva setelah pulang sekolah. Bukan hanya menghibur Reva, tapi juga membujuk Reva agar mau kembali berangkat ke sekolah.
Reva di rumah tidak sendiri, ada keluarga Rafi yang menemani Reva. Terutama Maya, sejak meninggal nya nenek Lastri, Mata belum sekali pun pulang ke rumah nya . Ia akan menelfon asisten rumah tangga nya jika ia membutuhkan sesuatu yang ada di rumahnya. Selama itu juga Maya meliburkan diri dari kantor. Bak menemukan putri nya yang telah lama hilang, Maya mencurahkan semua perhatiannya ke pada Reva. Bahkan Maya mengabaikan suami dan putra semata wayang nya.
"Ck... Ma! Apa mama sudah tidak menganggap ku anak?" Protes Rafi saat sedang di meja makan.
"Jaga bicara mu! Sampai kapan pun kamu tetap anak mama!" Sahut Maya yang sibuk menyiapkan sarapan untuk Reva.
"Semenjak ketemu Reva, mama tak peduli lagi dengan ku! Mama selalu mengutamakan Reva!" Rafi pura-pura merajuk.
"Bukan kamu saja!" Ucap Guntur sambil menepuk bahu Rafi.
"Pagi Mas!" Ucap Maya seraya mengecup pipi sang suami.
"Mas mau sarapan pakai apa? Ayam atau udang?" Tawar Maya.
"Terserah kamu saja! Semua masakan yang kamu buat pasti lezat!" Guntur memuji masakan Maya.
"Ini mas, di makam dulu! Kalau kurang ambil sendiri ya?!mama mau antar sarapan ke kamar Reva, karena hari ini dia mulai masuk sekolah!"
"Serius Ma?" Tanya Rafi tak percaya.
"Iya, nanti berangkat nya sama kamu ya?"
"Siap Ma!"
"Cepat habiskan sarapan mu! Mama mau ke kamar Reva."
"Tapi piringku masih kosong Ma!"
"Punya tangan kan?ambil sendri jangan manja!"
"Ck...mentang-mentang dapat anak gadis, aku yang anak kandung di lupakan!" Omel Rafi sambil mengambil nasi.
Sedangkan Maya tak menghiraukan omelan sang anak, ia menuju kamar Reva dengan nampan yang berisi nasi dan segelas susu. Saat Maya kembalikan tubuhnya, ternyata Reva sudah berdiri di depan pintu kamar nya. Tanpa mereka sadari Reva mendengarkan semua obrolan ibu dan anak itu.
"Sayang, kamu sudah siap?" Maya menghampiri Reva.
"Sudah tante!"
"Sarapan bareng sini Nak!" Ucap Guntur.
"Iya Om!"
"Tante baru saja mau bawain sarapan buat kamu!"
"Enggak usah repot-repot tan!"
"Enggak repot sayang! Yuk, sarapan!"
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Rafi dan Reva berangkat ke sekolah. Sedangkan Guntur menunggu jemputan dari Jimi.
"Sayang!" Guntur mendekati istrinya.
"Apa?" Sahutnya.
"Mumpung Jimi belum datang, jatah papa yang dua hari ini, papa minta sekarang ya?!" Guntur menaik turunkan alisnya.
Maya melirik ke arah jam dinding, "enggak akan cukup pa! Nanti aja lah!"
"Cukup! Bentar aja ya!"
"Mama enggak yakin kalau hanya sebentar. Apa lagi ini udah puasa dua hari!"
"Hehehe, boleh ya yang? Aku kangen loh!" Guntur memeluk istrinya dari belakang dan menciumi lehernya.
"Mas! Iihh... Geli!"
"Mau ya?" Guntur masih berusaha membujuk sang istri.
Maya memutar badannya menghadap ke suami nya, dengan kedua tangan yang di lingkaran ke leher Guntur. "Janji sebentar?"
Guntur mengangguk sebagai jawaban. Layaknya pasangan muda yang kasmaran, Guntur menyambar bi bir Maya dengan rakusnya. Maya sampai tak sanggup untuk mengimbanginya.
