
Di rumah sakit tinggallah dua pasang anak muda yang saling diam. Canggung. Itu yang dirasakan Niar maupun Dimas. Biasanya mereka akan seperti tom and Jerry jika bersama.
Menit demi menit telah berlalu. Tiga puluh menit sudah mereka saling diam. Sesekali pandangan mereka saling beradu, namun itu hanya sekejap karena baik niar atau dimas langung mengalihkan pandangannya.
Niar menegapkan duduknya saat melihat pergerakan dimas dari atas tempat tidur.
"Mau kemana lu?" Tanya Niar dengan posisi yang masih duduk di sofa.
"Kamar mandi! Napa? Mau ikut lu?" Sahut dimas.
"Idihhh... Ogah!"
"Bisa enggak lu?" Tanya niar saat melihat dimas yang kesulitan turun dari tempat tidur.
"Bisa" Satunya sambil menggeser kaki nya ke bawah.
Niar mengernyitkan dahi saat melihat kaki dimas di balut perban.
Dimas berusaha turun, tapi baru saja kakinya meminjak ke lantai tubuhnya sudah limbung. Dengan cepat Niar menopang tubuh dimas agar tidak terhantuk ke lantai.
"Are you oke?" Dimas hanya mengangguk.
"Duduk dulu!" Niar membantu dimas untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa kaki mu di perban gitu?" Tanya Niar yang memang tak tau karena setelah mengantarkan dimas ke rumah sakit dia langsung membuat laporan ke kantor polisi. Jadi niar tidak tau seserius apa luka dimas akibat di keroyok preman itu.
"Tulang nya ada retak! Sedikit sih!" Jelas Dimas.
"Retak? Kok bisa?"
"Iya bisa lah! Salah satu preman ada yang memukul dengan balok kayu tepat di kaki ku!"
Niar menutup mulutnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya malam itu jadi menginap di rumah Reva.
"Sorry! Gue enggak tau separah apa luka lu! Karena setelah lu sampai rumah sakit gue sama abang gue langsung ke kantor polisi."
"Iya, gue udah tau semuanya dari bang Hasan! Btw, makasih ya lu udah nolongin gue! Kalau enggak ada lu dan abang lu, entah apa yang akan terjadi!"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lu bisa di keroyok sama preman itu?"
"Kalau mau tau, antar aku ke kamar mandi dulu! Udah kebelet dari tadi!"
"Haa... Aku?"
"Iya lah! Siapa lagi? Yang ada di sisi kan cuma lu!"
"Iya udah deh!" Niar memapah dimas menuju kamar mandi.
"Apa masih sakit kalau di buat jalan?"
"Lumayan masih ngilu!"
"Eh... Tunggu lu mau ke mana?" Dimas mencegah Niar yang akan keluar dari kamar mandi.
"Keluar lah! Masak harus nungguin di dalam juga!"
__ADS_1
"Ya udah! Tapi jangan jauh-jauh ya!"
"Iya! Entar lu teriak aja!"
"Udah belum?" Belum juga dimas memanggil, niar sudah teriak dari luar.
"Udah! Bentar lagi!" Sahut dimas.
"Udah nih!" Teriak dimas. Niar kembali membantu Dimas untuk kembali ke tempat tidur.
"Lu butuh apa? Biar gue ambilin! "
"Enggak!" Dimas menggeleng.
"Oh.. Iya, tadi gimana ceritanya kok bisa di keroyok preman?" Tanya niar yang penasaran.
"Gue enggak sengaja nabrak teman mereka saat gue hendak menuju parkiran di restoran kencana. Gue udah minta maaf saat itu juga. Tapi, ternyata mereka enggak terima dan jadilah pengeroyokan itu."
"Cuma hal sepele itu?"
"Iya... Mereka semua isi dompet gue! Ya enggak gue kasih lah!"
"Makasih ya! Lu udah datang tepat waktu saat itu!" Ucap Dimas.
"Iya!" Sahut niar."lu mau makan enggak? Tadi teman-teman lu bawain lu makan tuh!" Niar menunjuk nasi box yang ada di atas meja.
"Boleh!"
"Nih! Bisa makan sendri kan?" Tanya niar sambil menyodorkan nasi box itu.
Mereka makan berdua dengan diam, sesekali mereka bicara seadanya.
"Selesai makan, gue mau nyusulin mereka ke luar!" Ucap Niar.
