
Reva menatap Rafi , hatinya terenyuh saat mendengar ucapan Rafi yang tulus. Namun, Reva tak bisa berkata apapun, lidahnya keluh, hatinya berdebar. Dalam hati ingin menjawab 'iya' namun pikirannya berkata lain.
Reva menunduk, dirinya tak sanggup menatap Rafi lebih lama lagi. Semakin lama ia menatap Rafi harinya semakin gusar."aku mau pulang!" Ucap Reva lirih.
"Oke, kita pulang sekarang!" Rafi menyalakan mesin mobilnya. Di sepanjang jalan menuju rumah Reva hanya ada kesunyian di dalam mobil itu.
"Makasih ya Fi!" Ucap Reva sebelum turun dari mobil. Rafi hanya menganggukkan kepalanya.
"Va, tunggu ada yang ketinggalan!" Ucap Rafi yang membuat Reva berhenti di depan pintu rumah nya.
Reva menoleh dan memeriksa isi tasnya.
"Semua ada! Lalu apa yang ketinggalan?" Gumam Reva.
Rafi keluar dari mobil , dan menghampiri Reva dengan kedua tangan yang disimpan di belakang tubuhnya.
"Perasaan enggak ada deh yang ketinggalan!" Ucap Reva saat Rafi mendekat.
"Nih yang ketinggalan!" Rafi memberikan buket bunga mawar dan boneka teddy yang ada tulisannya 'i love u'.
"Apa ini maksudnya?" Tanya Reva yang masih enggan menerima.
"Enggak ada maksud apa-apa! Kamu boleh menolak cinta ku, tapi jangan tolak juga pemberian ku ini!" Ucap Rafi.
Dengan ragu-ragu Reva menerima buket bunga dan boneka teddy itu.
"Makasih ya!" Ucap Reva lirih.
Rafi mengangguk, "sudah sana masuk!" Ucap Rafi.
Reva menurut, ia segera masuk ke dalam rumah nya. Setelah pintu tertutup Reva bersandar di pintu, dengan gerakan pelan Reva mengintip Rafi dari balik gorden jendela rumah nya.
Reva mengunci pintu setelah mobil Rafi benar-benar pergi dari halaman rumahnya.
Sebelum ke kamarnya Reva menengok nenek nya. Reva tak ingin menganggu neneknya yang sedang tidur, ia hanya mengintip di balik pintu.
Setelah dari kamar sang nenek, Reva langsung masuk ke kamarnya sendiri, ia rebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, dengan tangan yang masih memegang buket bunga dan boneka teddy.
"Maaf ya Fi! Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa menjawab pertanyaan cinta mu! Sebenarnya hati ini sakit Fi! Sakit harus mengubur perasan ini! Tapi apalah daya ku, aku bukan yang terbaik untukmu! Aku bukan orang yang tepat untuk kamu cintai! Kamu tak perlu tau tentang perasanku terhadapmu !" Ucap Reva yang mengutarakan isi hatinya melalui boneka teddy, seolah-olah boneka teddy itu Rafi.
"Biar ku simpan rasa ini sendrian!" Ucap Reva sambil memeluk erat boneka teddy itu.
Puas memeluk boneka itu, Reva menyeka matanya yang basah. "Hey... Teddy! Aku akan memberimu nama! Rafi! Nama mu Rafi dan kamu akan menjadi Rafi ku, karena aku tak bisa memiliki Rafi yang sesungguhnya!" Setelah mengucapkan itu Reva memeluk boneka itu dengan erat di sertai dengan isak tangis, hingga Reva terlelap dalam mimpi.
Tak terasa malam pun berganti dengan pagi. Reva sudah bersiap dengan seragam yang rapi. Saat Reva keluar kamar rumah masih terlihat sepi.
"Tumben nenek belum bangun!" Gumam Reva.
__ADS_1
Reva ingin memastikan keadaan sang nenek. Saat akan membuka pintu kamar neneknya, Lastri terlebih dulu membukanya, "sayang kamu sudah rapi sekali!" Ucap Lastri dengan seulas senyum.
"Nenek sakit?" Tanya Reva dengan khawatir.
"Enggak! Nenek baik-baik aja! Hari ini kamu akan ikut lomba kan?" Ucap Lastri.
"Iya nek! Kita ke rumah sakit ya nek! Wajah nenek pucat!" Ucap Reva.
"Enggak usah! Nenek hanya masuk angin aja! Minum teh hangat juga sudah baikan!" Ucap Lastri.
"Kalau gitu Reva buatin teh hangat dulu ya nek!" Reva langsung menuju dapur untuk membuat teh.