Saat lagi asik-asiknya memadu kasih, di saat Guntur ingin memulai nya, terdengar suara Jimi dari arah pintu depan.
"Selamat pa... " Jimi tak bisa meneruskan ucapan nya saat melihat kedua bosnya hampir te lanjang da da. Buru-buru Jimi membalikan badan nya.
"Ahh... Sial! Kenapa harus datang sih?" Umpat Guntur sambil membenarkan baju sang istri.
"Sabar ya mas, ini cobaan!" Ucap Maya seraya tersenyum manis.
"Enggak mau tau nanti kamu harus membayarnya dobel!" Guntur melabuhkan kecupan ke bi bir Maya dan sedikit me lumatnya.
Jimi menggelengkan kepalanya saat tanpa sengaja ia menoleh ke belakang, "astaga, dua orang tua ini benar-benar membuat ku iri!" Batin Jimi. Iri karena Jimi yang masih betah jomblo.
*
*
*
*
*
"Maaf ya Fi!" Ucap Reva.
"Maaf untuk apa?" Rafi mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Gara-gara aku, kamu jadi di abaikan orang tante Maya!"
"Oh... Masalah itu? Jangan di ambil pusing! Aku sama mama, papa sudah sering bercanda seperti itu! Ya... Itung-itung sih supaya lebih dekat antara anak dan orang tua. Mereka berdua selalu sibuk dengan pekerjaan nya. Waktu berkumpul pun sangat minim. Kalau lagi beruntung sih... Dalam satu minggu paling banyak tiga kali bisa makan dan ngobrol bareng mereka. Tapi kalau lagi apes ya... Bisa-bisa satu bulan itu hanya sekali saja. Jadi di saat kami bersama, kami senang melempar candaan-candaan gitu. Jadi jangan di anggap serius ya omongan yang tadi?!" Rafi menggenggam tangan Reva.
"Oh.. Iya, sepulang sekolah kita jenguk Dimas ya!"
"Kenapa emangnya?"
"Di keroyok preman! Untung ada teman kamu itu yang nolongin."
"Siapa?"
"Niar! Ternyata dia jago beladiri ya?"
"Iya, dia ikut kelas karate."
"Oh... Pantas saja!"
"Sebelum jenguk Dimas, anatar aku ke makam nenek ya!"
"Iya, boleh!"
"Makasih ya?!"
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?"Reva mengernyitkan dahinya dan menoleh ke arah Rafi.
" Kiss"Rafi menunjuk pipinya sendiri.
"Iihh...apaan sih!" Ucap Reva. Pipinya sudah bersemu merah.
"Mau di antar enggak?kalau enggak mau ya sudah!" Goda Rafi.
"Kok maksa gitu sih!"
"Aku enggak maksa! Itu semua tergantung kamu, kalau mau aku antar ya... Kiss dulu!" Rafi kembali menunjuk pipinya sendri.
"Ini di jalan Fi! Kamu gila ya?"
"Tenang aja! Orang luar enggak akan bisa lihat kita kok!"
Reva memperhatikan kaca mobil itu yang terlihat gelap. "Cuma kiss pipi saja kan?" Tanya Reva. Rafi pun mengangguk.
Reva menyondongkan tubuhnya ke arah Rafi. Saat bi bir nya hampir mendarat ke pipi Rafi, dengan cepat Rafi menggeser kepalanya. Sehingga kecupan yang akan Reva labuhkan ke pipi Rafi itu mendarat sempurna ke bi bir Rafi. Rafi tak perlu menghentikan mobilnya, karena saat ini sedang berada di lampu merah. Tak menyia-nyiakan kesempatan, tangan Rafi menahan kepala Reva. Rafi me ***** dan me n yesap bi bir Reva yang telah menjadi candu buatnya. Tak di sangka Reva juga membalas ci uman itu. Kurang dari lima menit, Rafi menyudahi ci uman nya. Karena lampu hijau sudah menyala.
Di sela-sela menyetir , tangan kirinya menghapus jejak salvia di bibir Reva.
"Aku merindukan manisnya bibir ini!" Rafi menoleh sekilas dengan senyum termanisnya.
__ADS_1
"Apaan sih!" Reva mencubit pinggang Rafi. Dan langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya.