2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps.35


__ADS_3

Rafi mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam rumah yang tampak rame.


"Ada apa ini Ma? " Tanya Rafi yang baru datang. Rafi berjongkok di hadapan Mamanya yang menangis.


"Ma, ada apa ini? " Tanya Rafi lagi. Namun sayangnya mamanya tak membuka suara sedikit pun. Sehingga Rafi mencari jawaban kepada orang rumah.


"Bik, ada apa ini? Apa yang membuat mama menangis? " Tanya Rafi yang sudah berdiri dari jongkok nya.


"Itu tuan muda! nyonya menerima surat dari sahabat nyonya. Tuan dan nyonya sangat syok saat membaca isi surat itu! " Jelas bibi.


"Maksud bibi surat dari tante Elis?Lalu di mana papa ? " Tanya Rafi yang tidak melihat adanya sang ayah di ruang tamu itu.


"Di ruang monitor CCTV tuan, bersama dengan orang-orang yang baru datang" Jawabnya.


Tak menunggu lagi Rafi langsung menyusul ke ruangan monitor. Rafi membuka pintu dengan kasar.


BRAK


Semua orang yang ada di dalamnya menoleh kearah pintu.


"Rafi" Ucap Guntur.


"Apa tante Elis sudah di temukan? " Tanya Rafi yang mendekati papanya.


Guntur hanya menggelengkan kepala nya.


"Tuan! Wajahnya tidak begitu jelas. Tapi kami akan terus berusaha mencari keberadaan anak ini ! " Ucap anak buah Guntur.


"Anak?anak siapa Pa? " Tanya Rafi.


"Anak itu yang mengantar surat itu ke sini. Jadi pasti dia tau tentang Elis " Jawab Guntur yang menunjuk ke layar komputer.


Awalnya Rafi hanya melihat layar komputer itu sekilas, namaun saat melihat sekelebat perempuan yang ada di rekaman itu ia langsung memperhatikan dengan jeli.


Cupu! Satu kata yang di batin Rafi.


"Kamu tau anak itu? " Tanya Guntur yang mengagetkan Rafi.


Tak mau memberi harapan palsu kepada orang tuanya Rafi pun menggeleng, " Enggak pa! " Ucap Rafi yang melirik ke layar komputer.


"Lakukan pencarian anak itu besok! Kalau perlu saat ini juga! " Perintah Guntur.


"Siap tuan! " Ucapnya.


Rafi keluar dari rungan monitor itu bersama dengan papanya dan juga orang-orang suruhan Guntur.


"Ma! " Rafi memeluk Maya yang masih betah menangis. " Mama jangan nangis lagi dong! Pasti orang-orang papa itu bisa menemukan keberadaan tante Elis " Ucap Rafi yang berusaha menghibur mamanya.


Bukanya mereda, tangis Maya semakin menjadi dan itu membuat Rafi jadi bingung. Rafi menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pergi ke kamar mu! Mama mu biar menjadi urusan papa" Ucap Guntur.


"Baik pa" Rafi menurut ia melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


Setibanya di kamar Rafi menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Apa benar itu cupu? Tapi apa hubungan nya cupu dengan tante Elis, sahabat mama! Memang sih wajah Reva hampir mirip dengan tante Elis, tapikan nama ibunya Yanti bukan Elis! " Rafi bergunam seorang diri.


♥*♡∞:。.。  。.。:∞♡*♥


"Terimakasih ya Honey! " Ucap Sisil sebelum keluar dari mobil Roky.


Roky pun mengangguk dan tersenyum.


"Kamu beneran gak mau mampir? " Tanya Sisil.


"Lain kalau saja ya? Aku gak nyaman banget dengan baju basah ini! " Ucap Roky.


"Ya udah nanti kalau sampai rumah cepat kabari aku ya? "


"Iya sayang! " Sahut Roky.


Sisil pun keluar dari mobil Roky. Sisil menunggu mobil Roky pergi terlebih dulu baru ia masuk ke halaman rumahnya.


"Wihhh... Non Sisil yang baru di antar sama pacar barunya" Goda mbok Jum.


"Suut! Jagan keras-keras mbok! Nanti papa denger! " Ucap Sisil sambil melihat keadaan sekitar.


"Tamu mbok? Cewek tau cowok? " Tanya Sisil.


"Cewek sama cowok sih Non! " Jawab mbok Jum.


