
Karena semalam Reva tidak pulang , jadi pagi ini dirinya berangkat ke sekolah dari rumah sakit.
"Kamu gak berangkat? Tanya lastri, nanti kamu terlambat ke sekolahnya. "
"Sebentar lagi nek! " Sahut Reva sambil menyuapkan bubur ke mulut neneknya.
"Nenek harus makan yang banyak! "
"Biar nenek cepat sembuh! " Oceh Reva.
"Kamu juga harus makan! " Tangan Lastri menahan sendok yang sudah dekat dengan mulutnya.
"Iya nek, nanti Reva akan di sekolah saja. " Dengan telaten Reva menyuapi neneknya, hingga bubur di dalam mangkuk itu tak tersisa.
"Nek, Reva tinggal berangkat ke sekolah dulu ya? "
"Nanti kalau nenek perlu apa-apa, nenek bisa minta tolong sama suster! " Reva mencium punggung tangan sangat nenek.
"Iya sayang, Hati-hati di jalan! " Ucap Lastri.
Di sebuah jalan raya terjadi sebuah kecelakaan , sehingga menyebabkan ke macetan yang cukup panjang.
"Ahh... Sial terjebak macet lagi! " Umpat Rafi yang sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya. Rafi mencoba turun dari mobilnya dan mendekati petugas kepolisian yang bertugas di sana.
"Pak, apa evakuasinya masih lama? " Tanya Rafi kepada petugas kepolisian.
"Masih dek! Jawab polisi itu, lebih baik adik putar balik saja agar tidak terlambat ke sekolahnya! " Saran dari pak polisi.
"Iya Pak terimakasih! " Rafi kembali ke mobilnya.
Kalau bisa putar balik, udah dari tadi gue putar balik! Batin Rafi.
Karena posisi mobil Rafi di tengah-tengah, sehingga sangat sulit dan tidak memungkinkan untuk dirinya putar balik.
"Mana ada ulangan lagi! " Rafi mengacak rambutnya sendiri.
Rafi masuk kembali ke dalam mobilnya , dan mencoba menghubungi teman-temannya.
"Kemana sih mereka berdua? Kenapa tidak ada yang mengangkat telfon gue! " Omel Rafi sambil melempar ponselnya ke jok sebelah kiri.
"Itu kan cupu? " Rafi melihat Reva mengayuh sepedanya yang melewati barisan mobil. Tanpa pikir panjang Rafi langsung keluar dari mobil dan mengejar Reva.
"Woy... Cupu! " Teriak Rafi sambil mengejar Reva.
Reva langsung berhenti , saat bagian belakang sepeda nya ada yang menarik.
"Lu gak denger apa gue panggil dari tadi? " Tanya Rafi .
"Sorry, gue gak denger! " Jawab Reva .
"Alesan lu! Gue nebeng ke sekolah! " Ucap Rafi tanpa berbasa-basi.
"Gue gak salah denger kak? " Tanya Reva sambil membenarkan kacamatanya.
"Lu gak lihat! Mobil gue terjebak macet! " Rafi menunjuk mobilnya.
"Ohh... Itu sih urusan kakak! " Sahut Reva dan akan bersiap mengayuh sepedanya lagi.
"Berani lu ya sama gue? " Ucap Rafi yang geram dengan jawaban Reva.
"Kenapa kakak gak telfon kedua teman kakak yang resek itu? " Tanya Reva.
"Udah , tapi gak ada yang jawab telfon gue! " Jawab Rafi.
__ADS_1
"Gue ada ulangan nih! Keburu telat nanti! " Rafi menunjuk jam tangannya.
"Ya udah nih! " Reva turun dari sepeda.
"Jadi bareng gak? " Tanya Reva yang melihat Rafi hanya diam saja.
"Jadi lah! " Jawab Rafi.
"Buruan kakak bonceng gue ! Keburu siang ini! " Ucap Reva .
"Ogah, gue gak bisa naik sepeda ! " Rafi membuang wajahnya ke samping.
"Cowok apaan gak bisa naik sepeda ! " Ledek Reva.
"Buruan naik! Gue tinggal nih! " Ucap Reva .
Tanpa menjawab Rafi langsung duduk di boncengan sepeda Reva. Rafi juga menitipkan mobilnya kepada polisi yang sedang bertugas .
"Cepat dong! Lelet amat sih, kaya siput! " Omel Rafi dari belakang.
"Bisa diam gak sih? "
"Badan lu tuh berat! Kebanyakan dosa ya? " Sahut Reva sambil mengayuh sepedanya.
"Sembarangan aja kalau ngomong! " Rafi menarik rambut Reva dari belakang.
"Awu... Sakit! " Celetuk Reva.
"Masak gini aja sakit? " Rafi kembali menarik rambut Reva. Kemudian Rafi mencium tangannya sendri, "harum" Batin Rafi.
"Kalau susah aja minta tolong! " Omel Reva.
"Lu gak ikhlas nolongin gue? " Tanya Rafi.