"Ini nek di minum dulu!"ucap Reva sambil meletakan secangkir teh di atas meja makan.
"Sudah sana kamu berangkat, jangan khawatirkan nenek!" Ucap Lastri.
"Iya nek! Nenek jangan lupa minum obat ya! Obat nya masih kan?" Ucap Reva.
"Masih kok!" Lastri berbohong, karena sudah satu minggu ini dirinya tak lagi minum obat yang di anjurkan oleh dokter Hasan.
"Kalau gitu Reva berangkat ya nek!" Pamit Reva.
Reva berangkat menuju gedung tempat dimana lomba dilaksanakan.
Sedangkan Lastri, setelah Reva berangkat tak lama kemudian Lastri juga keluar rumah untuk berangkat kerja. Lastri memaksakan kondisi tubuhnya yang kurang fit itu untuk tetap bekerja.
"Nek Lastri sakit?" Tanya bu Bambang, majikan dari nek Lastri.
"Ah.. Enggak bu! Saya cuma sedikit pusing!" Jawab Lastri sambil terus menyapu.
"Kalau sakit istirahat aja nek!" Ucap bu Bambang.
"Iya bu! Tapi saya masih kuat kerja!" Ucap Lastri.
"Ya udah kalau gitu saya tinggal antar anak-anak ke sekolah ya!" Pamit bu Bambang yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Lastri.
Di tempat lain Reva sedang duduk bersama dengan guru pendamping, menunggu kedatangan nya Rafi.
"Selamat pagi bu!" Ucap Rafi.
"Pagi! Duduk sini!" Bu Mumun menggeser duduknya.
Duduk bersandingan. Namun, Reva maupun Rafi tak saling tegur sapa. Bahkan, mereka enggan untuk bicara.
"Ingat ya kalian harus kompak! Nama sekolah kita ada di tangan kalian!" Ucap bu Mumun.
"Iya bu!" Jawab Reva dan Rafi dengan kompak.
__ADS_1
Tepat jam sembilan pagi lomba di mulai.
Babak pertama Rafi dan Reva tertinggal lima poin.
"Are you oke?" Tanya Rafi.
Reva mengangguk pelan.
"Jangan bohong! Aku lihat jika kamu gelisah! Apa yang membuat mu seperti ini? Dari awal aku perhatikan kamu gak fokus! Kamu lihat itu!" Rafi menunjuk layar penghitung poin."kita tertinggal lima poin!" Lanjut Rafi dengan nada yang kecewa.
"Maaf!" Ucap Reva sambil tertunduk.
"Di babak yang kedua kita harus bisa mengumpulkan poin sebanyak mungkin!" Ucap Rafi yang mendapat anggukan kepala dari Reva. "Apa yang menganggu pikiran mu? Coba cerita , siapa tau aku bisa membantu mu!" Ucap Rafi sambil memegang kedua bahu Reva.
Reva menatap Rafi sekilas setelah itu ia kemabli tertunduk, "aku kepikiran nenek! Perasaan ku enggak enak, aku takut terjadi sesuatu sama beliau!" Ucap Reva.
"Positif thinking aja! Semoga nenek mu gak kenapa-napa!" Ujar Rafi.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya! Aku akan menghubungi orang ku untuk melihat keadaan nenek mu di rumah!" Ucap Rafi, setelah itu Rafi menemui bu Mumun karena ponsel miliknya di titipkan ke bu Mumun.
Setelah menghubungi orang suruhannya, Rafi kembali ke tempat lomba. Karena lima menit lagi babak kedua akan segera di mulai.
"Gimana?" Tanya Reva.
"Beres! Sekarang kamu harus lebih fokus! Kita pulang harus membawa piala itu!" Ucap Rafi sambil melirik ke arah piala yang tertata rapi di atas meja.
Reva pun mengangguk dengan seulas senyum.
Dan, benar saja di babak kedua ini Reva menjawab semua pertanyaan dengan mudah dan benar. Sehingga bisa menyalip lawannya.
Poin yang di peroleh Rafi dan Reva sangat unggul dari team yang lain. Sehingga team Rafi lah yang menjadi pemenang nya.
"Kita menang Fi!" Ucap Reva dengan girang.
"Reva!" Ucap bu Mumun.
"Iya bu!" Sahut Reva.
"Ponselmu dari tadi berdering terus , sepertinya penting! Kamu angkat dulu gih!" Bu Mumun menyerahkan ponsel Reva.
"Bu Bambang!" Gumam Reva saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
bersambung.....
JANGAN LUPA LIKE&KOMEN! 😉
BACA JUGA YUK NOVEL TERBARU KU "ISTRI YANG BISU"
__ADS_1