"Pasti teman-teman papa ingin mencarikan jodoh ke dua untuk papa. Hemm... Gak bisa di biarin ini! " Ucap Sisil lirih.


"Mereka ada di mana mbok? " Tanya Sisil.


"Ada di ruang tengah Non " Jawab mbok Jum.


"Makasih ya mbok! " Ucap Sisil dan langsung menuju ruang tengah.


"Pa... Papa! " Sisil sengaja berteriak .


"Ada apa nak? Jangan teriak-teriak gitu dong! Papa lagi ada tamu! " Ucap pak Hendra papa Sisil.


"Ups.. Sorry! " Ucap Sisil yang manja.


"Kamu mandi dulu lalu ikut kita makan malam, oke! " Ucap Hendra.


"Oke! " Sahut Sisil sambil melirik kedua tamu papanya.

__ADS_1


"Ternyata kau punya seorang putri yang sangat cantik Hen" Ucap tamu laki-laki itu sambil melihat kepergian Sisil.


"Iya Guh, Dia putri semata wayang ku ! Maaf ya atas sikapnya yang kurang sopan! " Ucap Hendra yang tak enak hati dengan tamu nya itu.


"Gak papa pak Hendra! " Ucap tamu perempuan.


"Oh.. Iya Hen, gimana kalau kita besanan? Aku kan punya dua anak cowok, kamu bisa pilih salah satu dari anak ku! Iya kan Bun? " Ucap Teguh .


"Kamu ini ada-ada saja Guh! Anak ku masih terlalu kecil, lagi pula dia juga baru masuk bangku SMA! " Sahut Hendra.


"Itu maslah gampang Hen! Yang penting kita jodohkan saja dulu anak kita. Gimana bun? Bunda setuju kan? " Teguh pun minta pendapat sang istri.


"Bunda sih ngikut aja Yah! Kalau anak pak Hendra mau dan anak kita juga mau, ya itu lebih bagus lagi. Tapi ingat ya Yah! Kita tidak boleh memaksa mereka" Ucap Bunda Tika.


♥*♡∞:。.。  。.。:∞♡*♥


Sisil mondar-mandir di dalam kamar sambil memikirkan rencana.


"Ayo dong sisil mikir! Gimana supaya wanita itu ilfil sama papa! " Gunam Sisil.


"Aduh ada apa dengan otak ku ini ya? Kenapa tidak bisa menemukan ide walaupun sedikit saja" Gerutu Sisil.


"Mending gue mandi dulu deh" Sisil meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.


Baru juga keluar dari kamar mandi namanya sudah di panggil .


"Non! Non Sisil! Di panggil bapak Non! " Mbok Jum mengetok pitu kamar Sisil berulang kali.


"Iya mbok sebenar! Aku masih mau ganti baju! " Sahut Sisil dari dalam kamar.


Bagaimanapun caranya wanita itu gak boleh deket sama papa! Aku gak rela jika papa menikah lagi, aku gak mau punya ibu tiri! Gumam Sisil dari dalam hati.


Sisil sengaja tidak segera keluar dari kamarnya. Setelah selesai berpakaian dan merias tipis wajahnya, ia memilih bertelfon ria dengan kekasihnya hingga mbok Jum harus memanggilnya lagi.


"Non! Non Sisil! " Mbok Jum mengetuk pintu kamar Sisil.


Sisil tak menyahut panggilan mbok Jum, tapi dirinya langsung membuka pintu kamar, " Apa sih mbok! Kok teriak-teriak! "Ucap Sisil dengan ponsel yang masih menempel di telinga nya.


" Itu Non! Sudah di tunggu bapak! " Sahut mbok Jum.


"Iya ini juga mau turun! " Ucap Sisil, "honey, aku tutup dulu ya telfonnya! Aku sudah di tungguin papa! Bay honey! Emmuachh" Sisil mengecup layar ponselnya.


Mbok Jum hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya saat melihat tingkah Sisil.


Sisil menuruni anak tangga dengan sedikit berlari, " Maaf ya pa! sudah menunggu lama " Ucap Sisil dan langsung duduk di sebelah papa Hendra.


Bersambung.....


Jangan lupa like, komen dan favorit ya 😉

__ADS_1


Berikan sedikit hadiah dan juga vote agar aku lebih rajin lagi up nya. Aku juga ucapkan terimakasih untuk yang sudah baja karya ku ini 🤗😉


__ADS_2