"Biarin aja! Nanti juga balik lagi! Tolong ambilin gue minum dong!"
Dengan menurutnya Niar mengambilkan minum untuk Dimas. Saat Niar ingin memberikan air mineral ke Dimas, saat itu juga ponselnya berdering. Niat hati ingin segera mengambil ponselnya, naasnya Niar terpleset. Alih-alih menolong niar agar tidak tersungkur, justru Niar jatuh dan menimpa tumbuh Dimas.
Jarak yang begitu dekat membuat jantung Niar berdetak tak beraturan.
"Astaga! Ada apa dengan jantung ku? Apa aku harus memeriksakan diri ke dokter hasan?" Batin Niar.
"Aku minta maaf atas sikap ku selama ini! Dan... Sekali lagi terimakasih!" Ucap Dimas.
Niar memejamkan matanya saat deru nafas Dimas menyapu wajahnya.
"I-iya" Sahut Niar. Dia tak berani menatap menatap Dimas, ia memilih menurunkan pandangan nya.
Tak di sangka-sangka, Dimas melabuhkan kecupan ke pipi Niar. Sontak niar mengangkat kepalanya dan memegangi pipinya.
"A-aku ma-mau nyusul Sisil!" Ucap Niar yang gugup.
"Mereka semua sudah pulang!" Dimas menahan tangan Niar. "Nih baca sendri isi chat nya!" Dimas menunjukan pesan yang dikirim Roky.
Niar menghentakkan kakinya ke lantai, dengan wajah yang cemberut. Dimas hanya mengulum senyum saat melihat ekspresi Niar yang bete.
__ADS_1
*
*
*
*
*
Setelah membersihkan diri, Reva menemui Rafi yang ada di ruang tengah.
"Duduk sini!" Rafi menggeser duduknya.
"Ada apa?"
Rafi merapikan rambut Reva dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Ini tentang kita!" Ucap Rafi.
"Kita? Kenapa?"
"Ini untuk yang kesekian kalinya aku tanya tentang perasaan mu kepda ku Va!"
'Perasaan ku masih sama Fi!'sahut Reva dari dalam hati.
"Setelah kamu tau semua nya, apa kamu masih tidak ada perasan untuk ku? Walau hanya sedikit saja? Aku mau jawaban dari lubuk hati mu!"
"Fi... Jujur aku... " Reva menjeda ucapan nya, "aku... Sebenarnya juga ada rasa sama kamu! Tapi aku takut sama mama mu! Mama mu pernah bilang jika kamu akan di jodohkan. Maka dari itu aku selalu menolak mu. Maafkan aku Fi. Yang tak bisa jujur dengan perasaanku sendiri."
"Sekarang tak ada alasan lagi kan untuk menolak ku?" Rafi menggenggam erat kedua tangan Reva.
Reva terdiam, ia menatap dalam manik mata Rafi. Tak lama Reva menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat Rafi menarik Reva kedalam pelukannya. "Terimakasih Va! Terimakasih!" Rafi berulang kali melabuhkan kecupan di kening Reva.
"Fi... Lepas! Aku enggak bisa nafas!" Reva berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafi.
"Maaf... Maaf!" Rafi pun langsung melepaskan Reva.
"Mau ke mana?" Tanya Rafi saat Reva beranjak dari duduknya.
"Mau ke dapur!ambil minum! " Sahut Reva dan langsung meninggalkan Rafi.
Niat awal ingin ambil air minum, tapi sesampainya di dapur, Reva merasa lapar. Karena tidak ada makanan, akhirnya Reva membuat mie instan.
Karena Reva tak kunjung kembali, Rafi pun menyusul Reva ke dapur. Tanpa aba-aba Rafi memeluk Reva dari belakang. Reva yang sedang merebus mie itu pun terkejut.
"Rafi!"
"Katanya ambil minum! Kok lama?" Tanya Rafi tanpa melepaskan pelukannya.
"Hehe... Aku lapar! Aku buat mie untuk kita berdua loh!" Reva sedikit menoleh ke belakang.
Setelah mie nya matang, meraka menyantap nya. Satu piring untuk berdua, itu pun atas usulan Rafi. Di saat asik makan, ternyata mie yang mereka makan itu saling menyambung. Dengan perantara mie itu, kedua bibir mereka saling bertemu.
__ADS_1