"Pikir aja sendiri! " Sahut Reva.
"Kok berhenti sih? Tanya Rafi, gue bisa terlambat nanti! "
"Gue capek! " Sahut Reva yang mengatur nafasnya.
"Ahh... Payah lu! Gitu aja udah capek! "
"Sini biar gue yang ganti boncengin lu! " Rafi mengambil alih posisi Reva.
"Buruan naik! " Perintah Rafi.
Dengan ragu Reva menurut, ia juga tidak mau terlambat datang ke sekolah.
"Yang bener dong bawa sepedanya! " Omel Reva.
"Jangan bawel! " Sahut Rafi yang berusaha berkonsentrasi penuh. Pertama kalinya dalam sejarah Rafi naik sepeda pancal.
"Jangan belok-belok, yang lurus! " Omel Reva .
"Bisa diam gak sih! " Rafi menoleh sedikit ke belakang, sehingga tak fokus pada jalan.
"AWAS! " teriak Reva dan...
BARKK....
Karena menabrak trotoar , Rafi dan Reva terjatuh dari sepeda.
"Awu! " Rintih Reva sambil mengusap lututnya yang luka.
__ADS_1
"Gara-gara lu nih! Jadi jatuh kan! " Maki Rafi yang tak memperdulikan Reva. Padahal dia tau jika lutut Reva terluka.
"Udah sini biar gue yang gonceng! " Reva bangkit dan mengambil sepedanya.
Sungguh Rafi cowok yang tak punya hati. Membiarkan Reva yang mengayuh sepeda, dengan kaki yang terluka.
Rafi melompat turun dari boncengan dan berlari ke depan gerbang yang baru saja di tutup oleh satpam.
"Pak... Pak, bukain dong! " Ucap Rafi.
"Iya Pak! " Sahut Reva.
"Kalian sudah telat sepuluh menit! " Ucap satpam yang membuka pintu gerbang.
"Lari lapangan sepuluh kali putaran! "Perintah pak Agung yang muncul secara tiba-tiba.
" Tapi pak? " Ucap Rafi.
"Lari sekarang atau saya tambah hukumannya? " Sahut pak Agung.
Tak ingin menambah hukuman, Rafi dan Reva berlari mengitari lapangan. Reva sesekali meringis menahan rasa sakit di lututnya.
"Ini semua gara - gara lu! " Ucap Rafi yang terus berlari.
Reva memilih untuk diam tak meladeni ucapan Rafi.
Ini semua gara-gara lu dan sepeda butut lu itu! Lihat saja nanti!Lu harus membayar semua rasa malu gue! Batin Rafi sambil mengepalkan tangannya. Rafi malu karena menjadi tontonan siswa lain yang sedang melakukan jam olahraga.
Karena sudah lelah, Reva berhenti secara mendadak. Sehingga Rafi yang ada di belakangnya menabrak Reva. Mereka jatuh bersama, dengan posisi Rafi menindih tubuh Reva.
"KAMU! " Rafi menatap tajam Reva , begitu juga dengan Reva yang menatap Rafi . Mereka cukup lama saling beradu pandang . Suara dari peluit pak Agung lah yang menyadarkan mereka.
Priiiiitttttt...
Suara nyaring dari peluit itu, mampu membuat gendang telinga kita yang mendengarkan menjadi rusak.
"Kalian ya! Di suruh lari keliling lapangan malah asik berduaan . " Pak Agung berkacak pinang.
Mereka berdua langsung bangkit dan berdiri tegap, dengan posisi kepala mereka tertunduk.
"Cepat kalian masuk ke kelas masing-masing! Perintah pak Agung, atau saya tambah lagi hukumannya? " Tanya pak Agung.
"Tidak pak! " Sahut mereka kompak dan langsung berlari menuju kelas masing-masing.
"Dasar anak jaman sekarang, di suruh lari keliling lapangan malah asik pacaran! "
"Sebenarnya ini sekolahan atau tempat pacaran sih? "
"Banyak banget murid-murid nya yang suka mojok berduaan. " Omel pak Agung yang beberapa kali memergoki murid lainnya sedang mojok berduaan.
"Saya yang sudah berumur saja belum pernah! " ucap pak Agung dengan mimik muka bersedih.
"Tumben lu terlambat? " tanya Roky yang satu bangku dengan Rafi.
"Ini semua gara-gara si cupu itu! " jawab Rafi.
"Memangnya kenapa? " tanya Roky lagi.
Rafi menceritakan semua rentetan kejadian yang ia alami tanpa terkecuali.
"Gue harus kasih pelajaran sama tuh bocah cupu! " tangan Rafi meremat kertas hingga tak terbentuk.
"Gue setuju! kita akan eksekusi nanti jam istirahat! " sahut Roky.
__ADS_1
Rafi end the geng merencanakan sesuatu .
Aduh Rafi... Rafi! sudah untung di tolong Reva! masih juga mau berbuat jahat. Memang tak tau terimakasih ya si Rafi!